Oleh: Ahmad Yusron Chasani, Mahasiswa Psikologi UIN Salatiga
Isu kesehatan mental kini menjadi salah satu topik paling ramai di internet. Banyak konten creator menjelma menjadi Psikolog dadakan dengan bekal kata-kata yang dianggap relate oleh konsumennya. Tagar seperti #burnout, #healing, #toxicrelationship, atau #mentalhealthawareness muncul hampir seribu tiap hari di lini masa media sosial. Di satu sisi, kita perlu mengamini bahwa ini adalah kemajuan besar topik yang dulu dianggap tabu, memalukan, bahkan “lemah”, kini dibicarakan secara terbuka dan lebih manusiawi. Banyak orang akhirnya berani mengakui bahwa mereka lelah, sedih, cemas, dan butuh bantuan. Ini patut di apresiasi
Namun di sisi lain, muncul sebuah paradoks psikologis yang jarang disadari terutama untuk kawula muda yaitu “kesadaran yang berlebihan justru dapat berubah menjadi tekanan psikologis baru”.
Media sosial perlahan membentuk budaya “monitoring diri” yang ekstrem. Kita diajak atau tanpa sadar dipaksa untuk terus memeriksa kondisi mental sendiri. Setiap rasa lelah dianggap sebagai burnout. Setiap kehilangan semangat dicurigai sebagai depresi. Setiap ketidaknyamanan emosional diberi label gangguan psikologis tertentu. Padahal, emosi manusia pada dasarnya bersifat fluktuatif dan kontekstual.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan konten kesehatan mental yang intens di media sosial dapat meningkatkan kecenderungan self-labeling dan kecemasan terhadap kondisi diri sendiri (Browne et al., 2025). Alih-alih membantu memahami diri, konten semacam ini justru berpotensi membuat seseorang merasa “ada yang salah” dengan dirinya, bahkan ketika ia sedang mengalami emosi yang sebenarnya wajar sebagai manusia.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah maraknya self-diagnosis. Banyak orang merasa “menemukan dirinya” lewat potongan video 30 detik atau unggahan carousel di instagram. Padahal, diagnosis psikologis membutuhkan proses panjang, konteks hidup yang menyeluruh, serta evaluasi oleh profesional. Ketika psikologi direduksi menjadi konten singkat dan viral, ia kehilangan kedalaman ilmiahnya dan justru berisiko menyesatkan. Fenomena ini dikenal dengan hilangnya kepakaran
Fenomena ini semakin kompleks dengan hadirnya hubungan parasosial, yaitu kedekatan emosional sepihak dengan influencer, selebritas, atau figur publik di media sosial, yang bahkan tidak pernah bersinggungan secara langsung, ini semua tercipta karena adanya bias kognitif diri. Studi terbaru menunjukkan bahwa hubungan parasosial dapat memperburuk kelelahan emosional dan perasaan tidak berharga, terutama ketika individu terus membandingkan hidupnya dengan citra ideal yang ditampilkan influencer (Brown & Molnár, 2025). Kita merasa dekat, merasa dipahami, padahal relasi tersebut tidak pernah benar-benar ada.
Ironisnya, banyak konten bertema “self-love” dan “healing” yang justru menciptakan standar kebahagiaan baru yang tidak realistis, semua bias, semua ilusi. Bahagia digambarkan sebagai kondisi yang estetik, produktif, tenang, dan selalu terkendali. Akibatnya, ketika seseorang masih merasa marah, bingung, atau lelah meski sudah “healing”, ia justru merasa gagal bukan sebagai manusia, tapi sebagai individu yang dianggap tidak cukup berusaha, karena terus berpura-pura.
Budaya produktivitas yang dibungkus narasi yang seakan psikologi positif seperti “kalau capek berarti kamu kurang healing”, “kalau stres berarti kamu belum self-love” atau “lakukan ini ketika kamu merasa..” berpotensi mengaburkan faktor structural psikologis sendiri. Tekanan ekonomi, jam kerja yang tidak manusiawi, ketidakamanan kerja, dan ketimpangan sosial sering kali direduksi menjadi masalah mindset individu semata. Psikologi populer di internet secara tidak sadar memindahkan beban system akademik ke pundak personal.
Menurut penulis, tantangan terbesar saat ini bukanlah kurangnya kesadaran akan kesehatan mental, melainkan kurangnya literasi psikologi yang kritis. Kita membutuhkan ruang digital yang tidak hanya memvalidasi emosi, tetapi juga memberikan konteks. Ruang yang membantu orang membedakan antara emosi wajar, stres situasional, dan gangguan psikologis yang memang membutuhkan pendampingan profesional.
Kesadaran mental health seharusnya membebaskan manusia untuk menjadi manusia bukan menambah daftar standar baru tentang bagaimana seharusnya kita merasa.
Mungkin, bentuk kepedulian paling sehat hari ini adalah berani berkata: tidak semua rasa lelah harus diberi label, dan tidak semua luka harus diumumkan ke publik.
Karena kadang, yang kita butuhkan bukan diagnosis baru melainkan ruang aman untuk bernapas.


















