Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Mahasiswa

Liburan Bukan untuk Malas-malasan

×

Liburan Bukan untuk Malas-malasan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Ansor Jazid

Liburan sering kali dipahami sebagai jeda total dari segala aktivitas. Setelah berbulan-bulan berkutat dengan tugas, target, dan tekanan akademik maupun pekerjaan, tidak sedikit orang menganggap liburan sebagai “hak” untuk bermalas-malasan. Bangun siang, tidur berlebihan, menghabiskan waktu di depan layar tanpa tujuan, lalu menunda hampir semua bentuk aktivitas produktif dianggap wajar, bahkan seolah menjadi definisi liburan itu sendiri. Namun, dari sudut pandang psikologi, pemahaman tersebut perlu dikaji ulang. Liburan sejatinya bukan ruang untuk kemalasan, melainkan kesempatan strategis untuk pemulihan diri yang sehat dan bermakna.

Example 300x600

Dalam psikologi, terdapat perbedaan mendasar antara rest (istirahat) dan avoidance (penghindaran). Istirahat merupakan proses aktif untuk memulihkan energi fisik, mental, dan emosional, sedangkan penghindaran adalah upaya menjauh dari tanggung jawab atau tuntutan dengan cara yang tidak adaptif. Ketika liburan diisi dengan perilaku pasif tanpa struktur—seperti tidur berlebihan atau konsumsi media digital tanpa kontrol—yang terjadi bukan pemulihan, melainkan penurunan fungsi regulasi diri. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya rutinitas yang sehat justru dapat memicu rasa hampa, kebosanan kronis, bahkan gejala depresi ringan.

Sebagai mahasiswa psikologi, saya melihat liburan sebagai fase penting dalam proses self-regulation. Pada masa ini, individu memiliki kesempatan untuk mengevaluasi kembali kondisi diri, memahami kebutuhan psikologis yang mungkin terabaikan selama masa sibuk, serta mengatur ulang keseimbangan hidup. Alih-alih berhenti total dari aktivitas, liburan idealnya diisi dengan kegiatan yang bersifat restorative, yaitu aktivitas yang memberi energi, bukan mengurasnya. Membaca buku non-akademik, menulis jurnal refleksi, berolahraga ringan, atau sekadar berjalan santai di ruang terbuka merupakan contoh aktivitas sederhana yang mendukung kesehatan mental.

Masalah muncul ketika produktivitas dipahami secara sempit. Banyak orang menganggap bahwa jika tidak menghasilkan uang atau pencapaian konkret, maka aktivitas tersebut tidak produktif. Padahal, dalam psikologi positif, produktivitas juga mencakup upaya menjaga well-being. Meluangkan waktu untuk mengenal diri sendiri, memperbaiki kualitas relasi sosial, atau mengembangkan minat pribadi adalah bentuk produktivitas jangka panjang yang sering kali luput dari perhatian. Liburan menyediakan ruang yang jarang didapat di tengah rutinitas padat: ruang untuk tumbuh tanpa tekanan.

Selain itu, liburan juga berperan penting dalam pencegahan burnout. Burnout bukan hanya akibat beban kerja berlebih, tetapi juga karena kegagalan individu dalam mengelola jeda. Ketika liburan hanya diisi dengan kemalasan pasif, tubuh memang berhenti bergerak, tetapi pikiran tetap lelah. Sebaliknya, liburan yang terencana dengan baik—meski sederhana—dapat membantu memulihkan rasa kendali, makna, dan motivasi intrinsik. Dalam konteks mahasiswa, hal ini menjadi krusial mengingat masa kuliah adalah fase transisi yang sarat tekanan akademik dan ekspektasi sosial.

Liburan juga memiliki nilai perkembangan psikologis. Pada usia dewasa awal, individu berada pada tahap eksplorasi identitas. Tanpa jadwal yang terlalu kaku, liburan dapat dimanfaatkan untuk mencoba hal baru, mengikuti pelatihan singkat, kegiatan sukarela, atau proyek personal yang selama ini tertunda. Aktivitas-aktivitas tersebut berkontribusi pada pembentukan sense of competence dan autonomy, dua kebutuhan dasar psikologis menurut teori Self-Determination. Dengan kata lain, liburan yang aktif secara mental justru memperkuat kesehatan psikologis.

Penting untuk ditekankan bahwa liburan yang bermakna tidak harus mahal, ambisius, atau penuh target. Intinya bukan seberapa sibuk seseorang selama liburan, melainkan seberapa sadar ia dalam mengelola waktunya. Ada kalanya tubuh memang membutuhkan tidur lebih banyak, dan itu tidak salah. Namun, ketika tidur berlebihan menjadi pola utama liburan, alarm perlu dinyalakan. Keseimbangan antara istirahat dan aktivitas ringan adalah kunci.

Pada akhirnya, liburan bukanlah tentang berhenti menjadi manusia yang bertanggung jawab, melainkan tentang kembali menjadi manusia yang utuh. Malas-malasan mungkin terasa nyaman sesaat, tetapi jarang memberi kepuasan jangka panjang. Sebaliknya, liburan yang diisi dengan aktivitas bermakna—meski sederhana—akan membuat seseorang kembali ke rutinitas dengan kondisi psikologis yang lebih stabil, motivasi yang segar, dan perspektif yang lebih jernih.

Liburan bukan untuk malas-malasan. Liburan adalah momen untuk memulihkan diri, mengenal diri, dan menyiapkan diri. Dari sudut pandang psikologi, itulah bentuk istirahat yang paling sehat dan manusiawi.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *