Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Gen-ZOpini

Generasi Z dan Tantangan Kualitas Diri di Era Digitalisasi

×

Generasi Z dan Tantangan Kualitas Diri di Era Digitalisasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Theodorus Yanzens, S.S., M.M., Dosen Akademi Keuangan Dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa

Di era digitalisasi yang serba cepat, generasi muda khususnya Generasi Z, hidup di tengah dunia yang penuh peluang, tetapi juga penuh tekanan. Teknologi membuka akses tanpa batas terhadap informasi, pekerjaan, dan jejaring global. Namun, pada saat yang sama, persaingan hidup justru terasa semakin ketat.Banyak anak muda hari ini merasa tertinggal, tertekan, bahkan kehilangan arah. Fenomena resign, stres kerja, hingga kecemasan berlebihan menjadi cerita yang sering terdengar di sekitar kita. Dunia bergerak cepat, sementara tidak semua orang merasa siap berlari.Data Badan Pusat Statistik melalui Survei Angkatan Kerja Nasional menunjukkan bahwa tingkat pengangguran usia muda masih menjadi yang tertinggi dibanding kelompok usia lainnya. Artinya bahwa, jutaan generasi muda berada dalam posisi menunggu kesempatan yang belum juga datang. Di sisi lain, banyak perusahaan mengeluhkan sulitnya menemukan tenaga kerja yang benar-benar siap secara mental dan keterampilan.

Example 300x600

Kondisi ini memberi satu pesan penting, “kualitas diri menjadi kunci utama masa depan generasi muda”.

Kualitas Diri Lebih dari Sekadar Gelar

Selama ini, kualitas diri sering diukur dari ijazah, IPK, atau asal kampus. Padahal, dunia kerja hari ini menuntut lebih dari sekadar angka. Sikap, etika kerja, kemampuan beradaptasi, dan kemauan belajar justru menjadi penilaian utama.Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence, pernah menegaskan bahwa keberhasilan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional dibandingkan kecerdasan intelektual. Artinya disini, kemampuan mengelola emosi, bekerja sama, dan bertahan dalam tekanan sering kali lebih menentukan dibanding kepintaran semata.

Generasi Z perlu menyadari bahwa kualitas diri bukan soal menjadi paling pintar, tetapi soal menjadi paling siap.

Mental di Tengah Dunia yang Bising

Media sosial membuat hidup tampak seperti perlombaan. Kita melihat orang lain sukses, mapan, dan bahagia hanya dari layar kecil di tangan. Tanpa disadari, perbandingan ini menumbuhkan rasa kurang, cemas, bahkan putus asa.Psikolog Carol Dweck melalui konsep growth mindset mengajarkan bahwa kemampuan manusia tidak bersifat tetap, tetapi dapat terus berkembang melalui proses belajar. Pola pikir inilah yang sangat dibutuhkan generasi muda agar tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan. Mental yang kuat bukan berarti tidak pernah lelah, tetapi mampu bangkit tanpa kehilangan harapan.

Skill sebagai Bekal Bertahan

Di era digital, keterampilan menjadi mata uang utama. World Economic Forum dalam laporannya tentang masa depan pekerjaan menempatkan critical thinking, kreativitas, dan kecerdasan emosional sebagai keterampilan yang paling dibutuhkan di masa depan.Ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga harus mampu berpikir jernih, bekerja sama, dan berinovasi. Belajar hari ini tidak harus menunggu bangku kuliah. Kursus daring, komunitas belajar, proyek kecil, hingga pengalaman kerja sudah cukup menjadi ruang pembentukan kualitas diri—asal dilakukan dengan konsisten.

Fenomena Resign dan Stres Kerja

Banyak anak muda memilih resign bukan karena malas, tetapi karena lelah secara mental. Jam kerja panjang, tekanan target, dan lingkungan kerja yang kurang sehat menjadi pemicu utama.Beberapa laporan media berbasis data ketenagakerjaan nasional menunjukkan bahwa jutaan pekerja Indonesia bekerja di atas jam normal setiap minggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada kelelahan mental dan menurunnya motivasi kerja. Tidak heran jika istilah burnout kini semakin sering terdengar.

Namun, resign bukan solusi utama jika kualitas diri tidak ikut diperbaiki. Tanpa mental yang matang dan skill yang relevan, seseorang hanya berpindah masalah dari satu tempat ke tempat lain.

Persaingan Bukan untuk DitakutiPersaingan sering dianggap musuh. Padahal, persaingan adalah guru yang jujur. Persiangan akan menunjukkan seberapa siap kita menghadapi dunia.

Peter Drucker, tokoh besar manajemen dunia, pernah berkata bahwa cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya sendiri. Kalimat ini sangat relevan bagi generasi muda hari ini.

Generasi Z perlu mengubah sudut pandang: bukan takut kalah, tetapi siap belajar. Bukan ingin cepat sukses, tetapi mau bertumbuh. Bukan menunggu kesempatan, tetapi menciptakan peluang.

Peran Lingkungan dan PendidikanPengembangan kualitas diri tidak bisa berdiri sendiri. Keluarga, sekolah, kampus, dan lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membentuk mental generasi muda. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar nilai, tetapi membangun karakter.

Kementerian Ketenagakerjaan dalam berbagai laporannya juga menekankan pentingnya kesesuaian antara pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan dunia kerja. Artinya, generasi muda perlu dibekali bukan hanya ilmu, tetapi juga kesiapan hidup.

Menjadi Generasi yang Siap Hidup

Generasi Z adalah generasi dengan potensi besar: cepat belajar, terbiasa dengan teknologi, dan kreatif. Namun, potensi tanpa kualitas diri hanya akan menjadi peluang yang tidak pernah diwujudkan. Mengembangkan kualitas diri bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus memperbaiki diri. Membaca lebih banyak, belajar lebih tekun, menjaga sikap, melatih mental, dan berani keluar dari zona nyaman.

Di tengah persaingan dunia kerja dan usaha yang semakin keras, generasi muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pelaku, pencipta, dan penggerak karena pada akhirnya, kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Dan kualitas generasi muda ditentukan oleh seberapa serius mereka mau bertumbuh hari ini.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *