Oleh: Bagus Kaka Pranedi, Mahasiswa UIN Salatiga
Sebagai makhluk sosial, warga Indonesia menjunjung tinggi makna Bhinneka Tunggal Ika, yaitu “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Semboyan ini seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat agar tercipta suasana yang rukun dan aman. Namun, pada kenyataannya, nilai toleransi kini semakin memudar dan sering kali hanya menjadi slogan semata. Berbagai pertikaian yang terjadi menunjukkan bahwa toleransi belum sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari detik.com, intoleransi merupakan sikap abai atau ketidakpedulian terhadap eksistensi orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam buku Bagaimana Menghancurkan Pikiran-Pikiran Negatif dan Menjadi Pribadi Positif + Bahagia karya Danieda. Sikap ini menjadi ujian besar bagi Indonesia, terutama ketika muncul dalam interaksi sehari-hari, seperti diskriminasi terhadap teman yang berbeda keyakinan atau agama. Perasaan merasa paling benar sering kali mendorong seseorang merendahkan keyakinan orang lain.
Jika sikap tersebut terus dibiarkan, toleransi akan semakin menipis dan berpotensi hilang. Intoleransi dapat menyebabkan renggangnya hubungan pertemanan, hilangnya keakraban, serta memudarnya rasa saling percaya. Padahal, perbedaan seharusnya menjadi kekuatan untuk saling menghargai, bukan alasan untuk merendahkan satu sama lain.
Selain perbedaan keyakinan, intoleransi juga kerap terjadi karena perbedaan warna kulit. Orang berkulit hitam sering mengalami diskriminasi, dikucilkan, bahkan dianggap lebih rendah dibandingkan mereka yang berkulit putih. Anggapan bahwa kulit putih adalah standar kecantikan dan ketampanan membuat banyak orang kehilangan rasa percaya diri. Padahal, kepercayaan diri merupakan fondasi penting bagi seseorang untuk berkembang dan mengekspresikan dirinya. Kurangnya rasa percaya diri bahkan dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti stres yang berkepanjangan.
Dari berbagai contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa intoleransi membawa dampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Jika terus dibiarkan, intoleransi dapat menyebabkan kemunduran bangsa karena melemahkan persatuan dan menyulitkan pemerintah dalam menjalankan pembangunan. Ketidakharmonisan masyarakat juga menghambat pembangunan sarana dan prasarana karena kurangnya kerja sama.
Oleh karena itu, menumbuhkan sikap toleransi menjadi hal yang sangat penting. Toleransi harus dimulai dari kesadaran diri sendiri agar dapat menular kepada orang lain. Dengan menjunjung tinggi toleransi, akan tercipta kerukunan dan keharmonisan di tengah keberagaman. Apabila nilai toleransi benar-benar tertanam dalam diri setiap warga, Indonesia akan menjadi negara yang damai, utuh, dan terbebas dari permusuhan akibat perbedaan suku, ras, budaya, warna kulit, maupun agama.


















