Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Pelajar

Jejak Langkah di LKP: Cerita, Lelah, dan Keluarga Baru

×

Jejak Langkah di LKP: Cerita, Lelah, dan Keluarga Baru

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Kanzhu Nurisy Syarofi, Santri-Murid Kelas XI, Pengurus PK PII Planet Nufo Rembang

Di kala itu, pondok tercintaku terasa terlalu sunyi. Aku terbangun dan spontan menyadari bahwa tepat pada tanggal 26 Desember 2025, satu hari sebelum keberangkatanku menuju LKP (Latihan Kepemimpinan Pelajar). Sebelum berangkat, aku pulang ke rumah terlebih dahulu untuk menyiapkan peralatan. Setibanya di rumah, aku langsung menemui kakek dan nenek yang sedang membersihkan rumah.

Example 300x600

“Assalamualaikum, mbah,” ujarku kepada nenek.
“Waalaikumsalam, eh cucuku,” jawab nenek dan kakek yang sedang membersihkan lantai.
“Loh, liburan kok pulang?” tanya nenek.
“Enggak mbah, ini mau pamitan sama orang rumah,” kataku.

Di waktu yang sama, aku bertemu ibu dan ayah. Tanpa pikir panjang, aku menyampaikan bahwa aku akan mengikuti LKP yang diadakan oleh PD PII Kota Semarang. Usaha itu membuahkan hasil karena aku mendapatkan izin dari orang tua. Saat itu pula terdengar kalimat yang sangat aku tunggu-tunggu.

“Mas, sudah ada uang saku?” tanya ayah sambil mengambil uang.
“Oh tentu saja, habis buat jajan kemarin,” jawabku sambil tersenyum.
“Nih uang saku buat seminggu, habis lo ya,” kata ayah.
“Makasih, yah,” kataku sambil menerima uang.

Aku mencium bau apek dari baju, tanda bahwa sudah waktunya mandi. Sesampainya di kamar mandi, aku melepas armorku dan membersihkan diri. Setelah mandi, aku menuju kamar untuk mempersiapkan perlengkapan. Yang pertama kupersiapkan adalah kemeja dan alat tulis, disusul kaos serta sepatu yang wajib dipakai.

Setelah persiapan selesai, aku mengajak ayah berbelanja di supermarket terdekat sekaligus mengantarku kembali ke pondok. Sesampainya di supermarket, aku mengambil keranjang dan mataku langsung tertuju pada parfum favoritku. Tanpa ragu, parfum itu langsung masuk ke keranjang belanja.

Tak berhenti di situ, aku menuju lemari pendingin di pojok kiri supermarket dan mengambil lima bungkus sosis berukuran 14 cm.
“Yah, aku ambil ini ya?” tanyaku.
“Iya, tidak apa-apa,” jawab ayah.

Setelah membayar di kasir yang berada di dekat jendela, tasku pun terisi penuh. Kami langsung menuju pondok. Sepanjang perjalanan, rasanya seperti pertama kali masuk pesantren. Pemandangan perkotaan dan pedesaan seakan menyatu, menghadirkan nostalgia tersendiri. Sesampainya di pondok, aku mencium tangan ayah untuk berpamitan.

“Makasih yah, hati-hati,” kataku.
“Iya mas, sama-sama,” jawab ayah.

Dengan perasaan yang masih tertinggal di rumah, aku berjalan menuju distrik tempat berkumpulnya teman-teman. Di sana, aku bertemu Mas Rosyid dan Mas Farih selaku senior. Tanpa kusadari, dari belakang muncul sosok bocah tengil namun baik hati bernama Hasbi yang mengagetkanku.

“Mas, sambal pesananku mana?” tanyanya penuh harap.
“Lupa, Bi. Maaf,” jawabku.
“Lain waktu tak bawakan,” ucapku sambil meminta maaf.

Aku menaruh tasku di cantolan distrik, lalu merapikan barang dan meregangkan pundak yang terasa pegal. Waktu menunjukkan pukul 07.30, aku menuju sekolah. Di sana aku mendapat kabar bahwa keberangkatan menuju LKP dijadwalkan pukul 13.00. Setelah sekolah usai, aku kembali ke distrik untuk bersiap.

Tepat pukul 13.00, sebuah elf berwarna merah hati tiba di depan pondok. Hujan deras mengguyur jalanan saat kami memasukkan barang ke bagasi. Namun, aku bersama dua kakak kelasku tidak menaiki elf hingga akhir karena kapasitas tidak mencukupi. Tujuan pertama kami adalah Alun-Alun Rembang.

Di perjalanan, aku berkenalan dengan teman di sampingku yang ternyata juga akan mengikuti LKP. Namanya Akmal, berasal dari Lasem.
“Kelas berapa, Mas?” tanyaku.
“Kelas 10, Mas. Kalau Mas?”
“Kelas 11,” jawabku.
“Loh, tua dong. Jangan panggil saya Mas,” katanya.
“Lebih enak manggil Mas, soalnya kumismu tebal,” jawabku sambil menahan tawa.

Setibanya di Alun-Alun Rembang, kami turun untuk mencari bus. Azan Asar berkumandang, aku dan Mas Ian menuju masjid, sementara satu teman lain menunggu bus. Setelah salat, kami naik bus ekonomi menuju Semarang. Empat jam perjalanan terasa singkat hingga kami tiba di Terminal Terboyo.

Kami langsung menuju masjid untuk salat Magrib, lalu Mas Ian memesan Maxim menuju lokasi LKP di SD Ma’had Islam. Setibanya di sana, kami tidak langsung istirahat, melainkan pergi ke Kota Lama. Kami mengunjungi Gereja Blenduk dan sebuah kedai kopi, meski akhirnya justru memesan es kopi.

Malam itu kami kembali ke lokasi LKP dalam keadaan lelah dan mengantuk. Setelah membersihkan diri, kami beristirahat. Azan Subuh membangunkanku ketika salah satu teman, Itqon, membangunkan kami dengan suara tegas. Setelah salat berjamaah, kami sarapan dan bersiap mengikuti pembukaan.

Di sela waktu, aku berkenalan dengan Jalu dari Blora. Kami mengobrol tentang masa depan dan kehidupan sambil sarapan bersama. Pembukaan berlangsung khidmat dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Setelah itu, kami menjalani skrining dan pembagian lokal. Awalnya aku mendapat lokal 1, namun kemudian dipindahkan ke lokal 3 bersama Mas Ian dan Jalu.

Di lokal tersebut, kami duduk membentuk huruf U agar saling berhadapan. Satu per satu kami memperkenalkan diri. Ikatan mulai terbangun. Kami membuat kontrak belajar dan struktur lokal agar kegiatan terkoordinasi. Materi disampaikan dengan jelas, meski rasa kantuk membuatku tidak maksimal mencatat.

Hari-hari berikutnya diisi dengan kegiatan padat, outbound, materi, hingga malam puncak pergantian tahun. Kami menonton vlog tiap lokal dan menyaksikan kembang api bersama. Kebersamaan itu terasa nyata, bukan sekadar cerita.

Rasa kekeluargaan semakin kuat ketika suatu hari tubuhku terasa sangat lemas hingga hampir tak ikut kegiatan. Namun teman-teman lokal menjemputku dan mengajakku kembali, seolah aku adalah awak kapal yang tak boleh tertinggal.

Tanggal 1 Januari 2026 menjadi hari terakhir kegiatan. Kami mengikuti penutupan, makan bersama, dan berfoto sebelum perpisahan. Dua teman kami, Syifa dan Mbak Shofi, dijemput lebih dulu. Kami mengantar mereka hingga tak terlihat lagi.

Sore hari, kami bersiap pulang. Sebelum kembali ke pondok, aku sempat menemui alumni pondok bernama Adam di Kota Lama. Setelah berpamitan, elf penjemput tiba. Aku membawa barang-barangku dan berpamitan dengan teman-teman.

Perjalanan pulang pun dimulai. Kegiatan ini memberiku pengalaman, pelajaran, dan rasa kekeluargaan yang tidak akan pernah kulupakan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *