Oleh: Pramudita Pandu Dewanata, Santri-Murid Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon, Aktivis PII
Hujan deras membasahi Planet NUFO dan kota Rembang, Entahlah berapa butir air yang turun kala itu. Hujan waktu itu sangatlah tidak tepat pada waktunya, karena di hari itu, tepatnya 27 Desember 2025, hari yang sangat membahagiakan untukku. Eh, bukan hanya untukku saja tapi juga untuk teman-temanku.
Elf berwarna merah seperti bendera kebangsaan kita, menjemput aku dan kawan-kawanku. Yeah… Aku dan teman-teman entah berapa jumlah pasnya, kami pergi menuju Semarang untuk mengikuti LKP PII ( Pelajar Islam Indonesia). Elf itu bukan hanya diisi oleh aku dan- teman-temanku tapi juga Pelajar-pelajar daerah Rembang yang ingin mengikuti LKP PII ini.
Aku dan teman-teman mengantre urut untuk memasuki Elf merah itu. Di dalam Elf kami memilih tempat sesuka dan senyaman masing-masing, seharusnya waktu itu aku hendak menduduki bangku paling ujung dekat jendela, aku ingin melihat-lihat pemandangan saat perjalanan, tapi kalah cepat dengan temanku. Hokma, yang berhasil menduduki tempat itu duluan, tapi tak apalah aku tak mendapatkan bangku itu, yang penting aku bisa duduk dengan nyaman dibangku yang lain.
“Eh, nama kamu siapa ya?” tanyaku kepada seorang pelajar yang duduk disampingku, ia sedari tadi duduk disana sambil melihat HP-nya.
“Namaku Akmal, kamu?” tanyanya balik sambil menyodorkan tangannya ke arahku.
“Oh… Akmal, namaku Pandu, Mal,” jawabku sambil menerima jabatan tangan SiAkamal ini. Teman-teman sekolahku yang berada dibangku sama denganku memperkenalkan diri kepada Akmal.
“Namaku, Ian.”
“Kalo aku, Khanzu,”
Lima menit sudah lewat sejak perkenalan tadi, teman-temanku yang lain juga sudah memasuki Elf dan menduduki bangku yang sudah dipilih. Pak supir yang menjadi komando perjalanan itu memberi aba-aba kepada penumpangnya, “Sudah siap semuanya?” tanya Pak supir itu dengan bersemangat.
“SUDAH!,” Kami pun menjawab dengan serempak dan tak kalah semangatnya. Elf pun berangkat dengan santai, tak terburu-buru. Hujan juga masih menyirami kota Rembang itu.
“Eh, akmal. Kamu punya Instagram Nggak?” tanya Khanzu.
“Punya- punya. Ini namanya,” jawabnya sambil melihatkan profil Instagramnya. Ternyata sedari tadi ia asik menscroll aplikasi tersebut.
“Ouh.. aku follow ya?”
“Oh, iya. Boleh-boleh,” jawabnya antusias. Aku yang awalnya hanya diam pun ikut meminta Instagram Akmal.
“Mal, coba lihat nama Instagramu dong. Aku juga mau follow akunmu, tpi jangan lupa nanti di followbackya, hitung-hitung nambah followers aku,” ucapku sambil nyengir.
“Oh.. Oke-oke Ndu. Nanti aku follow kok,” jawabnya sambil tersenyum.
“Eh, Ndu,” panggil Ian.
“Kenapa mas Yan?” tanyaku.
“Nanti aku nitip barangku ya? Habis ini aku sama Khanzu pindah naik bus. Ian dan Khanzu memang sejak awal ingin menaiki bus. Mereka menaiki bis dikarenakan Elf yang ditumpangi sekarang ini tidak muat.
“Oke-oke, Mas Yan aman kok,” ucapku sambil mengacungkan jempol kepadanya. Elf berhenti sebentar di Alun-alun kota Rembang untuk menurunkan Ian, Khanzu, dan beberapa temanku yang lain yang hendak menaiki bis.
“Jagain barangku lho ndu! Jangan sampai ilang atau ketinggalan kalau sudah sampai,” Ucap Ian.
“Iyo-iyo, Mbahhh…,” jawabku kepada Ian.
Ian,sering kali dipanggil olehku dan teman- temanku dengan sebutan mbah, karena saat main bersama. Ian sesalu yang paling tua saat kumpul di antara aku dan teman-temanku. Ian biasanya lebih sering berkumpul dengan adik-adik kelasnya dibanding teman sekelasnya, bukan berarti ia dijauhi oleh teman angkatannya tapi, adik kelasnya sendiri yang suka bergaul dengannya. Padahal jika ia berkumpul dengan teman-temannya ia paling muda diantara yang lain .Ia juga sudah terbiasa dipanggil mbah, toh nggak masalah juga katanya, yang penting adik-adik kelasnya senang. Kembali ke perjalanan ke Semarang.
“Hati-hati, ya mbahhh,” ucapku sambil melambaikan tangan ke arahnya.
“Oke-oke.”
“Akhirnya luas juga bangku ini. Ya nggak Mal,” tanyaku kepada Akmal sambil melemaskan diri.
“Hehehe, iya. Eh, Ndu. Emang tadi Ian sama Khanzu mau kemana?”
“Mereka mau ke Semarang juga ikut LKP, tapi naik bis. Katanya sih mereka naik bis, gara-gara nggak muat,” jawabku.
“Ouu… Mas Ian itu kelas ber—” belum sempat kalimat itu selesai, ada dua remaja yang masuk kedalam Elf. Aku dan Akmal yang sadar atas kehadiran dua manusia ini pun kaget, karena kami kira sudah tak ada agi yang hendak menaiki Elf ini dan beberapa saat setelah dua manusia itu duduk, aku dan Akmal asik dengan ponsel masing- masing hanya beberapa saat.
“Namanya siapa, Mas?,” tanyaku kepada satu orang yang berada disampingku. Jika dilihat-lihat sih… sepertinya dia dua pelajar ini anak PRAMUKA.
“Exel,” jawabnya singkat, padat jelas.
“Kalau yang satunya?”
“Jalu,” jawabnya santai.
“Ouhh… masnya berdua orang mana?” tanyaku basa-basi.
“Kalau aku orang Rembang sini aja mas, tapi kalau sebelahku ini orang Blora,” jawab Exel.
Jalu yang ada di sebelahnya hanya mengangguk-angguk. Akmal yang sedari tadi memperhatikan kini ikut memperkenalkan dirinya.
Elf sudah sedari tadi melaju kembali, sudah banyak percakapan diantara kami berempat, kami juga sudah mulai akrab, apalagi aku dengan Akmal, sudah seperti teman lama yang jarang bertemu. Tiga jam berlalu dua kabupaten telah terlewati dengan aman. Sekarang ini Elf sudah hampir memasuki wilayah Semarang, tinggal beberapa kilometer lagi.
Setengah jam berlalu kami pun sampai ditempat tujuan kami mengikuti LKP PII ini. Oh, iya. Aku dan beberapa teman-temanku mengikuti LKP PII BATRA (Basic Training) Jadi adalah LKP awal yang ada di PII ini. DiPII ada beberapa jenjang LKP yang pertama yaitu Batra (Basic Training) seperti yang kami ikuti ini, lalu yang kedua INTRA (Intermediate Training), dan masih ada beberapa yang lain, kalau teman-teman penasaran ikuti saja Organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia) ini.
Masjid berwarna hijau muda itu berdiri kokoh. Dihalamannya terdapat beberapa kuburan, entah itu kuburan siapa, yang pasti kuburan mayat orang dan di belakang masjid itu terdapat sekolah. Yeah… aku dan teman-temanku telah sampai pada tempat LKP PII. SDIT Ma’had Semarang itulah tempat aku dan teman-temanku mengikuti LKP PII ini dan mencari ilmu-ilmu baru.
“Akhirnya… sampai juga, ya…,” Ucapku setelah keluar dari Elf sambil melemaskan tubuhku yang pegal-pegal ini.
“Iya, ndu,” jawab Akmal.
“Eh, Sil. Tolong ambilin tasnya mas Ian sama mas Khanzu dong!” ujarku kepada temanku yang bernama Arsil.
“Iya, bentar.”
Setelah menunggu beberapa saat Arsil pun keluar dari dalam Elf merah itu.
“Nih, ambil,” ujar Arsil.
“Oke, makasih ya, Sil,” balasku. Setelah kami semua selesai mengambil barang masing-masing. Kami pun masuk kedalam halaman masjid.
“Tempatnya dimana e mbak Au?” tanyaku kepada teman perempuanku, Aulia namanya.
“Ya, ini. Tempatnya.”
“Lho, katanya tempat LKPnya diSD.. Mbohlah namanya SD apa itu, lupa aku namanya.”
“SD Ma’had,” jawabnya. “ Tapi nggak tau ya.. Katanya sih kita emang tempatnya di SD ma’had. Tapi kok kita berhentinya disini ya?” tanyanya heran.
Teman-temanku yang lain juga bingung, tapi beberapa saat kemudian ada beberapa panitia yang nongol dari arah lorong samping masjid.
“Yang laki-laki. Tempatnya disana, ya.. Pokoknya kalian ikuti aja lorong ini,” ujar salah satu panitia.
“Kalau yang perempuan disana, di bagian kiri halaman masjid ada gerbang, kalian masuk aja kesana. Disana sudah ada panitia yang lain, nanti kalian dipandu kekamar yang sudah disediakan.”
Kami tidak langsung mengikuti arahan panitia tersebut, kami masih bercakap-cakap dan asik melihat sekeliling.
“Eh, kita sholat sekarang apa nanti habis taruh barang-barang?” tanyaku kepada teman-teman laki-lakiku yang lain.
“Emm… terserah. Yang lain gimana taruh barang dulu apa langsung sholat?” tanya si Akmal.
“Taruh barang dulu aja biar kita tau tempatnya kaya gimana,” ucap Adly yang juga temanku.
“Iya,” ucap yang lain.
Kami semua pun berpisah dengan perempuan teman-teman kami dan langsung menuju tempat tidur yang sudah disediakan. Di Bayanganku tempat tidur itu cuma diisi oleh satu daerah kami saja. Eh ternyata oh ternyata. Tempat tidur yang disediakan itu untuk semua peserta LKP PII yang laki-laki. Tapi tempat tidur itu sangatlah luas. Jadi tidak sempit untuk ditempati oleh pelajar yang dari daerah lain. Oh, iya. LKP PII ini bukan hanya diikuti aku dan teman satu daerahku saja. Tapi ada beberapa pelajar dari daerah lain yang mengikuti LKP PII ini. Seperti: Solo, Semarang, Sragen, Pati, dan ada beberapa daerah yang lainnya.
“Wah… ternyata banyak juga ya, yang ikut LKP ini,” ujar Akmal.
“Iya, coyy. Tak kira cuma sedikit doang yang ikut,” jawabku.
Barang-barang bawaan sudah kami taruh kedalam kamar dan sekarang kami mencari tempat wudhu untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Tidak memerlukan waktu lama untuk mencari tempat wudhu karena tadi aku bertanya kepada seorang kakek-kakek yang sedang duduk santai di teras masjid.
“Permisi, Mbah. Tempat wudhune teng pundi nggeh?”
“Teng mrika lhoo. Iku wonten tulisane,” jawab sang kakek sambil menunjuk tulisan ‘Tempat Wudhu pria’.
“Ouu.. Nggeh mpun mbah. Makasih nggeh,” ujarku sambil tersenyum. Setelah mengambil air wudhu kami melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Sesudah sholat berjamaah kami diperintahkan seorang panitia menuju kebelakang halaman masjid. Nah… belakang halaman sini ternyata. Apanya yang di belakang halaman masjid? SD Ma’had. Ternyata sekolah itu berada di belakang halaman masjid.
“Ouu.. ini tho SD Ma’had itu. Kok bisa ya, ada di belakang sini?” tanyaku kepada diriku sendiri sambil nyengir. Aku dan teman-temanku langsung menuju tempat pengambilan makan yang sudah disediakan, dan langsung mencari tempat yang nyaman untuk digunakan duduk sembari makan.
Makan malam pertama kami sudah lewat beberapa saat yang lalu, dan malam pertama ini, kami bingung hendak melakukan hal apa, dikarenakan acara baru dimulai besok pagi. Ian, Khanzu dan yang lain baru saja sampai ke tempat LKP saat aku dan teman-temanku selesai makan. Saat Ian dan Khanzu datang aku langsung mengajak mereka ke tempat pengambilan makan, karena aku tau mereka berdua sudah kelaparan. Sepuluh menit menunggu mereka makan aku duduk menemani mereka sambil bercakap-cakap tentang perjalanan tadi. Kami tidak langsung istirahat malam itu. Aku dan beberapa temanku, bosan hendak melakukan apa. Akhirnya pun kami menyepakati malam pertama itu pergi ke Kota Lama.
Malam itu, lampu jalan menyala semua, saat aku, Ian, Khanzu, Arsil, dan Hokma berangkat ke Kota Lama. Udara dingin, angin berhembus, jalanan kelihatan berkilau kena pantulan lampu, dan banyak orang yang juga menikmati malam itu. Dari awal kami sudah merasa… kalau ini bukan malam biasa, tapi malam yang seru.
Saat sampai di Kota Lama, kami jalan-jalan terlebih dahulu melihat sana-sini dan memfoto sana-sini. Malas karena mulai ramai oleh pengunjung yang jalan-jalan Kami pun mampir ke Coffee Shop Suka Jaya. Dari luar kelihatan hangat: lampu kuning, kaca berembun, dan tampak ramai orang-orang di dalam ruangan itu. Lihatlah Vintage sekali coffee shop ini. Begitu masuk, aroma kopi langsung nyambut. Kami duduk, pesan minum, dan mulai ngobrol ngalor-ngidul. Tawa pecah di meja.
Nggak lama, Adly salah satu temanku, ia menyusul. Suasana makin rame. Kursi ditambah, cerita makin liar, lelucon makin makin seru. Setengah jam kemudian, tiga teman perempuan kami datang: Haura, Khanza, dan Aulia. Mereka cuma sebentar. Niatnya sih… ingin lama, tapi karena toko itu mau tutup, mereka pun pergi ke tempat lain. Padahal tadi mereka bertiga baru menyapa, ketawa sebentar, dan foto cepat sana-sini mengabadikan momen itu, lalu pamit. Tapi kehadiran singkat merek, bikin momen itu terasa lengkap.
Setelah itu, kami berenam lanjut menyusuri ke Kota Lama. Malam bikin tempat itu kelihatan beda. Bangunan tua berdiri gagah disana dan ada gereja blenduk yang khas dengan arsitekturnya. Kami mefoto-foto disana-sini: ada yang pose sok dingin, ada yang berdiri di tengah jalan, dan yang paling penting kami berenam foto di cermin kalcer. Di tengah bangunan tua bernuansa penjajahan itu, kami berdiri bareng. Capek, tapi puas. HP penuh foto, kepala penuh cerita. Nggak ada konser. Nggak ada acara besar. Cuma kami, malam, Kota Lama, Suka Jaya, kopi, dan tawa. Dan entah kenapa… justru itu yang bikin malam itu terasa keren banget. Eits… tunggu dulu masih ada momen-momen lagi yang tak kalah seru.
Esoknya. Pembukaan, telah selesai sedari tadi. Pukul menunjukan 20.00. Seluruh peserta telah dibagi, menjadi beberapa kelompok atau disebut Lokal dalam organisasi PII. Setiap lokal diberi dua pendamping. Satu Instruktur dan satu Observator. Sekarang ini adalah pembentukan struktur Lokal. Sebelum Pembentukan. Instruktur memerintahkan kami untuk saling mengenal satu sama lain. Wajib kenal, entah bagaimana caranya. Aku dan teman-teman lokalku yang belum mengenal satu sama lain masih memikirkan cara untuk saling mengenal. Menentukan, bagaimana caranya kami bisa saling mengenal satu sama lain dengan cepat. Dan ya… aku mengusulkan kepada instruktur, untuk memberi suatu kertas yang ditulis nama masing-masing, lalu diletakan didepan meja.
Pembentukan struktur telah dimulai. Aku juga sudah mengenal dan dekat dengan mereka. Teman satu lokalku. Loh, kok. Cepet banget deket sama yang lain. Itulah salah satu keahlian. Pandai bergaul. Caranya gimana? Ajak mereka bercanda saja. Insyaallah nanti cepat dekat dengan yang orang baru. Instruktur Juga memerintahkan kami untuk mengimajinasikan tentang kendaraan yang tujuannya jauh dan resikonya besar, dan kendaraan itu, kami kendarai untuk menuju suatu tujuan bersama. Kendaraan yang kami imajinasikan dan kami pilih adalah Kapal. Aku dan teman-temanku juga menamai Lokal kami dengan nama KAPAL LOMPAT. Kenapa kapal lompat? Karena singkatan dari kapal LOkal eMPAT.
Hari demi hari LKP sudah terlampaui. Aku dan satu lokal juga sudah merasa menjadi satu keluarga. Kami sudah sangat akrab satu sama lain layaknya sebuah keluarga asli. Oh, iya… aku belum beri tahu nama-nama teman satu lokalku sama Instruktur dan Observatorku ya…. Oke, aku beri tahu nama-namanya dulu ya guys!! Eh, kan tadi diatas ada gambar. Kalian lihat aja ya, siapa nama-namanya. Kalau Instrukturku nemanya: Kak Merlin dan Observatorku namanya: Kak Azlyn. Dua orang pendampingku sangatlah seru orangnya. Tidak hanya seru tapi juga: Baik, peduli, pintar, kocak, pokoknya the best lah, pendamping kami.
Tak terasa hampir satu minggu telah berlalu. Entah berapa kenangan yang ada di memori kepalaku. Malam ini tepat pada tanggal 31 Desember 2025. Aku dan teman-teman lokalku berkumpul bersama. Storytelling tentang perjalanan kehidupan kami selama ini dan storytelling yang lain-lain.
Hari penutupan pun tiba. Fajar itu, kami seluruh anggota PII(Pelajar Islam Indonesia) berkumpul menjadi satu. Melingkar disebuah lapangan sekolah melihat susunan lilin-lilin yang dibentuk menjadi sebuah kalimat. I LOVE PII bersama sama.
Aku dan teman-teman lokalku sedih karena akan berpisah. Coba bayangkan enam hari bersama-sama, saling merangkul layaknya sebuah keluarga, suka dan duka pun bersama layaknya keluarga, lalu sekarang berpisah, kembali ke Kota masing-masing. Sedih tidak, Guys??? Sedihkan? Bukannya alay, tapi memang guys, bukan hanya kami lokal empat yang merasakan kesedihan ini, tapi juga lokal yang lain. Hari itu tepatnya tanggal 2 Desember 2026, kami berpisah. Kembali ke kota masing-masing, tapi agar komunikasi diantara kami tetap terjaga, kami membuat grup WA, untuk berkomunikasi satu sama lain.
Saat perjalanan pulang, aku dan teman-teman satu daerahku, Rembang, menaiki Elf yang sama seperti saat berangkat. Di dalam Elf, aku masih ingat jelas malam itu. Aku dan yang lain mendengarkan lagu Dewa 19 berjudul “Kangen.” Judul lagu itu terasa pas dengan perasaanku malam itu. Kangen kalian. Kangen teman-teman LKP. Kangen momen-momen LKP.
Terima kasih kepada teman-teman satu lokalku atau Kapal Lompat, yang senantiasa bersama, terimakasih juga kepada teman-teman yang saya dapat dari LKP BATRA PII Semarang yang seru-seru juga orangnya, terimakasih juga, kepada Kak Merlin dan Kak Azlyn, yang mengajarkan banyak ilmu dan mendampingi saya dan teman-teman kapal LOMPAT. Thank you to all of you and I will always remember you, this beautiful memory.
“Cerita ini mengajarkan bahwa pertemuan yang singkat bisa meninggalkan jejak yang lama, dan kebersamaan yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk hidup, meski jarak memisahkan. Setiap perpisahan pasti ada pertemuan dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan.”














