Oleh: Husna Kamila Anwar, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon Rembang asal Semarang
Di bawah langit biru nan teduh, berdirilah sebuah rumah di kawasan perbukitan. Dari jendela sebuah kamar, tampak seorang gadis duduk menatap layar laptopnya. Gadis itu sejatinya manis, dengan mata biru yang jernih. Namun kali ini wajahnya tampak lesu, masam bagaikan awan kelabu yang menahan hujan. Di bawah matanya terlukis dua lingkaran hitam, tanda kurang istirahat. Rambutnya kusut, meja belajarnya berantakan. Ia tampak seperti manusia yang tak terurus—ibarat gelandangan di tengah jalan. Gadis itu adalah aku.
Selama dua hari terakhir, aku merajut kata demi kata untuk menuntaskan sebuah cerpen. Aku begadang hingga subuh, terkadang lupa makan karena waktu terasa bergulir terlalu cepat, seperti bayangan yang tak pernah singgah. Semua kulakukan demi menyelesaikan tulisanku. Hingga akhirnya, hari ini, saat jarum jam membisikkan pukul 13.00, cerpen itu rampung.
Namun, setelah selesai, aku berniat meminta saran dari artificial intelligence. Aku menyalin tulisanku, tetapi tanpa kusadari aku menekan tombol yang salah. Seketika, tulisanku menghilang—dan tak bisa dikembalikan.
Kini aku seolah terperangkap di tempat pembuangan limbah yang penuh sesak. Pikiranku berkecamuk, seperti langit malam yang menghujaniku es batu tanpa ampun. Aku tak tahu harus berbuat apa. Kepalaku pun terlipat rapi di antara lenganku.
Tok, tok. Suara ketukan pintu terdengar.
“Ya, silakan masuk,” kataku pelan.
Seseorang masuk. Aku menoleh dengan tatapan penuh tanya. Ternyata ibu, rambutnya disanggul rapi dengan sumpit, tangan kanannya menggenggam sapu.
“Kamu kenapa pasang muka seperti itu?” tanyanya bingung, menatap wajah masamku.
“Kalau tidak ada kerjaan, bantu ibu beres-beres rumah,” sambungnya sambil mulai menyapu.
Keheningan menyelimuti kamarku sejenak.
“Ibu,” aku memecah sunyi, “tulisan kakak terhapus.”
“Sudah di-undo?”
“Tidak bisa.”
Ibu terdiam. Ia tampak merangkai kalimat di dalam pikirannya, memilih kata dengan hati-hati.
“Lain kali jangan ceroboh. Ibu takut kamu cepat depresi,” katanya sambil mengusap pipiku perlahan.
Aku mengangguk pelan. Mataku memerah, seolah air terjun deras siap runtuh, namun kutahan sekuat tenaga.
“Jadi, kamu bisa bantu ibu?”
“Bisa.”
Aku mengambil sapu dan menarik serpihan debu di sudut ruangan dengan cepat namun teliti. Setelah itu, aku mengepel lantai dengan air sabun hingga bersih. Sepanjang bekerja, aku berusaha menyembunyikan mendung di wajahku, berpura-pura ikhlas dan senang—meski sebenarnya tidak sepenuhnya.
Tak lama kemudian, ibu memanggilku ke teras untuk bercakap sambil menikmati camilan.
“Apakah rasa suntukmu sudah hilang?” tanyanya.
Mendengar itu, wajahku kembali masam.
“Maafkan ibu. Ibu tidak bermaksud,” katanya lembut.
“Ibu tidak bersalah.”
Keheningan kembali menyelimuti kami. Ibu menyeruput tehnya, lalu berkata pelan, “Terkadang kamu harus belajar menerima kehilangan, meskipun itu menyesakkan.”
Aku terdiam, ingin membantah, tetapi lidahku kelu.
“Lihatlah dirimu sekarang,” lanjut ibu. “Kamu termenung, mencari kata-kata untuk menyangkal kekalahanmu sendiri.”
“Tidak, Bu. Aku tidak akan berkata seperti itu pada ibu,” bantahku lemah.
“Lalu apa yang ingin kamu katakan?”
Mulutku terasa seperti dipenuhi air laut, dipaksa menelannya hingga memabukkan.
Aku teringat sebuah kejadian. Saat itu guru matematikaku menegur seorang temanku yang nilainya jatuh. Ia berusaha menyangkal dengan berbagai cara, lalu mencoba berlindung di balik kata-kata bijak. Namun suasana justru memanas.
Bu guru membentaknya keras, “Halah, jangan belagu. Kamu itu belum berusaha sebaik mungkin.” Ia menghela napas, lalu melanjutkan, “Tapi ibu tahu kamu bisa. Jadi tidak ada alasan untuk nilaimu yang jeblok.”
Temanku hanya terdiam mematung.
Kembali ke masa kini. Aku menarik napas panjang. Yang harus kulakukan adalah mengakui kesalahanku.
“Iya, Bu. Kakak salah karena tidak bisa mengendalikan mood.”
“Dimaafkan,” jawab ibu singkat.
“Sekarang ibu punya tugas untukmu. Buatlah tulisan baru dan simpan dengan baik. Lakukan itu seterusnya.”
“Oke, Bu. Terima kasih.”
“Sama-sama. Kalau perkataan ibu terasa menyayat, maafkan.”
“Iya.”
Sejak saat itu, aku selalu menyimpan tulisanku dengan baik. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku tak akan belajar. Kini, tulisanku dikenal oleh khalayak luas dan menjadi inspirasi bagi mereka yang membacanya.


















