Oleh: Haura Astila, Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Planet Nufo Rembang asal Jepara
Siapa sangka, semua berlalu seolah hanya sekedip mata. Hari-hari yang dipenuhi pertanyaan seputar persyaratan yang terasa memuakkan, deretan hal remeh yang harus disiapkan demi tujuh hari yang melelahkan, serta aliran dana yang menguras kantong—ditambah berbagai drama sejak H-sekian hingga tibalah hari keberangkatan. Meski demikian, rupanya masih ada saja hal-hal “menyebalkan” lain yang menunggu dengan seringai khasnya.
Sejujurnya, proses pemberangkatan ke suatu tempat bukanlah hal istimewa. Umumnya ya begitu-begitu saja. Nothing special. Namun, aku tetap ingin bercerita sekilas. Beberapa jam sebelum keberangkatan, semuanya berjalan normal tanpa kendala berarti. Hingga menit-menit terakhir, hujan deras turun tanpa ampun. Kami tetap berusaha menghampiri kendaraan pengantar, meski akhirnya terlambat tiba akibat hujan yang semakin menggila.
Ada satu kejadian yang cukup menggelitik. Dua temanku ternyata menunggu kendaraan di lokasi yang keliru, sehingga tidak terjemput. Alhasil, mereka harus berjalan di bawah guyuran hujan deras, berbekal car cover sebagai pelindung. Car cover? Iya. Karena situasi yang serba terburu-buru dan tak ada payung di sekitar, benda itulah satu-satunya yang tampak bisa dimanfaatkan saat itu.
Singkat cerita, kami tiba di tempat tujuan: SD Ma’had Islam Semarang, pukul 19.00 WIB. Lelah? Tentu saja. Rasanya ingin segera memejamkan mata hingga fajar menyapa. Namun kenyataannya, pusingku tak berhenti pada urusan persyaratan semata. Malam itu juga, screening langsung dimulai. Kesabaran dan keseriusanku benar-benar diuji.
Sebagai catatan, kegiatan ini bernama Leadership Intermediate Training (LIT), jenjang lanjutan setelah Leadership Basic Training (LBT). Perbedaannya? Jelas terasa. LIT jauh lebih kompleks dan menantang. Segala hal yang terjadi di dalamnya tidak akan berjalan semudah di LBT. Penjelasan lebih lanjut? Rahasia. Kalau penasaran, ikutlah LIT.
Malam pertama menjadi malam penuh kegelisahan. Dari sambutan Koordinator Tim LIT hingga keluarnya kalimat “magis” tentang seleksi kelulusan malam itu juga, suasana berubah drastis. Wajah-wajah peserta dipenuhi rasa takut, gugup, dan cemas. Tubuhku terasa lemas, jantung berdetak lebih cepat. Tidak lolos berarti dipulangkan. Di-pu-lang-kan.
Selama enam hari penuh, forum berlangsung tanpa henti. Materi yang jauh lebih rumit dibanding saat LBT menjadi santapan setiap hari. Instruktur lebih banyak memberi ruang bagi kami untuk berpikir, berdiskusi, dan belajar mandiri. Tidak lagi mengandalkan mereka untuk menjawab setiap pertanyaan. Kalimat andalan yang sering terdengar, “Kalian sudah bukan anak Batra lagi. Kalian sudah satu tingkat di atas mereka.”
Syukurlah, aku dinyatakan lolos seleksi. Namun, dua temanku harus gugur dan pulang lebih awal. Jujur, aku turut bersedih. Gagal mengikuti LIT bukan hal sepele, apalagi penyebabnya adalah kelalaian dalam persyaratan dan proses screening yang sebelumnya dianggap remeh.
Waktu kembali berlalu dengan cepat. Tibalah hari terakhir yang diisi dengan sebuah tugas besar. Bukan lagi soal adu argumen, melainkan tentang membangun kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Seperti apa bentuknya? Sekali lagi, ikutlah LIT.
Malam terakhir, 31 Desember 2025, kami menutup rangkaian kegiatan dengan obrolan ringan, tawa, kesan-pesan, dan ritual perpisahan. Kami mengenang setiap proses yang telah dilalui, lalu menyimpannya rapi di ruang “spesial” dalam ingatan. Semua benar-benar berakhir di awal tahun 2026, meninggalkan kesan mendalam. Segala lelah terbayar lunas oleh kepuasan atas pelajaran dan pengalaman berharga selama enam hari itu.














