Pikiranbangsa.co, REMBANG — Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, M.Pd., M.H., menegaskan bahwa kegiatan penanaman pohon buah merupakan langkah strategis untuk mengurangi risiko tanah longsor sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Hal tersebut disampaikan Sri Jarwati saat memimpin apel dalam kegiatan penanaman pohon buah di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Bulu, Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif bersama BPBD Kabupaten Rembang, Perhutani KPH Mantingan, LMDH, CDK Wilayah I, serta Pemerintah Desa Sendangmulyo.
Dalam kegiatan tersebut, ditanam sebanyak 225 bibit tanaman buah yang terdiri dari 150 bibit durian dan 75 bibit jambu biji (Kristal). Bibit-bibit tersebut ditanam di sejumlah titik wilayah rawan longsor sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana berbasis vegetasi.
Menurut Sri Jarwati, keberadaan tanaman keras di wilayah rawan longsor dapat memperkuat struktur tanah dan meminimalkan potensi bencana, terutama di daerah dengan kontur perbukitan dan tebing jalan yang rawan mengalami pergerakan tanah.
Selain aspek mitigasi bencana, ia juga menekankan pentingnya perawatan pascatanam. Ia berpesan agar bibit yang telah ditanam dirawat secara berkelanjutan sehingga dapat tumbuh secara optimal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dalam jangka panjang.
“Kegiatan penanaman tidak berhenti pada saat bibit ditanam, tetapi harus diikuti dengan perawatan yang baik agar tanaman dapat tumbuh maksimal dan benar-benar memberikan manfaat,” ujarnya.
Sebelumnya, BPBD Kabupaten Rembang juga telah melaksanakan kegiatan penanaman pohon buah di sepanjang aliran sungai Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori, serta Desa Tempaling, Kecamatan Pamotan. Kegiatan tersebut dilakukan pascanormalisasi sungai sebagai bagian dari upaya penguatan bantaran dan pencegahan bencana hidrometeorologi.
Melalui kegiatan ini, BPBD Kabupaten Rembang berharap upaya mitigasi bencana berbasis lingkungan dapat terus berkelanjutan, sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan ketangguhan wilayah terhadap ancaman bencana. (Nan)


















