Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Pelajar

Kenangan yang Tak Diukur Waktu

×

Kenangan yang Tak Diukur Waktu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Siti Aulia Nailal Hidayah A,
Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Planet Nufo Rembang

Satu setengah tahun silam, sekelompok santri tampak sedang berdiskusi di sebuah gazebo berukuran 2×2 meter. Obrolan mereka mengulas kembali masa-masa LKP (Latihan Kepemimpinan Pelajar) yang telah dilaksanakan pada pekan sebelumnya. Cerita-cerita itu memantik rasa penasaranku. Aku pun bergabung, duduk bersama mereka yang larut dalam kisah penuh pengalaman menarik.

Example 300x600

Tak lama setelah itu, tawaran untuk mengikuti LKP berikutnya pun datang kepadaku. Namun entah mengapa, hatiku belum mampu menyetujuinya. Ada alasan tertentu yang membuatku menunda, meski pada akhirnya keputusan itu justru meninggalkan rasa kecewa dalam diriku sendiri.

“Tau nggak sih, acara PII kemarin tuh seru banget… sampai gamon,” ujar Hana penuh antusias.

“Iya, seru banget. Ini benar-benar kegiatan yang nggak cuma ngisi waktu libur, tapi juga membentuk cara kita berpikir dan bersikap,” sambung Athar.

Cerita-cerita pengalaman lainnya terus mengalir, diselingi canda dan tawa yang membuat suasana semakin hidup.

Beberapa menit berlalu. Perbincangan mereka yang berlangsung terbuka di gazebo umum itu rupanya menarik perhatian siapa saja yang melintas. Aya, yang sejak tadi hanya mengamati dari kejauhan, akhirnya memutuskan untuk bergabung.

“By the way, kalian lagi bahas apaan sih? Kok kayaknya seru banget. Dari tadi aku perhatiin kalian excited banget,” tanyanya.

“Eh, Aya. Pantesan dari tadi mantau terus. Fokus banget kayak orang lagi lomba,” jawab Athar sambil tertawa.

Hana pun menjelaskan, “Kami lagi review acara PII kemarin. Banyak pengalaman inspiratif dari agenda-agenda yang disiapkan panitia. Kamu nggak pengen ikutan LKP berikutnya, Aya?”

“Aku pengen banget, Han. Tapi kamu tau sendiri kan, aku belum bisa ikut sekarang karena alasan tertentu,” jawab Aya dengan nada lirih, menyimpan kecewa karena harus melewatkan kesempatan itu.

Waktu berlalu. Satu setengah tahun penuh pertimbangan akhirnya terlewati. Aku melihat sendiri bagaimana para kader PII di Nufo tumbuh dengan berbagai pengalaman dan perubahan positif. Hingga akhirnya, kesempatan yang selama ini kutunggu benar-benar datang. Aku mendapat tawaran untuk mengikuti LKP di Kota Semarang bersama teman-teman dari berbagai jenjang, mulai dari basic, lanjutan, hingga kursus.

Perasaanku begitu bahagia. Penantian panjang untuk mengenal organisasi ini lebih dalam akhirnya terjawab. Semua persiapan dan persyaratan kupersiapkan dengan saksama agar tak ada yang terlewat.

Tepat pada 26 Desember 2025, pemberangkatan peserta LKP dilaksanakan pukul 13.00 ba’da Jumat. Hujan deras sempat menghambat keberangkatan. Setengah jam kemudian, travel akhirnya tiba. Para peserta berbondong-bondong memasukkan barang ke bagasi yang terbatas, hingga beberapa harus memangku tas masing-masing. Namun, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah.

Setelah memastikan tidak ada peserta maupun barang yang tertinggal, perjalanan pun dimulai. Obrolan ringan mengisi suasana, meski perjalanan panjang akhirnya membuat sebagian peserta terlelap. Kami sempat berhenti untuk beristirahat dan menunaikan shalat. Setelah semuanya siap, perjalanan kembali dilanjutkan. Menatap jendela sambil menikmati kota yang basah oleh gerimis dan gemerlap lampu malam menjadi pilihan terbaik. Sekitar satu setengah jam kemudian, kami tiba di lokasi LKP.

Kami menempati kamar yang masih kosong, cukup luas, dengan satu unit AC. Meski hanya satu, udara dingin tetap menyelimuti hingga membuat kami meringkuk di malam hari. Kami tetap bersyukur karena bisa beristirahat tepat waktu, berbeda dengan dua temanku yang mengikuti LBTD (Latihan Brigade Tingkat Dasar) dan harus langsung menjalani agenda khusus.

Pagi hari disambut suara adzan subuh. Para peserta bergegas menuju masjid. Aku sendiri masih terlelap karena sedang berhalangan. Pukul 05.30 aku bangun, bersiap, lalu bersama Hana keluar sejenak menikmati udara segar Kota Semarang sebelum aturan larangan keluar diberlakukan. Setelah itu, kami kembali untuk sarapan. Sajian prasmanan yang tersedia terasa berbeda dari kebanyakan konsumsi kegiatan organisasi. Dengan anggaran yang ramah kantong, panitia tetap menyajikan makanan yang layak dan memuaskan.

Pembukaan acara dilaksanakan pukul 09.00 di aula utama. Ruangan dipenuhi peserta dari berbagai jenjang LKP. Raut wajah mereka beragam, ada yang tampak bahagia, ada pula yang menyimpan kegelisahan. Acara berlangsung khidmat hingga akhirnya pembagian kelompok diumumkan. Aku tergabung dalam lokal tiga. Suasana awal memang terasa canggung, namun perlahan mulai mencair.

Forum pertama diisi dengan perkenalan, pembentukan struktur, serta penyampaian tujuan mengikuti LKP. Hari demi hari berlalu. Ta’lim ba’da subuh dan ba’da magrib menjadi rutinitas. Kami dilatih untuk percaya diri dan berani berbicara di depan umum, tentu dengan pendampingan instruktur. Instruktur adalah sebutan bagi mereka yang membimbing dan melatih kami secara langsung. Berbeda dengan guru yang menyampaikan materi secara utuh, instruktur memancing kami untuk memahami materi melalui diskusi dan pertanyaan.

Materi favoritku adalah pembahasan tentang pemahaman manusia terhadap Tuhan. Materi ini benar-benar mengasah logika kami. Kita menyadari bahwa manusia tidak mampu memahami Tuhan secara utuh, tetapi dapat mengenal-Nya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Berbagai perbedaan pendapat pun muncul, bahkan sempat terjadi adu argumen. Namun justru dari situlah keberanian berpikir dan berpendapat ditempa. Tidak ada ruang untuk diam; setiap peserta dituntut berani menyuarakan pikirannya.

Tak terasa empat hari berlalu. Banyak pelajaran berharga yang kudapatkan, mulai dari kepemimpinan, kerja sama tim, kepercayaan diri, hingga makna kehidupan. Hari kelima diisi dengan permainan “perang air” yang melatih strategi, kekompakan, dan kepemimpinan. Malam harinya, aku mendapat giliran menjadi pemateri ta’lim ba’da magrib. Dengan persiapan hanya 30 menit, aku maju dengan penuh keyakinan. Alhamdulillah, materi dapat kusampaikan dengan baik.

Hari terakhir diisi dengan tugas wawancara KB (Keluarga Besar) PII yang kemudian disusun dalam bentuk makalah dan mini vlog. Usaha kami membuahkan hasil dengan memenangkan perlombaan tersebut. Aku juga meraih juara dalam lomba LCC, meski belum menjadi juara pertama. Menariknya, para pemenang didominasi oleh peserta dari lokal tiga yang dikenal sangat aktif selama forum.

Hari perpisahan pun tiba. Hari yang terasa paling berat bagi kami semua. Dalam waktu singkat, begitu banyak kenangan terukir. Dari yang awalnya tak saling mengenal, hingga akhirnya terasa seperti keluarga. Jika ditanya ingin kembali atau tidak, aku akan memilih untuk tetap di sana, menghabiskan waktu lebih lama, dan merangkai lebih banyak cerita bersama mereka.

Semoga pertemuan singkat ini menjadi kenangan manis yang kelak mempertemukan kami kembali di waktu yang akan datang.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *