Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Mahasiswa

Ketika Realita Tak Sebaik Cita: Refleksi atas Jarak antara Harapan dan Kenyataan dalam Kehidupan Sehari-hari

×

Ketika Realita Tak Sebaik Cita: Refleksi atas Jarak antara Harapan dan Kenyataan dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072
Example 468x60

Oleh: Khusna Istikmamul Umma Afifi, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Salatiga

Harapan adalah bentuk optimisme. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa masa depan akan lebih baik, bahwa jerih payah hari ini akan berbuah manis di kemudian hari. Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya kerja keras tak membuahkan hasil yang diinginkan, cinta tak berbalas, atau mimpi tak kunjung menjadi nyata. Di sinilah kita menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang merancang cita, tetapi juga tentang menerima dan beradaptasi dengan realita.

Example 300x600

Dalam kehidupan, setiap manusia tentu memiliki harapan—tentang cita-cita, keinginan, atau impian—yang menjadi pendorong langkah dan penopang semangat dalam menjalani hidup. Namun, tidak jarang realitas justru menyuguhkan sesuatu yang jauh dari apa yang kita bayangkan. Perbedaan antara harapan dan kenyataan ini kerap melahirkan kekecewaan, kebimbangan, bahkan kehilangan arah. Menghadapi realita yang tak seindah cita memang tidak mudah. Dibutuhkan keberanian untuk menerima, ketabahan untuk bertahan, serta kebijaksanaan untuk menata ulang langkah. Hidup tidak akan berhenti hanya karena kenyataan tak sesuai harapan; justru ia akan terus berjalan. Maka dari itu, yang perlu kita pelajari bukan hanya bagaimana meraih harapan, tetapi juga bagaimana berdamai dengan kenyataan.

Realita yang tak seindah cita memang menyakitkan, tetapi bukan berarti kita harus berhenti berharap. Harapan tetap penting, karena tanpanya kita bisa kehilangan arah. Namun, yang perlu diubah barangkali bukan harapannya, melainkan cara kita berekspektasi terhadap alam dan takdir Tuhan, serta cara kita memaknai kegagalan dan kenyataan. Dari rasa kecewa, kita justru sering belajar banyak hal: tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang mengenal diri sendiri. Pada kenyataannya, menerima takdir dan realita bukan berarti menyerah, melainkan belajar berdamai dan melangkah kembali dengan pemahaman yang lebih dalam tentang hidup. Sebab, yang membuat kita kuat bukan hanya mimpi-mimpi besar, tetapi juga kemampuan untuk tetap melangkah meskipun kenyataan tak selalu berpihak.

Harapan adalah sesuatu yang manusiawi. Kita menggantungkan cita-cita setinggi langit karena ia memberi arah. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa kenyataan kerap tak setinggi harapan. Banyak hal tidak berjalan sesuai skenario yang ada di kepala. Kita mungkin gagal, tersesat, atau kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Di titik-titik seperti itulah kita mulai berefleksi: apakah harapan kita terlalu muluk, ataukah realita memang terlalu keras? Refleksi atas jarak antara harapan dan kenyataan membawa kita kembali pada dasar harapan itu sendiri. Mengapa kita berharap? Untuk siapa kita berjuang? Dan sejauh mana kita siap menerima jika hasilnya tak seperti yang kita bayangkan? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar kita tidak tenggelam dalam kekecewaan, melainkan mampu tumbuh dari kenyataan.

Pada akhirnya, realita yang tak seindah harapan bukan berarti hidup telah gagal. Bisa jadi, itulah bentuk kehidupan yang paling nyata—dengan warna yang bukan hanya berisi kejutan dan luka, tetapi juga pertumbuhan. Jarak antara harapan dan kenyataan bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami. Karena pada dasarnya, harapan bukanlah janji, melainkan pijakan. Hidup akan selalu memiliki caranya sendiri untuk menguji seberapa kuat kita berdiri.

Barangkali, kita perlu berhenti menggantungkan kebahagiaan semata-mata pada tercapainya harapan. Kebahagiaan sejati bisa jadi justru lahir dari penerimaan—dari kemampuan kita menemukan makna dalam setiap realita, betapapun pahit dan tidak idealnya. Karena dalam hidup, yang terpenting bukan hanya bagaimana kita bermimpi, tetapi bagaimana kita mampu bertumbuh melalui kenyataan yang kita hadapi. Jadi, meskipun realita tak sebaik cita, bukan berarti hidup menjadi tak layak dijalani. Bisa jadi, keindahan hidup justru terletak pada keberanian kita untuk terus bermimpi, meski tahu kenyataan tak selalu sempurna.

“Don’t be afraid of the destiny we live. No matter how bitter life feels, everything is part of the process we must go through. Remember, regardless of the bitterness we swallow, we are still ordinary people who are alive and continuing to try.”

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *