Oleh: Thoriq Zhafar, Kabid Pendidikan HMI Cabang Semarang
Indonesia saat ini sedang menyiapkan generasi yang bersumber daya manusia berkualitas dalam menghadapi Indonesia emas 2045. Salah satu tantangan pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas adalah stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh dan kembang pada anak akibat kekurangan asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Dampak jangka pendek stunting adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik serta gangguan metabolisme. Sedangkan dampak jangka panjangnya adalah menurunnya kemampuan perkembangan kognitif otak anak, kesulitan belajar, kekebalan tubuh melemah sehingga mudah sakit, serta beresiko tinggi munculnya penyakit metabolik. Bahkan ketika dewasa nanti akan memiliki tubuh pendek, tingkat produktivitas yang rendah, serta tidak memiliki daya saing di dalam dunia kerja.
Ketika anak sekolah menerima gizi yang tepat sejak dini, mereka akan mendapatkan manfaat jangka panjang seperti perkembangan otak yang lebih baik, fungsi sistem kekebalan yang lebih kuat, dan harapan hidup yang lebih tinggi. Gizi yang baik tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Gizi yang baik dapat meningkatkan kualitas kelahiran dan mempromosikan pertumbuhan anak yang sehat secara langsung menghasilkan generasi yang cerdas, aktif, dan produktif. Selain itu, mengatasi ketidakamanan pangan dan malnutrisi berkontribusi pada terciptanya peluang ekonomi yang lebih adil dengan meningkatkan lapangan kerja dan mendorong wirausaha lokal.
Jika kita melihat angka kemiskinan nasional tahun 2024 (Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2025) yaitu 9,03 persen sedangkan target RPJMN Teknokratik pada tahun 2029 sebesar 4,5-5,0, maka diperlukan 11,3 juta jiwa yang harus dientaskan kemiskinannya sampai tahun 2029 untuk mengejar tingkat kemiskinan sebesar 5%. Maka dari itu program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi solusi dengan harapan memperbaiki pendidikan serta menghilangkan stunting.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dilihat sebagai salah satu kebijakan publik yang cukup efisien dari sisi ekonomi. Hal ini dapat dijelaskan melalui konsep efisiensi alokatif, teknis, dan dinamis. Dilihat dari efisiensi alokatif, program ini menunjukkan bahwa pemerintah mengarahkan penggunaan anggaran negara pada sektor yang memiliki manfaat sosial dalam jangka panjang, terutama untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak usia sekolah.Investasi pada pemenuhan gizi anak usia sekolah tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan saat ini, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan, sehingga alokasi anggaran tersebut dapat dinilai rasional dan strategis.
Jadi memang MBG bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan daripada masyarakat agar lebih merata. Salah satu persoalan utama terletak pada dimensi fiskal, terutama ketika alokasi anggaran negara yang signifikan tidak diimbangi dengan kapasitas tata kelola yang memadai. Dalam kondisi tertentu, kebijakan ini berpotensi menimbulkan ketidakefisienan, seperti pemborosan anggaran, meningkatnya biaya pelaksanaan, serta manfaat yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Pada umumnya program MBG sering dianggap sebagai kebijakan strategis yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan kedua yang berkaitan dengan penghapusan kelaparan dan peningkatan gizi. Selain itu, program ini juga dinilai sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Namun, kesesuaian tujuan tersebut belum tentu menjamin keberhasilan pelaksanaan kebijakan di lapangan. Masalah stunting dan gizi buruk dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi keluarga, sanitasi lingkungan, pola pengasuhan, serta akses terhadap layanan kesehatan, sehingga pemberian makanan saja belum tentu mampu menyelesaikan masalah secara menyeluruh.


















