Oleh: AM
Hari ini adalah 7 Januari. Tanggal ini tidak lagi hanya sekadar angka di kalender, melainkan sebuah penanda permanen dalam peta hidup saya—sebuah titik koordinat emosional di mana segala sesuatu berbelok ke arah yang tak terduga. Di tahun 2024, perempuan yang sangat saya cintai memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kami bersama, bukan dengan perpisahan biasa, melainkan dengan memulai sebuah perjalanan baru bersama orang lain. Dia pergi menikah.
Awalnya, tanggal ini terasa seperti monumen kegagalan. Sebuah nisan untuk hubungan yang mati sebelum waktunya, dikelilingi oleh karangan bunga “seandainya” dan “mungkin”. Namun, waktu memiliki caranya sendiri untuk mengajarkan perspektif. Kini, 7 Januari lebih menyerupai sebuah plakat peringatan di sisi jalan panjang, yang menandai sebuah belokan tajam. Saya melihatnya dan mengangguk, “Ah, iya. Di sinilah itu terjadi.” Lalu saya terus berkendara.
Tentang Mengingat dan Tidak Terjebak
Saya tidak pernah melupakan kejadian itu. Melupakannya adalah pengkhianatan terhadap integritas pengalaman hidup saya sendiri. Namun, ada perbedaan besar antara “mengingat” dan “terjebak dalam kenangan”.
Mengingat adalah memiliki sebuah album foto di rak paling atas. Saya tahu album itu ada. Saya tahu isinya adalah potongan-potongan kebahagiaan, tawa, percakapan larut malam, serta akhir yang pahit. Sesekali, saya mungkin mengambilnya, membuka halamannya, dan merasakan segala sesuatu kembali—kedamaian, kegembiraan, dan tentu saja, kepedihan yang tumpul. Lalu, saya akan menutupnya dan meletakkannya kembali. Ia tidak lagi menguasai ruang tamu pikiran saya setiap hari.
Saya ingat bagaimana dunia terasa seperti kehilangan warnanya di minggu-minggu setelahnya. Bagaimana secangkir kopi terasa hambar, bagaimana musik favorit kehilangan nadanya. Tapi saya juga ingat, perlahan-lahan, bagaimana rasa itu kembali. Bagaimana saya menemukan lagu baru yang menyentuh jiwa. Bagaimana senyum tulus pertama yang saya berikan setelahnya terasa seperti kemenangan kecil.
Pelajaran yang Tidak Terduga
Tahun itu memaksa saya untuk belajar, dengan cara yang keras namun efektif:
- Kesendirian Bukan Musuh. Setelah kehilangan seseorang yang menjadi “rumah”, saya terpaksa membangun rumah di dalam diri sendiri. Saya belajar berdiam diri dengan pikiran-pikiran saya, menemukan hobi yang benar-benar saya nikmati (bukan yang kami nikmati bersama), dan menemukan kekuatan dalam kemandirian yang tidak saya sadari sebelumnya. Kesendirian yang dulu menakutkan, kini justru menjadi ruang untuk bernapas dan tumbuh.
- Cinta Bukan Hanya Soal Perasaan, Tapi Juga Pilihan. Dia memilih untuk pergi. Itu adalah sebuah keputusan yang sadar dan dewasa. Memahami hal ini mengubah luka dari perasaan “terkhianati oleh takdir” menjadi menerima sebuah “keputusan manusiawi”. Hal ini membebaskan saya dari narasi korban. Jika cinta adalah pilihan, maka itu berarti suatu hari nanti, seseorang juga akan memilih untuk tetap tinggal. Dan saya juga memiliki pilihan untuk tidak membiarkan keputusannya merusak kapasitas saya untuk percaya di masa depan.
- Resiliensi Itu Seperti Otot. Ia tidak terbangun dengan membaca buku motivasi, melainkan dengan bangun setiap pagi, menjalani hari, dan menghadapi momen-momen kecil yang mengingatkan pada kehilangan—sebuah restoran, sebuah lagu, sebuah bau—dan tetap bertahan. Setiap kali saya berhasil melewatinya tanpa runtuh, otot itu menjadi sedikit lebih kuat. Kini, menghadapi 7 Januari terasa seperti mengangkat beban yang sudah familiar. Berat, tapi saya tahu saya mampu.
- Kehidupan yang Lain Terus Berdenyut. Sementara saya fokus pada kehilangan satu orang, saya hampir melewatkan bagaimana teman-teman dengan setia menunggu di pinggir lapangan, siap menangkap saya jika jatuh. Saya hampir mengabaikan kesabaran keluarga, pekerjaan yang justru menjadi penyelamat melalui rutinitasnya, dan keindahan kecil seperti matahari terbit dalam perjalanan ke kantor. Dunia tidak berhenti, dan pada akhirnya, saya bersyukur untuk itu.
7 Januari, Versi Sekarang
Jadi, apa arti tanggal ini sekarang? Ini adalah hari ulang tahun sebuah versi diri yang lebih tangguh. Saya seperti kapal yang pernah dilanda badai hebat. Badai itu telah berlalu, kapal tidak lagi utuh seperti semula—ada papan yang diganti, tali yang diperbarui, layar yang ditambal. Tapi justru kapal ini yang lebih mengenal lautan, lebih siap menghadapi gelombang, dan lebih menghargai angin sepoi-sepoi.
Tanggal ini juga adalah pengingat akan kemanusiaan saya sendiri. Bahwa saya bisa mencintai sangat dalam, bahwa saya bisa sangat terluka, dan bahwa saya bisa pulih. Rangkaian peristiwa itu membuktikan bahwa saya hidup sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Saya tidak menunggu untuk “sembuh total” atau “sepenuhnya move on” seperti dalam film. Saya menerima bahwa ini adalah sebuah luka bakar tingkat tiga di jiwa—akan selalu ada bekasnya, area yang mati rasa, dan kadang gatal saat cuaca tertentu. Tapi kulit di sekitarnya telah tumbuh kembali, dan area itu tetap menjadi bagian dari tubuh saya yang berfungsi.
Melangkah ke Depan
Kepergiannya bukan akhir dari cerita saya; itu adalah akhir dari sebuah bab. Bab berikutnya adalah tentang saya. Tentang membangun sebuah kehidupan yang tidak lagi didefinisikan oleh “kami” atau “dia”, tetapi oleh “saya”. Tentang membuka diri untuk kebahagiaan dalam bentuk-bentuk baru yang bahkan belum bisa saya bayangkan dulu.
Saya tidak lagi bertanya, “Apa yang salah dengan saya?” tetapi “Kemana saya ingin pergi?” Saya tidak lagi membandingkan setiap orang baru dengan dia, karena itu tidak adil bagi mereka maupun bagi saya. Dia telah menjadi standar masa lalu, bukan patokan masa depan.
Jadi, untuk Anda di sana yang mungkin memiliki “tanggal” Anda sendiri: izinkan diri Anda untuk tidak melupakan. Hormati rasa sakit itu. Tapi jangan biarkan tanggal itu menjadi penjara. Perlahan-lahan, ubah monumen kepedihan itu menjadi sebuah patung keberanian. Karena bertahan, bangkit, dan tetap percaya pada kebaikan hidup setelah patah hati—itu semua adalah bentuk keberanian yang paling nyata.
7 Januari, terima kasih telah menjadi guru yang keras. Pelajaranmu telah dicatat. Dan sekarang, hari ini menunggu untuk ditulis.


















