Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Rasisme Berkedok Candaan: Ketika Ngelucu Menjadi Senjata

×

Rasisme Berkedok Candaan: Ketika Ngelucu Menjadi Senjata

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Nur Brian Fahri Maheswara

“Jawa, Jawa, Jawa.”
Kalimat seperti ini sering kita dengar dalam obrolan sehari-hari, baik di tongkrongan, sekolah, kampus, hingga media sosial. Sekilas terdengar ringan dan lucu. Namun, pernahkah kita bertanya: mengapa begitu banyak candaan yang menjadikan suku, ras, fisik, atau latar belakang seseorang sebagai bahan lelucon?

Example 300x600

Di balik tawa yang muncul, tersembunyi sebuah persoalan serius: rasisme yang dibungkus dalam bentuk candaan. Inilah yang disebut sebagai rasisme berkedok humor. Candaan semacam ini bukan menghadirkan kegembiraan, melainkan melukai. Humor yang seharusnya menyatukan justru berubah menjadi senjata untuk menghakimi, merendahkan, dan menormalisasi diskriminasi.

Antara Humor dan Bahaya yang Tak Terlihat

Dalam budaya komunikasi yang serba cepat, candaan sering dianggap sebagai “aset sosial”. Siapa yang lucu, dia diterima. Siapa yang kaku, dia dianggap tidak asyik. Akibatnya, banyak orang berlomba melontarkan jokes demi eksistensi, tanpa menyadari dampak ucapannya.

Pembelaan yang paling sering muncul adalah, “Santai, cuma bercanda,” atau, “Jangan baper, ini kan cuma jokes.” Kalimat-kalimat ini seolah menjadi tameng untuk membenarkan ucapan yang sesungguhnya mengandung stereotip dan bias rasial.

Rasisme berkedok candaan bekerja secara halus. Ia menyusup ke ruang obrolan santai, tongkrongan, dan konten hiburan, sehingga sulit dikenali sebagai bentuk diskriminasi. Justru karena dibungkus humor, rasisme ini menjadi lebih berbahaya. Ia diterima, ditertawakan, dan dinormalisasi.

Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Bagi mereka yang menjadi sasaran, dampaknya jauh lebih besar dari sekadar rasa tersinggung. Candaan yang terus-menerus menyerang identitas—kulit, logat, bentuk tubuh, atau latar etnis—perlahan membentuk luka psikologis.

Sering kali, korban memilih diam. Mereka ikut tertawa agar tidak dianggap baper, tidak merusak suasana, dan tidak memicu konflik. Namun di dalam, candaan itu meninggalkan rasa rendah diri, cemas, dan tidak diterima.

Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental: muncul rasa tidak aman, ketakutan untuk tampil apa adanya, bahkan trauma sosial. Lebih buruk lagi, korban bisa menginternalisasi stigma tersebut dan mulai percaya bahwa dirinya memang pantas dijadikan bahan ejekan.

Melanggengkan Stereotip dan Ketimpangan Sosial

Candaan rasis tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari sistem sosial yang lebih besar: melanggengkan stereotip dan relasi kuasa. Ketika kelompok mayoritas terus-menerus menjadikan minoritas sebagai objek lelucon, tercipta hierarki sosial yang tidak setara.

Candaan semacam ini membentuk batas: siapa yang dianggap “normal” dan siapa yang “layak ditertawakan”. Ketawa massal terhadap satu stereotip berfungsi sebagai stempel persetujuan publik, seolah-olah anggapan tersebut benar dan wajar.

Pengalaman pribadi saya memperlihatkan betapa menyakitkannya hal ini. Pernah saya menyaksikan seorang teman menjadi sasaran candaan rasial. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Di momen itu, saya sadar: ini bukan humor. Ini kekerasan simbolik yang dibungkus tawa.

Media Sosial dan Algoritma yang Memperparah

Generasi Z hidup di tengah arus konten digital yang masif. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan keterlibatan emosi. Konten yang memancing reaksi—baik tawa maupun kemarahan—akan lebih mudah masuk ke FYP (For You Page).

Akibatnya, jokes rasis kerap mendapatkan atensi besar. Semakin kontroversial, semakin viral. Hal ini menciptakan lingkaran setan: konten rasis dianggap “laku”, lalu diproduksi ulang, disebarkan, dan dinormalisasi.

Dalam jangka panjang, bahasa diskriminatif menjadi kebiasaan. Yang tadinya tabu, berubah menjadi tren. Generasi muda pun tumbuh dalam lingkungan komunikasi yang sarat kekerasan simbolik.

Mengapa “Cuma Bercanda” Tidak Bisa Dibela

Pembelaan paling umum terhadap candaan rasis adalah soal niat. Banyak orang berkata, “Saya tidak bermaksud rasis.” Namun, dalam etika komunikasi, dampak jauh lebih penting daripada niat.

Jika sebuah candaan melukai, merendahkan, dan menegaskan ketimpangan, maka candaan itu tetap bermasalah, sebaik apa pun niatnya. Terlebih jika ia berkaitan dengan identitas yang tidak bisa diubah serta memiliki sejarah penindasan.

Humor yang sehat seharusnya bersifat kritis, menyentil kekuasaan, dan menantang ketidakadilan. Bukan justru menertawakan mereka yang sudah berada di posisi rentan.

Batas Etika dalam Ngelucu

Kebebasan berekspresi memang penting, termasuk dalam dunia komedi. Namun kebebasan tidak berarti bebas melukai. Ada batas etika yang harus dijaga.

Humor yang cerdas mampu menghibur tanpa merendahkan. Komedian yang kreatif dapat membuat lelucon dari situasi, ironi sosial, dan pengalaman manusia, tanpa menjadikan identitas dasar seseorang sebagai bahan ejekan.

Jika satu-satunya cara untuk lucu adalah dengan merendahkan orang lain, maka itu bukan kreativitas, melainkan kemalasan berpikir.

Membangun Budaya Humor yang Sehat

Untuk memutus rantai rasisme berkedok candaan, diperlukan perubahan pola pikir kolektif.

Pertama, mengedepankan empati. Ketika seseorang merasa tersinggung, respons terbaik bukanlah defensif, melainkan reflektif. Bertanya pada diri sendiri: “Mengapa candaan saya melukai?”

Kedua, bertanggung jawab atas ucapan. Mengakui kesalahan dan meminta maaf bukan tanda kelemahan, melainkan kedewasaan. Dari situlah proses belajar dan perubahan dimulai.

Ketiga, membangun literasi humor. Kita perlu membiasakan diri dengan candaan yang kritis, kreatif, dan membebaskan—bukan yang menindas.

Sejauh mana kita menoleransi rasisme berkedok candaan, sejauh itu pula kita membiarkan diskriminasi tumbuh subur. Ketawa yang lahir dari luka orang lain bukanlah kebahagiaan, melainkan ketidakpekaan.

Jika kita menginginkan masyarakat yang adil, setara, dan beradab, maka humor harus menjadi jembatan kemanusiaan, bukan alat penghinaan. Karena pada akhirnya, menghormati sesama manusia jauh lebih penting daripada sekadar terlihat lucu.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *