Oleh: Kholifaturrosyid, Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Planet Nufo Rembang asal Banjarnegara.
Awal mula aku mengikuti PII sebenarnya berangkat dari kebingungan. Aku tidak berafiliasi dengan NU maupun Muhammadiyah, sehingga pilihanku jatuh pada Pelajar Islam Indonesia (PII). Pada awalnya, aku mengira PII hanyalah formalitas organisasi Islam di pondok. Namun, seiring berjalannya waktu, pandanganku perlahan berubah.
Kami mulai sering mengadakan berbagai kegiatan bersama, seperti kumpul-kumpul, rapat, dan diskusi. Hingga akhirnya, kami mendapat kesempatan mengikuti kegiatan yang banyak diperbincangkan, yaitu Batra (Basic Training). Di sana, kami bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah yang memiliki semangat yang sama. Mereka kompak, menyenangkan, dan sama-sama ingin belajar menjadi pribadi yang lebih terbuka terhadap orang lain. Dari pertemuan itulah, kami mulai benar-benar mengenal apa itu PII. Hubungan di antara kami pun semakin erat, baik dengan teman satu daerah maupun dari daerah lain yang sama-sama mengikuti Batra.
Pada bulan Ramadan, kebersamaan itu semakin terasa. Kami berbagi takjil, mengadakan buka bersama lintas daerah, dan berdiskusi hingga lupa waktu. Semua pengalaman itu meninggalkan kesan yang mendalam.
Namun, momen paling berkesan selama Batra adalah ketika kami duduk melingkar dan saling berbagi keluh kesah. Saat itu, seolah semua topeng dilepas. Tidak ada yang merasa paling hebat atau paling benar. Yang ada hanyalah kami, sama-sama belajar menjadi manusia yang lebih baik. Kami berbagi tentang kelelahan, keraguan, ketakutan akan kegagalan, dan persoalan pribadi lainnya. Yang membuatku terharu, kami tidak hanya bercerita, tetapi juga saling mendengarkan. Ada yang memberi masukan, ada yang menenangkan, ada pula yang sekadar hadir dengan perhatian yang tulus. Di momen itu, aku merasa bahwa kami bukan sekadar anggota organisasi, melainkan sebuah keluarga yang saling menopang.
Dari pengalaman tersebut, aku belajar bahwa setiap orang membawa cerita dan bebannya masing-masing. Ada yang tampak ceria, tetapi menyimpan banyak luka. Ada yang terlihat kuat, namun hatinya pun sering rapuh. Batra bukan hanya memberikan materi, tetapi juga ruang untuk memahami manusia lain apa adanya. Sejak saat itu, kami menjadi lebih dekat, lebih kompak, dan lebih peduli satu sama lain.
Berbagai masalah yang kami hadapi justru mengajarkan kami untuk menjadi lebih dewasa. Kami belajar saling menghargai, memahami, dan menghormati perbedaan. Semua proses itu mendewasakan kami. Kami tumbuh bersama, belajar bersama, dan perlahan menjadi pribadi yang lebih matang.
Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan. Semoga kalian selalu diberi kesehatan, terus berkembang, dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. Kepada para pendahulu PII, PBPII, PWPII, PDPII, serta seluruh pihak yang telah membersamai dan membawa kami hingga berada di titik ini, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah membalas segala kebaikan dengan keberkahan yang berlimpah.
Sekian.
ありがとうございます、みなさん。














