Di lingkungan perkuliahan, kemampuan berbicara di depan orang lain dan khalayak banyak itu menjadi salah satu hal yang cukup dibutuhkan. Mulai dari presentasi di depan kelas, menyampaikan pendapat saat diskusi, lalu menjadi moderator, bahkan sampai ada di fase kita harus berkenalan dengan orang baru. Namun, bagi sebagian mahasiswa, berbicara di depan umum bukanlah hal yang mudah. Rasa gugup, takut salah, takut di judge atau kurang percaya diri sering kali membuat seseorang memilih untuk diam.
Padahal, public speaking bukan hanya tentang kemampuan berbicara di depan banyak orang. Lebih dari itu, public speaking merupakan kemampuan untuk menyampaikan ide, pendapat, dan diri kita kepada orang lain dengan cara yang jelas dan percaya diri, tentunya tanpa adanya keraguan.
Salah satu manfaat yang paling terasa dari belajar public speaking adalah meningkatnya rasa percaya diri. Ketika seseorang mulai terbiasa berbicara, rasa takut dan gugup biasanya perlahan berkurang. Awalnya mungkin masih sering merasa deg-degan atau bingung harus mengatakan apa. Namun, semakin sering mencoba, seseorang akan semakin terbiasa menghadapi situasi tersebut.
Rasa percaya diri ini tentunya penting bagi mahasiswa. Misalnya ketika dosen memberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat di kelas. Mahasiswa yang percaya diri akan lebih berani untuk mengangkat tangan dan berbicara tidak menunggu untuk di tunjuk terlebih dahulu sama dosen. Perlu kita ingat untuk melakukan hal seperti ini, tidak harus selalu memberikan jawaban yang sempurna. Keberanian untuk mencoba juga merupakan bagian dari proses belajar.
Selain membuat lebih percaya diri, kemampuan berkomunikasi juga dapat membantu seseorang memperluas relasi dan peluang untuk networking. Ketika kita berani memulai percakapan, memperkenalkan diri, atau bergabung dalam suatu diskusi, kesempatan untuk mengenal orang baru menjadi lebih besar. Dari sana, kita bisa mendapatkan teman baru, menemukan lingkungan yang sesuai, atau bahkan membangun koneksi yang bermanfaat untuk masa depan.
Sering kali orang menganggap bahwa menjadi seorang extrovert membuat seseorang lebih mudah bergaul dan memiliki banyak relasi. Memang, orang yang extrovert biasanya terlihat lebih nyaman dalam situasi sosial. Namun, bukan berarti orang introvert tidak bisa memiliki relasi yang luas.
Memiliki banyak relasi bukan berarti harus menjadi extrovert. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan keberanian untuk membuka diri. Seseorang yang cenderung pendiam pun tetap bisa belajar menyapa orang baru, mengikuti percakapan, dan menyampaikan pendapatnya. Public speaking dapat menjadi salah satu cara untuk melatih hal tersebut.
Kemampuan berbicara juga memiliki kaitan dengan personal branding. Di zaman sekarang, kemampuan akademik saja terkadang belum cukup. Kita juga perlu mampu menunjukkan siapa diri kita, apa yang kita kuasai, dan apa yang bisa kita tawarkan kepada orang lain.
Contohnya ketika mengikuti organisasi kampus atau kegiatan tertentu. Kita mungkin memiliki ide yang bagus, tetapi jika tidak mampu menyampaikannya, orang lain akan kesulitan memahami ide tersebut. Begitu juga ketika mengikuti wawancara kerja. Kemampuan untuk menjelaskan pengalaman, kelebihan, dan kemampuan diri dengan baik dapat membantu kita menunjukkan potensi yang kita miliki.
Hal ini menunjukkan bahwa public speaking bukan sekadar tentang “jago ngomong”. Public speaking juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menyampaikan dirinya kepada orang lain. Cara berbicara, pilihan kata, bahasa tubuh, dan kemampuan mendengarkan semuanya menjadi bagian dari komunikasi.
Kemampuan tersebut juga akan semakin dibutuhkan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja. Dalam pekerjaan, kita tidak hanya bekerja sendiri, tetapi juga harus berkomunikasi dengan rekan kerja, atasan, maupun klien. Presentasi, rapat, diskusi, hingga menyampaikan ide membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik.
Karena itu, public speaking sebaiknya mulai dilatih sejak dini lalu di kembangkan di dunia perkuliahan. Tidak perlu langsung mencoba berbicara di depan ratusan orang. Latihan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti berani bertanya kepada dosen, menyampaikan pendapat dalam diskusi, melakukan presentasi dengan lebih aktif, atau mencoba menjadi moderator dalam kegiatan kampus.
Kita juga bisa berlatih dengan berbicara di depan cermin atau merekam diri sendiri ketika sedang berbicara. Dari sana, kita bisa melihat kekurangan yang perlu diperbaiki, misalnya berbicara terlalu cepat, terlalu sering menggunakan kata pengisi seperti “eee”, atau kurang melakukan kontak mata.
Pada akhirnya, public speaking bukan tentang siapa yang paling banyak bicara atau siapa yang paling extrovert. Kemampuan ini lebih berkaitan dengan keberanian untuk menyampaikan apa yang kita pikirkan dan kemampuan membuat orang lain memahami pesan yang ingin kita sampaikan.
Jadi, bagi mahasiswa yang masih merasa kurang percaya diri ketika berbicara, tidak perlu merasa tertinggal. Menjadi percaya diri bukan sesuatu yang bisa didapatkan dalam satu malam. Semuanya membutuhkan proses dan latihan.
Berani bicara bukan berarti harus berubah menjadi orang lain. Berani bicara berarti berani menunjukkan diri dan terus berkembang.
Oleh: Dhefani Aulia Dewi, Mahasiswi Universitas Pamulang, Program Studi S1 Manajemen


















