Oleh: Rabbani Mrwa Aqsho Majida, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Tuban
Sore hari yang begitu menyenangkan. Seorang remaja berusia 12 tahun sedang bermain di sebuah tempat yang berada di Rembang, Kecamatan Pamotan, Desa Mlagen. Anak itu bernama Cindy, ia berasal dari Kalimantan. Sore itu, saat sedang bermain bersama teman-temannya, Cindy mendengar sebuah pengumuman dari arah gedung baru.
Ketika pengumuman terdengar, salah satu temannya yang bernama Amel menyuruh semua temannya untuk diam dan mendengarkan. Setelah pengumuman selesai, Ana—salah satu teman Cindy—langsung berbicara.
“Aneh, kalian nggak ada yang ikut organisasi PII?” kata Ana.
Teman-temannya terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Ana. Melihat respons tersebut, Ana kembali menjelaskan.
“Kalian nggak tahu organisasi PII? Itu loh organisasi netral, bukan Muhammadiyah dan bukan NU,” jelas Ana.
“Emang kalian nggak ada yang ikut organisasi itu?” lanjutnya.
Cindy pun menjawab dengan wajah bingung.
“Kayaknya aku deh, soalnya aku belum ikut organisasi apa pun,” jawab Cindy polos.
“Yaudah, sana ikut dulu. Paling kamu cocok sama organisasi itu,” kata Ana dengan nada sedikit memaksa karena gemas melihat Cindy yang masih bingung.
Cindy pun mengiyakan ajakan Ana.
Setelah itu, Cindy langsung menuju gedung baru untuk mengikuti kegiatan organisasi yang diumumkan melalui pengeras suara. Saat sampai di lokasi, sudah banyak orang yang berkumpul. Cindy pun duduk dan mulai menyimak pembicaraan yang sedang berlangsung.
Ketika Cindy sedang fokus mendengarkan, kakak kelas di sampingnya yang bernama Kirana mengajaknya berbicara.
“Kamu sudah pernah ikut atau kenal organisasi ini belum?” tanya Kirana.
“Belum, saya baru pertama kali ikut organisasi,” jawab Cindy.
“Terus, yang kamu tahu tentang organisasi ini apa?” lanjut Kirana.
“Saya cuma tahu kalau PII itu bukan organisasi Muhammadiyah atau NU,” jawab Cindy dengan wajah polos.
“Iya, itu benar kok,” jawab Kirana sambil tersenyum, memaklumi karena Cindy masih kecil.
Setelah berbincang, mereka kembali fokus mendengarkan penjelasan. Panitia memberitahukan bahwa para peserta akan mengikuti training dan harus memenuhi beberapa persyaratan. Training pertama yang akan diikuti adalah BATRA (Basic Training).
Salah satu persyaratannya adalah menulis satu halaman HFS dengan tulisan tangan. Setelah semua persyaratan dilengkapi, para peserta diizinkan mengikuti kegiatan tersebut. Tiga hari kemudian, mereka berangkat ke lokasi training dengan naik kendaraan bersama.
Sesampainya di lokasi, mereka diberi waktu istirahat hingga waktu Dzuhur. Saat adzan berkumandang, mereka menuju musala yang berada di depan lapangan. Setelah shalat, mereka makan siang dan melihat pengumuman pembagian lokal atau kelas materi yang ditempel di depan ruangan.
Hari pertama diisi dengan berbagai materi. Salah satu kegiatan yang cukup menantang bagi Cindy adalah berbicara dan menyampaikan pendapat di depan umum. Hal itu merupakan pengalaman baru baginya karena sebelumnya ia belum pernah berbicara di depan banyak orang.
Selama BATRA, Cindy mendapatkan banyak pelajaran, terutama tentang kebersamaan dan sejarah PII. Ia mengetahui bahwa PII lahir pada tanggal 4 Mei 1947 di Yogyakarta dan didirikan oleh Djoesdi Ghozali.
Selain BATRA, ada juga Intermediate Training (INTRA). Setelah menyelesaikan BATRA, Cindy mengikuti INTRA yang dilaksanakan di Kudus saat ia berusia 13 tahun dan duduk di kelas VIII SMP. Saat mengikuti INTRA, Cindy terkejut karena dirinya termasuk peserta paling muda.
Ia dan teman-temannya berangkat siang hari dan sampai di lokasi menjelang Maghrib. Setibanya di sana, mereka langsung mengikuti screening dan pemeriksaan persyaratan yang telah diunggah melalui website. Pada hari pertama, peserta dikumpulkan dalam satu ruangan sambil menunggu pembagian lokal. Sambil menunggu, mereka bermain Uno Stacko.
Setelah pembagian lokal selesai, Cindy mengetahui bahwa ia masuk ke Lokal 1 yang berada di samping tangga.
Menurut Cindy, suasana hari pertama BATRA dan INTRA sangat berbeda. BATRA terasa menegangkan karena merupakan pengalaman pertamanya, sedangkan INTRA terasa lebih santai karena ia sudah memiliki bekal sebelumnya. Namun, di INTRA Cindy dituntut untuk lebih dewasa, tidak mudah terpancing emosi saat forum, serta mengerjakan lebih banyak tugas seperti makalah.
Meski begitu, INTRA juga diisi dengan permainan yang mengajarkan kebersamaan. Dari INTRA, Cindy mendapatkan banyak pelajaran berharga, seperti pentingnya kebersamaan, kedewasaan, dan berpikir kritis.














