Oleh: Arina Nur Azizah, Calon Ketua Umum HMI Cabang Sukoharjo
HMI Cabang Sukoharjo hari ini harus berani jujur pada dirinya sendiri. Kita tidak sedang berada dalam kondisi yang sepenuhnya sehat. Kita merasakannya di komisariat, di ruang-ruang Latihan Kader, dan terutama setelah kader dinyatakan “lulus” tetapi dibiarkan berjalan tanpa arah. Ada kegelisahan yang tumbuh diam-diam, ada kader yang bertahan karena cinta, tetapi tidak sedikit yang pergi karena kecewa.
Di komisariat, kita melihat semangat kaderisasi yang timpang. Ada komisariat yang merasa berjalan sendiri, jauh dari perhatian cabang. Ada kader yang hadir penuh idealisme, tetapi kehilangan ruang untuk tumbuh. HMI yang seharusnya menjadi rumah pembelajaran, perlahan terasa sebagai ruang administratif, hidup di agenda kegiatan saja, tetapi kering dalam pendampingan.
Dalam Latihan Kader, kita terlalu sering puas pada formalitas. Materi selesai, sertifikat dibagikan, tetapi kesadaran ideologis tidak selalu mengakar. Lebih menyakitkan lagi, pasca-LK sering menjadi ruang hampa. Kader yang seharusnya disambut, diarahkan, dan dikonsolidasikan, justru dibiarkan mencari jalannya sendiri. Inilah luka kaderisasi yang jarang kita akui, tetapi dampaknya nyata.
Nietzsche mengingatkan bahwa nilai akan mati ketika ia dijalani tanpa kesadaran. Dan HMI hari ini harus bertanya pada dirinya sendiri: apakah kita sedang membentuk kader yang sadar, atau hanya kader yang patuh pada mekanisme?
Budaya senioritas yang seharusnya melahirkan keteladanan, kadang berubah menjadi alat pembungkaman. Pendapat kader muda dipatahkan bukan oleh argumen, tetapi oleh posisi. Forum-forum yang seharusnya mendidik keberanian berpikir, justru melatih ketakutan untuk berbeda. Kita harus berani mengatakan: HMI tidak boleh membesarkan kader yang diam karena takut, tetapi kader yang kritis karena sadar.
Dalam situasi ini, kader perempuan sering kali menanggung beban berlapis. Bukan karena kurang kapasitas, tetapi karena ruangnya dipersempit oleh cara pandang lama. Masih ada bisik-bisik yang meragukan, masih ada standar ganda dalam menilai kepemimpinan. Padahal kaderisasi sejati adalah kaderisasi yang adil yang memberi ruang setara bagi siapa pun yang berkomitmen dan berintegritas.
Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa etika organisasi tidak diukur dari seberapa kuat kekuasaannya, tetapi dari seberapa manusiawi relasi di dalamnya. HMI Cabang Sukoharjo tidak boleh menjadi organisasi yang kuat ke luar tetapi rapuh ke dalam. Tidak boleh lantang berbicara keadilan, tetapi abai pada keadilan internalnya sendiri.
Soe Hok Gie pernah menulis bahwa organisasi yang besar adalah organisasi yang berani mengoreksi dirinya sendiri, meski harus melawan kebiasaan lama. Maka hari ini, kita tidak sedang mencari siapa yang menang, tetapi apa yang harus diselamatkan. Dan yang harus diselamatkan adalah kaderisasi—sebagai jantung, sebagai ruh, sebagai masa depan HMI Cabang Sukoharjo.
Kita menawarkan kepemimpinan kolektif yang memulihkan. Kepemimpinan yang mengembalikan komisariat sebagai basis kaderisasi, memperbaiki kualitas LK sebagai ruang kesadaran, memastikan pasca-LK sebagai ruang aktualisasi, menata ulang relasi senior-junior agar lebih etis dan mendidik, serta membuka ruang setara bagi kader perempuan untuk tumbuh dan memimpin.
Kemenangan ini bukan kemenangan individu. Ini adalah kemenangan kader komisariat yang ingin diperhatikan. Kemenangan kader pasca-LK yang ingin diarahkan. Kemenangan kader muda yang ingin berbicara tanpa takut. Dan kemenangan kader perempuan yang ingin dipercaya tanpa syarat.
Mari kita sudahi fragmentasi. Mari kita rapatkan barisan. Mari kita kembalikan HMI Cabang Sukoharjo sebagai rumah kaderisasi yang hangat, adil, dan berani.
Hari ini, kita memilih untuk bersatu. Kita memilih untuk mengesampingkan segala kepentingan selain kepentingan kaderisasi. Dan kita memilih untuk menyelamatkan masa depan HMI Cabang Sukoharjo—bersama, sebagai satu barisan.


















