Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Fiksi Mini

Siapa Bilang Harta Tidak Dibawa Mati?

×

Siapa Bilang Harta Tidak Dibawa Mati?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pagi itu berjalan seperti biasa. Tidak ada poster, tidak ada spanduk, tidak ada seruan. Hanya warung kopi yang membuka pintu lebih awal, asap tipis dari gelas-gelas panas, dan orang-orang yang datang membawa pikirannya masing-masing. Di tempat seperti ini, obrolan jarang dimulai dengan niat besar. Ia tumbuh pelan, dari kegelisahan kecil yang belum sempat diberi nama.

Bang Satrio datang lebih dulu. Ia duduk menghadap jalan, punggungnya lurus, tapi matanya lelah. Bukan lelah fisik—lebih seperti orang yang terlalu lama menahan sesuatu agar tidak tumpah. Bang Kaydin menyusul beberapa menit kemudian. Wajahnya tenang, hampir damai. Seperti orang yang sudah selesai berdebat dengan dirinya sendiri.

Example 300x600

“Lu dengar ceramah Ustadz Begah semalam, Bang Kay?” tanya Bang Satrio, tanpa pembuka.

Bang Kay mengangguk.
“Iya. Lumayan menenangkan.”

Bang Sat tersenyum tipis.
“Menenangkan siapa?”

Bang Kay menghela napas.
“Umat, Bang Sat. Orang-orang capek.”

Bang Sat mengaduk kopinya pelan.
“Capek karena apa?”

“Capek hidup,” jawab Bang Kay. “Capek ngejar ini-itu.”

Bang Sat mengangguk.
“Terus dia bilang apa?”

“Harta tidak dibawa mati,” kata Bang Kay. “Yang penting bahagia. Hidup tidak harus banyak uang.”

Bang Sat berhenti mengaduk.
“Dia datang naik apa?”

Bang Kay diam sebentar.
“Alphard.”

Bang Sat tersenyum, kali ini tanpa humor. “Lu tahu kan, kenapa kalimat itu terdengar salah di telinga gue?”

“Karena lu sensitif?” tanya Bang Kay.

“Karena kalimat itu turun dari atas,” jawab Bang Sat. “Bukan dari bawah.”

Ada jeda. Warung tetap ramai.

“Itu bukan nasihat,” lanjut Bang Sat.
“Itu apologi.”

“Apologi buat siapa?” tanya Bang Kay.

“Buat keadaan yang tidak mau diubah,” jawab Bang Sat. “Buat ketimpangan yang disuruh diterima sebagai kebahagiaan.”

Bang Kay menyeruput kopi.
“Tapi secara akidah, bener kan? Harta memang tidak dibawa mati.”

Bang Sat menatapnya lama.
“Dibawa.”

Bang Kay mengernyit.
“Maksud lu?”

“Harta dibawa mati,” kata Bang Sat pelan, “caranya dengan diinfaqkan. Disedekahkan.”

Bang Kay terdiam.

“Yang tidak dibawa itu harta yang ditumpuk,” lanjut Bang Sat. “Yang dibawa justru yang dilepas.”

Bang Kay mengangguk pelan.
“Masuk.”

Bang Sat melanjutkan setelah jeda.
“Lu sadar nggak, kenapa contoh paling awal dalam Islam itu bukan pertapa, tapi pedagang?”

Bang Kay mengangkat alis.
“Maksud lu Nabi?”

“Iya,” jawab Bang Sat. “Muhammad sudah berdagang sejak belia. Ikut kafilah, bawa barang lintas kota. Kenal risiko, kenal untung-rugi.”

Bang Kay mengangguk.
“Dikenal jujur.”

“Dan profesional,” lanjut Bang Sat. “Bukan orang yang alergi uang.”

Ia mencondongkan badan sedikit.
“Muhammad muda menikah dengan Khadijah—seorang janda kaya raya, pengusaha besar yang memiliki bisnis besar lintas wilayah, dikenal mandiri, cerdas, dan dermawan, sering disebut sebagai salah satu perempuan “crazy rich” Arab Saudi pertama.”

Bang Kay terdiam.

“Baru pada usia empat puluh,” lanjut Bang Sat, “datang panggilan kenabian. Dan sejak itu, semua yang dulu dikumpulkan—uang, kenyamanan, posisi—habis buat perjuangan.”

Bang Kay menimpali pelan,
“Jadi berjuang itu bukan dari nol.”

“Bukan,” jawab Bang Sat. “Berjuang itu dari cukup, lalu rela habis.”

Ada jeda panjang.

“Sekarang kebalik,” kata Bang Sat. “Banyak elite agama mulai dari nol, lalu berhenti di cukup. Bahkan lebih.”

Bang Kay menghela napas.
“Amplop, donasi, monetisasi.”

“Dan ceramah tentang zuhud,” tambah Bang Sat, “di atas panggung ber-AC.”

Bang Kay menatap meja.
“Umat juga yang minta.”

“Iya,” jawab Bang Sat. “Tapi permintaan umat sering dibentuk oleh apa yang terus-menerus ditawarkan.”

Bang Kay terdiam.

“Jihad itu berat,” kata Bang Sat lagi. “Dan berat itu bukan cuma soal niat.”

“Lu mau balik ke soal uang,” kata Bang Kay.

“Iya,” jawab Bang Sat. “Karena perjuangan itu berjUANG dengan UANG.”

Bang Kay tersenyum tipis.
“Main kata lagi.”

“Main realitas,” jawab Bang Sat.

“Ada pikiran tanpa uang,” lanjut Bang Sat, “hasilnya angan-angan.”

“Ada uang tanpa pikiran,” sambung Bang Kay, “hasilnya proyek gagal.”

Bang Sat mengangguk.
“Dan kegagalannya sering ditutup dengan ceramah keikhlasan.”

Warung makin riuh. Pesanan datang.

“Gue nggak anti ikhlas,” kata Bang Sat.
“Gue anti kesalehan yang terlalu nyaman.”

Bang Kay mengangguk pelan.
“Lu takut agama jadi industri.”

“Bukan jadi,” jawab Bang Sat. “Sudah.”

Ia berdiri, merapikan jaketnya.

“Makanya gue masih berjuang,” katanya. “Karena tanpa pikiran, perjuangan jadi slogan. Tanpa uang, jadi wacana.”

Bang Kay menatapnya.

“Dan tanpa kejujuran,” lanjut Bang Sat, “agama tinggal brand.”

Di luar, mobil mewah melintas. Di dalam, kopi sudah dingin.

Bang Sat masih berjuang. Dan hari ini, itu sudah cukup.

Bang Sat melangkah pergi lebih dulu. Bang Kay masih duduk, menatap sisa kopi yang dingin. Tidak ada pemenang dalam obrolan itu. Tidak juga ada yang benar-benar kalah. Yang ada hanya satu kesadaran kecil yang tertinggal di meja warung: bahwa perjuangan tidak pernah sesederhana slogan, dan keikhlasan tidak pernah bisa dipisahkan dari tanggung jawab.

Di luar, hidup tetap berjalan. Tagihan tidak menunggu orang selesai berdzikir. Anak-anak tidak bisa ditunda makannya hanya karena ayahnya sedang mencari makna. Dan perjuangan, sekeras apa pun dikemas secara spiritual, tetap membutuhkan alat-alat duniawi.

Mungkin di situlah letak pelajarannya.

Islam memandang dunia sebagai sesuatu yang realistis, yang diperlukan untuk perjuangan, termasuk harta di dalamnya. Bahwa harta memang bukan tujuan, tapi juga bukan sesuatu yang harus dimusuhi, apalagi hanya untuk apology. Ia adalah sarana. Bahkan Nabi sendiri mengingatkan, bahwa ada hal-hal yang tetap ikut ketika manusia mati. Dalam sebuah hadis disebutkan: Apabila anak Adam wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara—sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Kata kuncinya bukan hanya pada kematian, melainkan juga pada frasa “terputuslah, kecuali” yang berarti “tidak terputus.” Sebab jika sesuatu tidak terputus setelah kematian, berarti ia menyeberang bersama manusia melewati mati itu sendiri. Ia tetap dicatat, tetap bernilai, tetap menjadi bekal. Dalam pengertian inilah, sedekah jariyah adalah bentuk paling nyata dari harta yang dibawa mati.

Bukan bendanya yang ikut, tapi dampaknya. Bukan nominalnya, tapi alirannya.

Sedekah jariyah tidak lahir dari kehampaan. Ia lahir dari harta yang diusahakan, lalu dilepaskan. Dari uang yang tidak ditimbun, tapi dialirkan. Dari kesadaran bahwa menunda kebaikan sering kali berarti kehilangan kesempatan.

Jangan salah, bukan hanya sedekah jariyah yang menuntut kesiapan harta. Dua perkara lain yang disebut Nabi—ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan—juga lahir dari proses panjang yang tidak murah. Untuk memperoleh ilmu, dibutuhkan bulghah, bekal dan biaya yang cukup. Terlebih di era yang kian materialistik dan kapitalistik, ketika pendidikan terbaik sering kali hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki uang lebih. Begitu pula anak yang saleh: ia tidak tumbuh dari kekurangan yang dimuliakan secara romantik. Mencukupi gizi tidak bisa dilakukan dengan makan seadanya. Memberikan pakaian yang layak, tempat tinggal yang aman, lingkungan yang sehat, dan pendidikan yang baik—semuanya membutuhkan uang yang tidak sedikit. Kesalehan, dalam pengertian ini, bukanlah hasil dari kemiskinan yang diterima, melainkan dari tanggung jawab yang ditunaikan.

Al-Qur’an sendiri tidak mengajarkan pelepasan yang pasif. Ia justru memberi peringatan keras tentang penundaan, tentang ilusi “nanti”, tentang kesadaran yang datang terlambat. Dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10, Allah berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang saleh?’”

Ayat itu tidak berbicara tentang harta yang ditinggalkan, tetapi tentang harta yang gagal dialirkan. Tentang kesempatan yang ada, namun ditunda. Tentang manusia yang baru ingin melepas ketika sudah tak lagi punya waktu.

Maka mungkin, masalahnya bukan pada harta yang dibawa atau tidak dibawa mati. Masalahnya adalah: selagi hidup, apakah harta itu pernah benar-benar diperjuangkan dan diperjuangkan untuk apa.

Dan di antara kopi yang dingin, jalanan yang ramai, serta ceramah-ceramah yang menenangkan, pertanyaan itu tetap menggantung—menunggu dijawab, bukan dengan kata-kata, tapi dengan pilihan hidup dan tafsir yang membangkitkan.

Dari buku “Apologia Aktivis Kampret” oleh Mokhamad Abdul Aziz

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fiksi Mini

Oleh: Abyan Altaaf Ibrahim, Santri-Murid SMP Alam Nurul…