Oleh: Ahmad Yusron Chasani (Kader HMI Salatiga)
Berbicara perihal ke “jahiliyah’’ an berarti kita akan membahas segala macam bentuk ke zalim an. Arogansi, star syndrome, haus validasi, melestarikan kebencian, dan zalim-zalim dalam bentuk lain yang kemudian akan melahirkan thaghut sejati (Segala sesuatu yang melampaui batas dan disembah, ditaati, atau diikuti selain Allah). Saya akan mengajak pembaca sekalian mengupas bagaimana fenomena jahiliyah ini dapat muncul dalam bentuk individu bukan kelompok. Karena saya merupakan kader HMI, maka rasanya akan lebih menggigit jika saya menulisnya dengan sedikit mengurucutkan pembahasan ini kepada organisasi yang dibenci namun secara sekaligus juga dicintai oleh para kadernya.
Jahiliyah berarti kebodohan, beda dengan “jahl’’ yang berarti bodoh, atau ‘’jahil’’ yang menunjukkan makna pelaku, berarti orang yang bodoh. Jahiliyah memiliki arti kebodohan yang sudah menjadi budaya, mengakar, menjadi habitus bagi seseorang/kelompok. Kebodohan ini bisa jadi memang hanya ketidak mengertian, atau bisa juga memang sengaja dibentuk dan diwariskan turun temurun.
Diksi Jahiliyah ini disebut secara banter oleh para sejarawan untuk menyebut era pra kenabian Muhammad di tanah haram nun jauh disana. Yang maknanya identic dengan buta huruf, nir etika, biadab, terbelakang secara materi, dan lainnya. Sebenarnya saya tertarik untuk menggunakan bahasa neo jahiliyah yang dikemukakan oleh senior saya, Kanda Agus Hermawan dalam bukunya Psikologi Islam. Namun hanya saja ada ke tidak cocokan pribadi saya pada definisi neo jahiliyah yang beliau paparkan, dan ini sah-sah saja.
Karena jahiliyah ini memiliki arti kebodohan yang sudah membudaya. Maka dapat diambil esensi, bahwa ada pelopor dalam proses penyebaran kebodohan ini. Seperti halnya pada zaman nabi, ada yang Namanya ‘Amr bin Hisyam yang memiliki laqab Abu jahl, bukan karena dia bodoh. ‘Amr bin Hisyam tidak bodoh sama sekali, justru dia adalah orang yang sangat kaya, berintelektual, dan hidup dengan kehormatan. ‘Amr bin Hisyam mendapatkan julukan ini karena dialah bapak kebodohan, biang kebodohan, pelopor budaya bodoh di kaum Quraisy.
Secara prinsip, habitus sebuah kelompok social itu tidak mungkin timbul dengan sendirinya, ada proses pembentukan didalamnya, ada tokoh-tokoh kunci di dalamnya, seperti Abu jahl. Begitu pula di HMI, tidak memungkinkan budaya serupa juga nampak dalam kehidupan berorganisasi. Abu jahl-Abu jahl muda terus bermunculan. Mereka terus menyebarkan budaya-budaya bodoh, menebar kebencian, membuat persekutuan thaghut dengan mengatasnamakan kebenaran.
Sangatlah kontradiksi dengan apa yang diwariskan oleh Lafran Pane, yang mengatakan bahwa “HMI adalah organisasi yang mengutamakan kebenaran dalam ber Islam” bukan organisasi yang mengutamakan Islam dalam ber kebenaran (Agama sebagai tameng argumentasi). Rasanya memang sedikit melambung, karena memang ‘’Islam” di HMI sepertinya sudah mulai hilang.
Kemudian Thaghut, secara eksplisit disebutkan dalam pedoman perkaderan yang merupakan entitas yang harus dilawan bagi kader HMI. Sebagaimana yang dikatakan dalam pedoman perkaderan bahwa syahadah memiliki tujuan untuk melakukan Liberation/Pembebasan dari belenggu-belenggu selain Allah. Apakah semangat ini sudah tidak ada dalam diri kader HMI? Ataukah memang kader HMI sekarang bahkan tidak mengetahui jika semangat pembebasan ternyata ada di HMI? Renungkanlah.
Tabik,


















