Oleh: Vinsensius, S.Fil., M.M., Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Instagram: @vin_cen_zo_2026
Hidup hari ini bergerak cepat dan mahal. Harga kebutuhan naik, gaya hidup ikut melesat, sementara waktu untuk berpikir justru makin sempit. Urusan uang pun sering dipersempit menjadi soal teknis: bagaimana menabung, mengejar cuan, memilih investasi, atau menutup kebutuhan bulanan. Kita rajin membuka aplikasi keuangan, memantau grafik yang naik-turun, tetapi jarang berhenti sejenak untuk bertanya: “Sebenarnya, ke mana semua ini ingin kita bawa?”
Bagi banyak orang, uang tampak seperti urusan angka semata. Padahal, setiap keputusan yang melibatkan uang selalu berkaitan dengan pilihan hidup. Membeli kopi mahal atau menahannya, mengambil cicilan atau menundanya, mengejar gaya hidup tertentu atau memilih hidup lebih sederhana; semuanya berangkat dari cara kita memandang diri, kebutuhan, dan masa depan.
Masalah muncul ketika uang tidak lagi diperlakukan sebagai alat, melainkan tujuan. Kita hidup dalam budaya target: saldo, keuntungan, ranking, pencapaian materi. Tidak salah ingin hidup layak dan sejahtera. Namun menjadi persoalan ketika keberhasilan hidup hanya diukur dari isi rekening. Di titik itu, uang pelan-pelan mengambil alih kendali, sementara manusia justru kehilangan arah.
Banyak orang hari ini tampak “rapi” secara keuangan. Penghasilan stabil, tabungan ada, investasi jalan. Namun di balik itu, tidak sedikit yang hidup dalam kecemasan. Takut kurang, takut tertinggal, takut salah langkah. Aneh memang: semakin banyak pilihan dan fasilitas, justru semakin gelisah. Ini menandakan satu hal penting: mengatur uang saja tidak cukup jika kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita kejar.
Salah satu pertanyaan paling jarang diajukan dalam hidup modern adalah: “Kapan cukup?” Dunia hari ini nyaris tidak mengenal kata itu. Selalu ada ruang untuk lebih: lebih besar, lebih cepat, lebih menguntungkan. Padahal tanpa batas yang jelas, manusia akan terus berlari tanpa pernah merasa sampai. Rasa kurang menjadi teman sehari-hari, meski kebutuhan dasar sebenarnya telah terpenuhi.
Di tengah masyarakat kita, dampaknya terlihat nyata. Banyak keluarga terjebak utang bukan karena malas atau tidak bekerja keras, melainkan karena tekanan gaya hidup dan tuntutan sosial. Ponsel harus terbaru, kendaraan harus layak dipamerkan, perayaan harus tampak mewah. Tanpa sadar, keputusan-keputusan kecil ini menumpuk dan menjadi beban jangka panjang.
Di sinilah pentingnya sikap bertanggung jawab dalam mengambil keputusan finansial. Tanggung jawab bukan hanya kepada diri sendiri hari ini, tetapi juga kepada keluarga dan masa depan. Keputusan yang baik bukan selalu yang paling menguntungkan dalam waktu singkat, melainkan yang paling aman dan masuk akal untuk jangka panjang. Menahan diri sering kali lebih bijak daripada mengikuti arus.
Kesadaran diri menjadi kunci. Kita perlu jujur membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan. Mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya dorongan sesaat. Tanpa kesadaran ini, perencanaan keuangan mudah goyah oleh emosi, tren media sosial, dan bujuk rayu iklan. Uang akhirnya habis untuk hal-hal yang tidak pernah benar-benar kita butuhkan.
Namun kesadaran saja tidak cukup jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Nilai hidup perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan sehari-hari: menyusun anggaran, menetapkan prioritas, dan disiplin dalam pengeluaran. Kebijaksanaan bukan hanya soal cara berpikir, tetapi juga konsistensi dalam bertindak, terutama saat godaan datang bertubi-tubi.
Dalam skala yang lebih luas, persoalan ini juga menyentuh urusan publik. Anggaran negara, pajak, dan subsidi bukan sekadar deretan angka di atas kertas. Di sana ada pilihan: siapa yang dibantu, siapa yang dikorbankan, dan siapa yang menikmati hasilnya. Tanpa keberpihakan yang jelas pada keadilan, pengelolaan keuangan publik berisiko hanya menguntungkan segelintir orang.
Bagi generasi muda, terutama Gen-Z, situasi ini terasa semakin dekat. Mereka hidup di tengah banjir informasi tentang kebebasan finansial, investasi cepat, dan berbagai peluang cuan. Semua terdengar menjanjikan, tetapi juga melelahkan. Banyak yang merasa tertinggal sebelum benar-benar memulai. Di tengah hiruk-pikuk itu, jeda untuk berpikir jernih menjadi semakin penting agar uang tidak mengambil alih kendali hidup.
Pada akhirnya, urusan uang bukan semata soal pintar menghitung, melainkan soal bijak menentukan arah. Angka memang penting, tetapi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan nilai, pilihan, dan tanggung jawab. Tanpa arah yang jelas, uang bisa membuat manusia sibuk tetapi hampa. Sebaliknya, dengan arah yang tepat, uang bisa menjadi alat untuk hidup yang lebih tenang dan bermakna.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya ulang, bukan hanya berapa yang kita miliki, tetapi untuk apa semua itu kita kelola. Di sanalah dompet bertemu dengan nurani, dan pilihan hidup menemukan pijakannya.


















