Oleh: Abyan Altaaf Ibrahim, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Jakarta
Di sebuah rumah sederhana di Jakarta, seorang anak duduk termenung di sudut ruang tamu. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang masa depan. Ia berada di persimpangan penting dalam hidupnya: menentukan ke mana ia akan melanjutkan pendidikan pada jenjang SMP. Pilihan ini bukan perkara mudah, sebab untuk pertama kalinya ia harus berpisah dari rumah dan keluarga.
Sang ibu telah memberikan tiga rekomendasi sekolah, yaitu Pondok Gontor, Planet NUFO, dan Al-Fatih. Masing-masing memiliki keunggulan dan ciri khasnya sendiri. Hari-hari pun ia lalui dengan penuh pertimbangan. Ia membayangkan bagaimana lingkungan sekolah tersebut, sistem pendidikannya, serta kehidupan yang akan ia jalani jika harus tinggal di asrama dan jauh dari orang tua.
Setelah melalui banyak pemikiran dan diskusi bersama keluarga, perlahan hatinya mulai mantap. Ia akhirnya memilih Planet NUFO, sebuah sekolah yang terletak di Rembang, Jawa Tengah. Keputusan itu terasa berat sekaligus melegakan. Ada rasa senang karena akan memulai petualangan baru, tetapi juga terselip kegugupan dan kecemasan karena harus meninggalkan kenyamanan rumah.
Hari-hari menjelang keberangkatan diisi dengan berbagai persiapan. Ia mulai mengemas pakaian, perlengkapan sekolah, buku-buku, serta kebutuhan pribadi lainnya. Setiap lipatan pakaian yang dimasukkan ke dalam tas seolah menjadi pengingat bahwa hidupnya akan segera berubah. Tak lama kemudian, jadwal keberangkatan pun ditentukan, yakni keesokan hari pada dini hari.
Pagi buta, tepat pukul 03.30, ia bersama keluarganya berangkat dari rumah. Jakarta masih terlelap saat mobil mereka melaju memasuki jalan tol. Lampu-lampu jalan berpendar samar, sementara rasa lelah perlahan membuat matanya terpejam. Ia tertidur di perjalanan, diiringi pikiran tentang kehidupan baru yang menantinya.
Beberapa jam kemudian, ia terbangun ketika mobil berhenti di rest area KM 122. Udara pagi terasa sejuk. Mereka turun untuk beristirahat sejenak. Ia menunaikan salat, lalu makan bersama keluarga. Di tempat itu, ia kembali termenung, menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar perjalanan menuju kota lain, melainkan langkah awal menuju kemandirian.
Setelah cukup beristirahat, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Rembang. Jam demi jam berlalu, pemandangan di luar jendela terus berganti—dari gedung-gedung tinggi hingga hamparan sawah dan pepohonan. Hatinya perlahan menjadi lebih tenang. Ia mulai menerima bahwa keputusan ini adalah bagian dari proses tumbuh dan belajar.
Ia tahu, mondok bukan hanya soal belajar di kelas, tetapi juga tentang membentuk karakter, melatih kedisiplinan, dan belajar hidup bersama orang lain. Dengan keyakinan yang semakin kuat, ia melangkah menuju masa depan yang baru, penuh harapan, pengalaman, dan pelajaran berharga yang kelak akan membentuk dirinya.


















