Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Ramadan 2026: Puasa atau Sekadar Menahan Lapar?

×

Ramadan 2026: Puasa atau Sekadar Menahan Lapar?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Nashrul Mu’minin, Content Writer tinggal di Yogyakarta

Ramadan selalu menjadi momentum spiritual yang dinanti umat Muslim di seluruh dunia. Namun, memasuki Ramadan 2026, ada pertanyaan yang kian relevan: Apakah puasa hanya menjadi ritual menahan lapar dan haus, ataukah benar-benar sarana untuk memperdalam kualitas iman? Fenomena sosial menunjukkan bahwa banyak individu menjalankan puasa dengan fokus sempit: mengatur jam makan, menyusun menu sahur dan berbuka, tanpa menyentuh inti spiritual dari ibadah ini.

Example 300x600

Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah latihan untuk menundukkan hawa nafsu, membangun kesabaran, dan meningkatkan empati terhadap mereka yang kurang beruntung. Sayangnya, dalam praktiknya, banyak orang lebih sibuk mengunggah momen berbuka di media sosial ketimbang merenungi hikmah yang terkandung dalam setiap detik menahan lapar. Puasa seharusnya menjadi cermin bagi manusia untuk menilai diri, bukan sekadar ajang kompetisi estetika makanan.

Realitas ini juga diperparah oleh tren “digital FOMO” yang merasuki masyarakat modern. Pesantren digital, kuliner Instagramable, hingga konten hiburan membuat perhatian umat mudah tercecer. Saat perut lapar, hati justru sibuk dengan notifikasi ponsel, bukan merenungi ketergantungan diri kepada Allah. Bukankah puasa seharusnya memurnikan hati dan pikiran, bukan sekadar kalender sosial?

Selain itu, aspek sosial puasa semakin terpinggirkan. Sedekah, zakat, dan kepedulian terhadap sesama—sebenarnya inti dari Ramadan—seringkali hanya formalitas. Banyak orang berpuasa tetapi acuh terhadap lingkungan, tetangga, atau saudara yang kesusahan. Padahal, Qur’an menegaskan, وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (“dan mereka memberi makan, walaupun mereka mencintainya, kepada orang miskin, yatim, dan orang yang ditawan”) (Al-Insan: 8). Puasa tanpa empati hanyalah puasa setengah hati.

Dari sisi psikologis, puasa memiliki fungsi menakjubkan. Menahan lapar dan haus sebenarnya melatih kontrol diri, mengurangi impuls, dan meningkatkan kesehatan mental. Tetapi, ketika niat semata-mata mengikuti arus sosial, manfaat ini hilang. Individu justru merasa terbebani, frustrasi, dan kehilangan makna. Puasa menjadi ritual mekanis tanpa makna, bukan proses transformasi diri.

Lebih tajam lagi, sebagian masyarakat menganggap Ramadan sebagai “libur puasa”, mengurangi aktivitas spiritual, atau sekadar menunggu waktu berbuka untuk menikmati santapan mewah. Pola ini justru bertolak belakang dengan hakikat Ramadan sebagai waktu refleksi diri. Kesalehan lahiriah tanpa kedalaman batiniah adalah ibadah kosong, hanya rutinitas biologis.

Fenomena ini menuntut introspeksi serius dari setiap individu. Ramadan bukan tentang siapa paling disiplin menahan lapar, melainkan siapa paling berhasil membersihkan hati, menundukkan ego, dan menyalurkan kebaikan kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda, الصيام جنة (“Puasa adalah perisai”), bukan sekadar menahan lapar, tapi menjadi perisai diri dari perbuatan tercela dan hawa nafsu.

Pemerintah dan lembaga keagamaan juga memiliki peran penting. Edukasi tentang esensi puasa perlu dikedepankan lebih dari sekadar aturan sahur dan berbuka. Dakwah harus menyentuh dimensi spiritual, sosial, dan psikologis puasa. Digitalisasi dakwah pun harus diarahkan agar umat tidak tersesat dalam hiburan semu, tetapi diarahkan kepada refleksi dan amal nyata.

Ramadan 2026 adalah momentum bagi umat untuk menata ulang niat. Jangan biarkan puasa hanya menjadi “kontes tahan lapar”. Jadikan ia waktu evaluasi diri, latihan kesabaran, dan sarana meningkatkan ketakwaan. Sebuah Ramadan yang bermakna adalah Ramadan yang memuliakan hati, bukan perut semata.

Akhirnya, pesan tajamnya jelas: Menahan lapar tanpa menahan hawa nafsu hanyalah ritual biologis. Puasa sejati adalah ketika setiap detik yang kita lalui menjadikan hati lebih bersih, empati lebih besar, dan iman lebih kokoh. Ramadan bukan sekadar menahan lapar; ia adalah jalan menuju kesempurnaan manusia seutuhnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Oleh: Haura Astila Rahma Khazim, Santri-Murid Kelas XI…