Oleh: Alhamana Dafa Akbar, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon Rembang, Ketua Umum PK PII Planet Nufo Rembang
Pagi itu langit masih berselimut cahaya matahari yang belum sepenuhnya terbit. Dengan tas di punggung, aku bersiap mengikuti kegiatan Basic Training PII (BATRA) yang akan berlangsung selama satu minggu di Surakarta. Tepat pukul 07.00, aku berangkat bersama dua orang temanku menggunakan mobil. Perjalanan yang kami tempuh sekitar empat jam, bergerak dari wilayah perbatasan provinsi menuju sedikit ke arah barat.
Perjalanan empat jam itu terasa singkat. Kami berangkat pukul 07.00 dan tiba sekitar pukul 11.30. Lokasi tujuan kami adalah SMP Al-Firdaus Surakarta, yang menjadi titik awal perjumpaan dengan teman-teman baru yang kelak terasa seperti saudara. Tak jauh dari lokasi, terdapat sebuah warung makan ayam geprek. Kakak-kakak panitia mengajak kami makan terlebih dahulu karena matahari sudah mulai terasa terik.
Warung ayam geprek itu menawarkan menu yang sangat murah. Aku langsung memesan dua porsi sekaligus, lengkap dengan es teh jumbo. Rasanya sangat memuaskan—ayamnya enak, dan es teh jumbo terasa begitu segar setelah perjalanan panjang.
Selesai makan, kami kembali ke lokasi kegiatan. Setibanya di sana, kami ditunjukkan kamar tidur yang akan kami tempati selama satu minggu bersama puluhan orang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Karena lelah perjalanan dan perut yang kenyang, aku dan teman-teman pun tertidur hingga waktu Ashar tiba.
Saat bangun, aku mendapati beberapa peserta lain sudah datang. Ternyata mereka berasal dari PII Kudus. Kami saling berkenalan, meski masih sebatas nama dan asal daerah. Interaksi kami belum terlalu dalam, namun cukup untuk mencairkan suasana.
Sore berlalu, malam pun datang. Seusai salat Magrib, kami makan malam bersama kakak-kakak panitia dan teman-teman dari PII Kudus. Obrolan mengalir tentang pengalaman, sekolah, dan hal-hal yang kami sukai. Malam itu menjadi momen pertamaku bercerita cukup panjang dengan teman-teman baru. Tanpa terasa, jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.20. Aku pun berpamitan untuk membersihkan diri sebelum tidur.
Menjelang fajar, kami dibangunkan untuk salat Subuh berjamaah di musala yang berada di samping gedung tempat kami menginap. Setelah Subuh, aku membaca pesan di grup yang menginstruksikan peserta untuk bersiap mengikuti pembukaan kegiatan pada pukul 08.00. Aku mengajak teman-temanku mandi, dan setelah selesai, kami mendapati ruangan sudah dipenuhi puluhan peserta dari berbagai daerah—Pati, Semarang, Kudus, Solo, Boyolali, dan masih banyak lagi.

Pembukaan LKP Surakarta berlangsung dalam suasana canggung. Aku duduk bersebelahan dengan seseorang yang belum kukenal. Dengan sedikit gugup, aku mengulurkan tangan dan memberanikan diri menyapa.
“Namamu siapa?” tanyaku.
“Aku Jaya, dari Pati. Kalau kamu?” jawabnya santai.
“Aku Dafa, dari Rembang,” jawabku, meski masih terasa tegang.
Usai pembukaan, aku menjemput temanku yang datang terlambat. Namanya Keyla—nama yang sering membuat orang mengira ia perempuan, padahal ia laki-laki. Keyla merupakan alumni Planet Nufo yang baru lulus pada tahun 2025, sehingga saat itu ia masih duduk di kelas 10 MA.
Aku mengajaknya ke musala karena azan Zuhur telah berkumandang. Setelah salat, kami menuju ruangan untuk menyimpan barang. Di sana, aku mendapat kabar dari temanku sesama Rembang.
“Eh, Dap, Lintang disuruh pulang sama orang tuanya,” ucap Luthfi.
“Kok bisa? Ayo tanya Mas Agha,” kataku terkejut, merujuk pada Ketua Umum PD Rembang.
Aku pun menelepon Mas Agha dan diminta menemui ketua panitia.
“Halo, Kak, permisi,” sapaku.
“Ada apa?” tanya ketua panitia.
“Teman saya ada keperluan di Blora,” jelasku.
Mas Agha kemudian menjelaskan situasinya melalui telepon. Namun, panitia menegaskan bahwa peserta tidak diperbolehkan keluar lokasi lebih dari dua jam.
“Kalau begitu, ya sudah,” jawab Mas Agha pasrah.
Tak lama kemudian, Lintang menghampiriku.
“Eh, Dap, ayo bantuin aku angkat barang-barangku,” pintanya.
“Yuk,” jawabku, dengan perasaan campur aduk.
Kepergian Lintang menyisakan aku, Luthfi, dan Keyla di tempat itu. Setelah semuanya selesai, aku menuju kelasku—lokal 4. Di ruang itulah aku akan menjalani proses bersama teman-teman yang awalnya terasa asing, namun perlahan berubah menjadi saudara, meski tak sedarah.
Bersambung….














