Oleh: Ahmad Fausi
Di era digital saat ini, informasi beredar dengan sangat cepat seiring perkembangan teknologi. Dalam konteks ini, filsafat kontemporer bukan lagi sekadar wacana akademis, melainkan menjadi sesuatu yang penting untuk membantu manusia menemukan kebenaran. Filsafat kontemporer bersifat pluralistik, reflektif, dan menolak dogma tunggal, sehingga dapat menjadi solusi dalam menghadapi berbagai persoalan di tengah arus informasi yang masif.
Di era digital dan media sosial, masyarakat cenderung mudah mempercayai narasi atau informasi yang beredar hanya karena bersifat viral, tanpa mengetahui kejelasan dan kebenarannya. Filsafat kontemporer mengajarkan kita untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas. Melalui cara berpikir kritis terhadap setiap narasi, kita diajak untuk mempertanyakan: siapa atau apa yang berada di balik informasi tersebut? Mengapa informasi itu bisa muncul dan menyebar? Dalam hal ini, pendekatan hermeneutika membantu kita memahami bahwa setiap informasi memiliki konteks, latar belakang, dan kepentingan tertentu.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat juga membuat sebagian orang kehilangan pegangan terhadap realitas hidup yang nyata. Aliran fenomenologi mengajak manusia untuk kembali “ke hal-hal itu sendiri”, yaitu menghargai pengalaman hidup nyata daripada sepenuhnya bergantung pada dunia digital. Manusia pada dasarnya memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan arah hidupnya sendiri.
Kesimpulannya, filsafat kontemporer merupakan cara berpikir yang dewasa dan reflektif dalam menghadapi kompleksitas zaman. Dengan berfilsafat, kita tidak hanya mencari jawaban tunggal yang kaku, tetapi membuka ruang bagi keberagaman pemikiran. Melalui filsafat, manusia juga ditegaskan sebagai subjek yang bebas dalam menentukan sikap dan pilihan hidupnya.


















