Oleh: Aditya Hasiholan Purba – Simalungun, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FH UNJA Jambi
“Partai politik lahir dari keyakinan bahwa suara rakyat harus menjadi arah kebijakan, bukan sekadar hiasan demokrasi.”
Sudah terlalu lama kita terjebak dalam dikotomi politik yang menyesatkan, di mana aktivis seolah hanya punya tempat di aspal jalanan sementara politisi nyaman bertahta di gedung parlemen. Seolah-olah, mereka yang sehari-hari berkeringat memperjuangkan hak rakyat di bawah terik matahari tidak diperkenankan menyentuh tuas kebijakan di ruangan berpendingin udara. Padahal, lahirnya Partai Gerakan Rakyat yang bermetamorfosis dari rahim ormas adalah sebuah anomali yang sangat menyegarkan. Fenomena ini bukan sekadar perpindahan alamat kantor dari trotoar ke gedung mewah, melainkan sebuah upaya radikal untuk memindahkan “hati nurani” ke dalam sistem yang selama ini dianggap sering mati rasa dan tuli terhadap rintihan di tingkat akar rumput.
Saya melihat transisi ini dengan optimisme yang meluap namun tetap rasional. Ini adalah fajar baru bagi demokrasi kita yang mulai nampak lesu dan seragam. Jika selama ini rakyat hanya bisa menjadi objek penderita yang memprotes kebijakan yang sudah jadi, sekarang ada upaya sistematis agar rakyat bisa menulis sendiri aturan mainnya. Secara pribadi, saya meyakini bahwa langkah ini adalah bentuk kedewasaan politik yang paling tinggi. Aktivis kini menyadari bahwa demonstrasi di luar pagar memang penting sebagai kontrol, tetapi masuk ke dalam sistem adalah cara paling efektif untuk memastikan bahwa kebijakan yang diskriminatif tidak pernah lahir sejak awal. Ini adalah semangat untuk menjemput kedaulatan, bukan lagi sekadar menunggu sisa-sisa keadilan dilemparkan dari meja kekuasaan.
Partai yang lahir dari gerakan memiliki satu modal besar yang tidak mungkin dibeli dengan uang sebanyak apa pun, yakni legitimasi moral. Berbeda dengan partai konvensional yang seringkali dibentuk dalam kesepakatan elit di hotel berbintang, Partai Gerakan Rakyat tumbuh dari diskusi-diskusi pinggiran, pasar, dan pemukiman padat. Sejalan dengan pemikiran Manuel Castells dalam karyanya Networks of Outrage and Hope, gerakan sosial di era modern memiliki kemampuan unik untuk bermetamorfosis menjadi kekuatan politik formal melalui jaringan yang organik dan militan. Apa yang kita saksikan hari ini adalah pembuktian bahwa kekuasaan tidak harus selalu turun dari atas, tapi bisa meledak dan tumbuh subur dari bawah melalui simpul-simpul keresahan yang sama.
Kehadiran partai ini juga menjadi jawaban atas kerinduan kita akan politik nilai. Filsuf politik Chantal Mouffe pernah menekankan pentingnya konsep Agonisme, di mana demokrasi yang sejati membutuhkan alternatif nyata dan pertentangan ideologi yang jelas, bukan sekadar pilihan antara dua kubu yang sebenarnya melayani kepentingan elit yang sama. Partai Gerakan Rakyat hadir sebagai antitesis terhadap kejenuhan tersebut. Mereka tidak menawarkan janji-janji manis lewat baliho raksasa yang memenuhi sudut kota, melainkan membawa rekam jejak perjuangan yang sudah mereka lakoni bertahun-tahun saat masih mengenakan seragam ormas. Inilah yang membuat saya optimis bahwa politik bisa dikelola dengan cara yang sangat manusiawi dan kolektif melalui mekanisme gotong royong.
Mungkin banyak kritikus yang akan berdalih dengan “Hukum Besi Oligarki” milik Robert Michels, yang menyatakan bahwa organisasi apa pun pada akhirnya akan dikuasai oleh elit kecil di puncaknya. Namun, Partai Gerakan Rakyat punya peluang emas untuk mematahkan kutukan tersebut. Jika mereka konsisten menggunakan model pendanaan swadaya atau crowdfunding dari anggotanya, mereka tidak akan pernah tersandera oleh kepentingan cukong atau pemodal besar. Ketika sebuah partai tidak berhutang budi pada segelintir orang kaya, maka secara otomatis mereka hanya akan berhutang budi pada rakyat yang membiayai napas perjuangan mereka. Inilah kemandirian politik yang sesungguhnya, sebuah oase di tengah gurun politik yang kering dan transaksional.
Pada akhirnya, kita memang tidak hanya butuh orang-orang pintar atau teknokrat murni di parlemen, karena kita sudah punya banyak orang jenius yang justru seringkali menciptakan kebijakan yang menjepit rakyat kecil. Yang kita butuhkan saat ini adalah orang-orang yang “merasakan”. Kita butuh mereka yang tahu pahitnya upah yang tidak layak karena pernah hidup bersama serikat buruh, atau mereka yang paham sulitnya akses kesehatan karena pernah mengadvokasi pasien telantar di lapangan. Kekuatan utama Partai Gerakan Rakyat adalah keberanian mereka untuk tetap membawa “bau jalanan” dan “suara pasar” ke dalam gedung parlemen yang wangi parfum mahal. Mereka adalah pengingat hidup bahwa di luar sana ada rakyat yang sedang tidak baik-baik saja.
Mendukung transformasi ini bukan berarti kita naif terhadap kerasnya dunia politik, melainkan sebuah bentuk kesadaran tertinggi bahwa politik adalah alat pengabdian yang terlalu berharga jika hanya dibiarkan dikelola oleh para pemburu rente. Partai Gerakan Rakyat adalah undangan bagi kita semua untuk berhenti menjadi penonton yang pasif dan mulai menjadi pemain dalam menentukan masa depan bangsa sendiri. Saya percaya, ketika kepalan tangan di jalanan mulai berubah menjadi tanda tangan di atas kertas kebijakan yang menyejahterakan, di situlah demokrasi kita benar-benar menemukan kembali ruhnya. Mari kita beri ruang bagi harapan ini untuk tumbuh, karena tidak ada tembok kekuasaan yang terlalu tinggi jika rakyat memutuskan untuk mendakinya bersama-sama dalam satu barisan politik yang terorganisir.


















