Oleh: Nashrul Mu’minin, Content Writer Yogyakarta
Film Penerbangan Terakhir yang mengangkat kisah perselingkuhan antara pilot dan pramugari bukan sekadar drama romantis, melainkan potret kompleks tentang relasi kuasa, moralitas, dan cara industri hiburan membingkai skandal sebagai tontonan yang menggugah emosi. Ketika kisah yang lahir dari pelanggaran etika profesi diolah menjadi film, pertanyaannya bukan hanya soal kualitas sinematografi, tetapi juga tentang pesan nilai yang disampaikan kepada publik.
Dalam masyarakat modern, skandal sering kali diproduksi ulang menjadi komoditas budaya. Perselingkuhan yang seharusnya dipandang sebagai pelanggaran komitmen justru dikemas sebagai cerita cinta terlarang yang penuh dramatika. Film ini, secara sadar atau tidak, ikut melanggengkan logika tersebut: bahwa pelanggaran moral bisa dibungkus menjadi kisah heroik yang memikat.
Relasi antara pilot dan pramugari dalam film tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks relasi kuasa. Pilot sebagai figur otoritas dan pramugari sebagai bagian dari struktur pelayanan menghadirkan ketimpangan posisi yang subtil. Ketika hubungan personal terjadi dalam struktur hierarkis seperti ini, persoalan tidak lagi sekadar cinta, tetapi juga tentang dominasi, subordinasi, dan batas profesionalitas yang dilanggar.
Film ini juga memperlihatkan bagaimana ruang kerja yang seharusnya steril dari konflik personal justru menjadi arena negosiasi hasrat. Dunia penerbangan yang identik dengan disiplin, keselamatan, dan profesionalisme berubah menjadi latar romantisasi pelanggaran etika. Di sinilah problem utama film ini muncul: ia mengaburkan batas antara realitas kerja dan fantasi dramatik.
Lebih jauh, film Penerbangan Terakhir mencerminkan kecenderungan budaya populer yang gemar mengeksploitasi kisah nyata demi daya tarik pasar. Kisah perselingkuhan yang seharusnya menjadi pelajaran moral justru diproduksi ulang sebagai hiburan yang mengundang simpati penonton. Dalam logika industri film, skandal bukan lagi aib, melainkan aset naratif yang bernilai ekonomi.
Namun, yang lebih problematis adalah cara film ini membingkai perselingkuhan sebagai konflik personal semata, bukan sebagai persoalan etika sosial. Penonton diajak memahami dilema batin tokoh, tetapi jarang diajak merenungkan dampak sosial dari tindakan mereka. Akibatnya, empati diarahkan pada pelaku, sementara korban dan nilai moral ditempatkan di pinggir cerita.
Dalam konteks masyarakat yang sedang mengalami krisis nilai, film semacam ini berpotensi memperkuat normalisasi perselingkuhan. Ketika pelanggaran komitmen disajikan secara estetis dan emosional, batas antara benar dan salah menjadi kabur. Publik tidak lagi melihat perselingkuhan sebagai problem moral, melainkan sebagai bagian dari dinamika cinta yang wajar.
Film ini juga memperlihatkan bagaimana institusi keluarga diposisikan secara lemah dalam narasi. Ikatan pernikahan digambarkan sebagai sesuatu yang rapuh dan mudah dikalahkan oleh hasrat personal. Dalam jangka panjang, narasi semacam ini bisa menggerus makna komitmen yang menjadi fondasi kehidupan sosial.
Di sisi lain, film Penerbangan Terakhir juga bisa dibaca sebagai kritik implisit terhadap tekanan psikologis dalam profesi tertentu. Dunia penerbangan yang penuh risiko, jadwal padat, dan jarak emosional dengan keluarga bisa menjadi faktor yang mendorong pelarian emosional. Namun, menjelaskan sebab bukan berarti membenarkan tindakan.
Persoalan utama film ini terletak pada pilihan perspektif. Alih-alih menempatkan perselingkuhan sebagai tragedi moral, film justru menempatkannya sebagai drama romantis. Di sinilah industri hiburan menunjukkan wajahnya: nilai etika sering dikorbankan demi kepentingan dramatik dan komersial.
Dalam masyarakat yang semakin dikuasai logika visual dan viral, film semacam ini mudah menjadi konsumsi massal. Publik tidak lagi bertanya apakah cerita ini mendidik, tetapi apakah cerita ini menghibur. Ketika hiburan menjadi ukuran utama, maka nilai-nilai moral perlahan kehilangan otoritasnya.
Namun, menyalahkan film sepenuhnya juga tidak adil. Film hanyalah cermin dari selera dan kondisi sosial masyarakat. Jika kisah perselingkuhan laku di pasaran, itu berarti ada problem yang lebih dalam dalam cara masyarakat memaknai cinta, komitmen, dan kesetiaan. Film ini, dalam arti tertentu, hanya menampilkan wajah jujur dari krisis moral yang sedang kita alami.
Di sinilah pentingnya sikap kritis penonton. Film tidak boleh diterima sebagai kebenaran tunggal, tetapi harus dibaca sebagai teks sosial yang sarat ideologi. Penonton perlu menyadari bahwa setiap adegan, dialog, dan alur cerita mengandung pesan nilai yang tidak netral.
Film Penerbangan Terakhir pada akhirnya bukan hanya tentang perselingkuhan pilot dan pramugari, tetapi tentang bagaimana masyarakat modern merayakan skandal sebagai tontonan. Ia menunjukkan bahwa dalam budaya populer, batas antara tragedi dan hiburan semakin tipis, dan moralitas semakin mudah dinegosiasikan.
Jika film ini hanya dinikmati sebagai drama romantis, maka ia akan berlalu sebagai hiburan sesaat. Namun, jika dibaca secara kritis, film ini bisa menjadi refleksi tentang krisis nilai yang lebih luas: krisis komitmen, krisis profesionalitas, dan krisis makna cinta dalam masyarakat modern.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah apakah film ini menarik atau tidak, melainkan nilai apa yang sedang kita normalisasi melalui cerita-cerita semacam ini. Jika perselingkuhan terus diproduksi sebagai kisah cinta yang indah, maka yang sedang kita rayakan bukanlah cinta, melainkan keretakan moral yang dibungkus estetika.


















