Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Cerpen

Senjata Tanpa Api

×

Senjata Tanpa Api

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Planet Nufo Rembang asal Boyolali.

Lima ratus tahun yang lalu, di Pulau San Bermuda…

Example 300x600

Sebulan telah berlalu. Hidup Lily terasa tentram seperti biasa. Suatu pagi, ibunya memintanya membeli sayur. Dalam perjalanan, semuanya tampak baik-baik saja—hingga tiba-tiba terdengar suara,
“DOR! DOR! DOR!”
Suara tembakan menggema dari segala arah.

Lily sadar ia salah jalan. Ia memasuki kawasan perang. Rasa takut menyergap, namun langkahnya terlanjur jauh. Tiba-tiba,
“DUARRR!”
Bom Brasil dijatuhkan oleh pihak musuh. Lily hampir tumbang, tubuhnya terhempas oleh ledakan—

“Byurrr…”
“Bangun, Nak. Sudah waktunya sekolah.”

Ternyata semua itu hanya mimpi.

Namanya Lily, akrab dipanggil Ly. Ia bersekolah di Sekolah Ilmu Hytam San Peak, tempat para murid diajarkan jurus-jurus warisan nenek moyang. Jurus-jurus itu terdengar nyaris gaib, seperti jurus Iwak Mabur, Nogo Mabur, dan banyak lagi.

“Kringgg… kringgg…”
Tanda pelajaran dimulai.

Di kelas, guru menjelaskan pentingnya menggunakan jurus dengan bijak. Namun Lily hanya mengingat sedikit dari penjelasan panjang itu. Saat bel istirahat berbunyi, suasana berubah riuh. Para murid berlarian, jajan, dan bercanda. Namun kali ini terasa berbeda. Lily melihat teman-temannya tampak rakus dan tak terkendali.

“Ly, ayo jajan. Enak, lo!” kata seorang teman.

Lily hanya mengangguk sambil tersenyum. Tiba-tiba, segerombolan polisi datang dan menangkap penjual jajanan. Ternyata bahan yang digunakan adalah bahan terlarang. Penjual disidang, murid-murid dibawa ke rumah sakit. Lily heran—dunia terasa tak lagi sama seperti dulu.

Tak lama kemudian,
“Whussss… DUARRRR!”
Kekuatan petir dari pulau sebelah melesat dan menghantam wilayah pemukiman.

Ledakan itu mengarah ke rumah Lily. Ia berlari secepat mungkin. Namun sesampainya di sana, rumahnya telah hancur. Di antara puing-puing, ia menemukan orang tuanya terkapar, tak berdaya. Lily berteriak meminta tolong, tetapi energi mematikan menghalangi siapa pun mendekat. Ia hanya bisa menyaksikan orang tuanya kesakitan tanpa mampu menolong.

Sejak hari itu, Lily menyimpan dendam pada Pulau San Tres.

Tujuh tahun berlalu.

“DUARRR! Fyuuuu! Clink! Dor!”
Suara peperangan kembali mengguncang Pulau San Bermuda. Ledakan, teriakan, dan kekacauan terjadi di mana-mana.

Lily ikut bertempur. Namun ia masih pemula. Demi membalas dendam, ia memaksakan diri mengeluarkan kekuatan turun-temurun yang belum mampu ia kendalikan. Energi liar menghantam tubuhnya sendiri. Ia kesakitan dan akhirnya terkapar. Lainzard—teman masa kecilnya—sebenarnya telah memperingatkannya, tetapi Lily tetap keras kepala.

Teman-temannya ingin menolong, namun terjebak dinding tak terlihat. Musuh makin mendekat.

Tiba-tiba,
“DUAR! BLEDEK! BLEDEK!”
Petir menyambar tubuh Lily. Aura gelap muncul dari dirinya. Perlahan, ia bangkit.

“Clink-clink… DUARRR!”
Kekuatan Lily meledak dahsyat. Musuh kewalahan, hampir rata dengan tanah. Namun di tengah pertempuran, Lily teringat wajah orang tuanya. Ia melamun sejenak. Saat lengah, musuh menyerang dari belakang. Dengan sisa tenaga, Lily mengaktifkan jurus pamungkas—ulti—yang menghancurkan segalanya.

Ketika debu mereda, Lily kembali terkapar. Aura gelap masih menyelimuti tubuhnya. Saat teman-temannya mendekat, Lily mendadak mengamuk dan refleks mengeluarkan jurus kembali.

“Ly, sadar, Ly!”
teriak mereka panik.

Lainzard mencoba membangkitkan kesadaran Lily dengan mengingatkan masa lalu mereka bersama. Usaha itu hampir sia-sia—bahkan Lily sempat tak sengaja mengaktifkan ulti sekali lagi. Namun berkat kerja keras dan keberanian teman-temannya, Lily akhirnya tersadar.

Ia menyadari masih ada aura gelap yang terperangkap dalam dirinya. Namun Lily memilih menjalani hidup seperti biasa, meski tanpa tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Oh ya, Lainzard adalah sahabat Lily sejak kecil. Itulah sebabnya ia sering muncul dalam cerita ini.

Cerita pun berakhir.
Maaf jika ending-nya membingungkan—namanya juga manusia, wajar bingung.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Adam Mahir Zain, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Cerpen

Oleh: Putri Syakseiah Mahiraswara, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah…