Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Mahasiswa

Mondok, Kuliah, dan Tantangan Berorganisasi: Apakah Semua Orang Harus Aktif?

×

Mondok, Kuliah, dan Tantangan Berorganisasi: Apakah Semua Orang Harus Aktif?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika Pilihan Tak Sepenuhnya di Tangan Kita

Oleh: Hafidhotul Kamila, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Salatiga

Sejak masih duduk di bangku SD, aku memiliki keinginan yang sederhana: ingin mondok. Dalam bayanganku saat itu, mondok adalah sesuatu yang keren. Aku membayangkan hidup yang lebih tenang, jauh dari teriakan marah ibu karena kebandelanku, dan sedikit kebebasan dari rumah. Namun kenyataannya tidak demikian. Aku justru diminta masuk MTs tempat ibuku mengajar.

Example 300x600

Awalnya aku merasa kecewa, tetapi perlahan aku mulai menikmati kehidupan sekolah biasa. Hidup terasa lebih bebas, santai, dan aku punya banyak waktu untuk bermain. Ketika aku sudah merasa nyaman dengan kehidupan tanpa ikatan pondok, takdir kembali berjalan ke arah yang tak terduga. Saat masuk MAN, orang tuaku justru menginginkan aku mondok. Aku mengiyakan, dengan keyakinan bahwa mungkin inilah saat yang tepat untuk mewujudkan keinginan lamaku.

Namun, mondok di masa MAN ternyata tidak seindah bayanganku dulu. Pondok tempatku tinggal memiliki aturan yang sangat ketat. Aku tidak diperbolehkan mengikuti organisasi sekolah. Untuk pulang dengan alasan sakit pun harus menunggu kondisi benar-benar parah. Bahkan sekadar dijenguk keluarga harus melalui prosedur sowan. Aku sempat tertarik mengikuti organisasi PMR, tetapi keinginanku itu ditolak karena statusku sebagai santri. Aku juga mencoba mengikuti ekstrakurikuler sinematografi, namun baru satu kali pertemuan, pelatihnya jarang datang dan kegiatan itu pun berhenti. Akhirnya, aku tidak aktif dalam kegiatan apa pun.

Memasuki dunia perkuliahan, aku kembali mondok, kali ini di pondok Al-Qur’an. Aku berharap suasananya lebih longgar, dan ternyata memang demikian. Aku diperbolehkan memegang ponsel untuk keperluan kuliah. Saat PBAK berlangsung dan berbagai UKM diperkenalkan, keinginan lamaku kembali muncul: ingin ikut organisasi, ingin terlibat, ingin menjadi bagian dari mahasiswa yang aktif. Aku tertarik pada komunitas perfilman di kampus.

Aku mengikuti proses screening bersama temanku yang tinggal di kos, penuh harapan. Namun satu pertanyaan dari panitia membuatku kembali tersadar akan batasan yang kupunya: “Kamu mondok? Bisa izin nggak? Kalau nggak bisa gimana? Kita syuting bisa sampai jam dua malam.” Aku menjawab sebaik mungkin, berusaha meyakinkan mereka—dan mungkin juga meyakinkan diriku sendiri—bahwa aku bisa mengusahakannya. Namun pada akhirnya, aku ditolak. Temanku diterima.

Suatu hari, temanku yang diterima di komunitas tersebut sempat menanyakan kepada seniornya apakah aku masih memiliki peluang untuk bergabung. Jawabannya tegas: tidak. Setelah aku menyebutkan nama pondokku, peluang itu tertutup sepenuhnya. Saat itu aku kembali merenung, apakah memang anak pondok tidak bisa ikut organisasi seperti ini?

Bukan hanya di kampus, di lingkungan desa pun aku sering merasa terpisah. Saat ada hajatan, teman-teman karang taruna berkumpul, membantu, dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Aku justru tetap berada di pondok. Terkadang muncul rasa tidak enak, merasa tidak berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Aku tahu mereka tidak bermaksud menjauhkan, tetapi aku sendiri sadar bahwa kehadiranku dalam komunitas desa hampir tidak ada.

Aku mulai bertanya-tanya, apakah menjadi santri berarti harus mengorbankan ruang sosial? Aku memahami bahwa pondok membentuk disiplin dan ilmu, tetapi apakah itu harus dibayar dengan hilangnya kesempatan untuk berbaur di luar? Dari sini aku menyadari bahwa partisipasi sosial tidak selalu berarti aktif di organisasi kampus. Sekadar membantu di desa pun sejatinya sudah merupakan bentuk kontribusi sebagai warga negara.

Mondok, Partisipasi, dan Kewarganegaraan

Dalam teori civic engagement, partisipasi aktif dalam masyarakat merupakan salah satu ciri warga negara yang baik. Banyak yang meyakini bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi lebih siap menghadapi dunia kerja karena terbiasa dengan kepemimpinan, kerja tim, dan jejaring sosial. Tidak sedikit pula organisasi kampus yang mensyaratkan CV dan pengalaman organisasi sebagai bukti keterlibatan sosial.

Hal inilah yang mulai membuatku khawatir. Saat screening masuk komunitas perfilman, aku diminta mengisi CV dan menuliskan pengalaman organisasi di MAN. Aku tidak memiliki pengalaman itu karena aturan pondok yang ketat. Pengalaman terakhirku hanyalah menjadi wakil OSIM saat MTs, yang rasanya sudah sangat lama. Aku pun mulai bertanya-tanya, bagaimana nanti aku mencari kerja jika CV-ku minim pengalaman organisasi? Bagaimana aku membangun relasi jika ruang sosialku terbatas?

Kadang aku membayangkan, jika jalanku berbeda—tanpa pondok dan tanpa banyak batasan—mungkin aku akan lebih bebas memilih arah. Aku akan memiliki banyak cerita di CV, aktif di organisasi, dan membangun relasi yang luas. Namun di sisi lain, aku juga sadar bahwa tanpa pondok, aku mungkin tidak akan sekuat ini. Bisa jadi aku tersesat dalam kebebasan tanpa arah.

Pondok bagiku bukan sekadar tempat tinggal, melainkan perjalanan yang membentukku dengan ilmu, adab, dan kedisiplinan. Meski ada keinginan yang harus kupendam, aku percaya setiap pilihan memiliki hikmah. Mungkin jalanku tidak seperti yang dulu kuimpikan, tetapi bukan berarti aku tidak bisa bersuara. Jika bukan melalui UKM atau organisasi, mungkin melalui tulisan—kata-kata yang menjadi ruang agar pikiranku tetap hadir.

Refleksi dan Harapan

Perlahan, aku mulai menerima bahwa keaktifan dalam organisasi bukan jalan yang bisa kuambil saat ini. Bukan karena aku tidak mau, tetapi karena ada aturan yang harus kuhormati. Kadang aku membayangkan, jika saja aku anak kos, mungkin langkahku akan lebih bebas. Aku akan masuk UKM, membangun relasi, dan memiliki jejak organisasi dalam CV. Namun aku juga sadar, setiap orang memiliki jalannya masing-masing.

Mungkin aku bukan mahasiswa yang aktif di forum-forum kampus atau sibuk menggerakkan komunitas. Tetapi aku tetap belajar, tetap berpikir, dan tetap berusaha memahami dunia dengan caraku sendiri. Tidak semua kontribusi harus terlihat besar untuk menjadi berarti. Ada banyak jalan untuk hadir sebagai bagian dari masyarakat, dan mungkin suatu hari nanti, aku akan menemukan jalanku sendiri—meski bukan lewat jalur yang selama ini dianggap ideal.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *