Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Pelajar

Satu Minggu yang Singkat

×

Satu Minggu yang Singkat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Alhamana Dafa Akbar, Ketua OSIS SMP Alam Nurul Furqon Rembang, Ketua Umum Pengurus Komisariat Pelajar Islam Indonesia (PK PII) Planet Nufo Rembang.

Hari pertama yang sudah berlalu setengah hari itu menjadi awal pertemuanku dengan teman-teman di Lokal 4. Di depan ruangan lokal, aku melihat beberapa peserta tengah mengantre untuk screening. Di sana pula aku kembali bertemu Jaya, ditemani beberapa wajah asing yang baru pertama kali kulihat.

Example 300x600

Aku duduk lesehan di samping Jaya dan mulai berkenalan dengan beberapa orang yang kelak menjadi teman seperjuanganku di Lokal 4.

“Namamu siapa?” tanyaku sambil mengulurkan tangan.
“Namaku Hafidz, kalau kamu?” jawabnya santai.
“Asal mana?”
“Aku dari Kudus, sekolah di MA Mahid,” jawabnya mantap.
“Aku dari Rembang,” sahutku menyambung.

Tak lama kemudian, namaku dipanggil oleh instruktur.
“Atas nama Alhamana Dafa Akbar,” suara itu menggema dari dalam ruangan.
“Iya, Kak, sebentar,” jawabku sambil pamit pada Hafidz dan Jaya.

Di dalam ruangan, aku ditanya berbagai hal oleh instruktur, mulai dari hobi, keluarga, hingga riwayat kesehatan. Setelah selesai, aku diizinkan keluar dan menuju tempat peristirahatan. Di sana aku bertemu Keyla dan Luthfi yang telah selesai lebih dulu. Kulihat jam di ponsel, menunjukkan pukul 14.13. Karena waktu salat masih sekitar satu jam, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak.

Saat azan Ashar berkumandang, aku bangun, mengganti celana dengan sarung, lalu mengambil air wudu. Usai salat Ashar, kami semua diminta langsung menuju lokal untuk materi sekaligus perkenalan. Aku pun kembali mengganti sarung dan bergegas ke lokal.

Di lokal, suasana masih sangat sepi. Hanya ada aku, Jaya, Hafidz, serta dua peserta perempuan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sepuluh menit kemudian, instruktur bertanya,
“Apakah masih ada yang belum datang?”
“Kurang satu, Kak!” jawab kami serempak.

Ternyata satu peserta bernama Alexa belum hadir. Kami menunggu sekitar tiga puluh menit, beberapa teman mencoba mencarinya di sekitar lokasi dan memberi pengumuman di grup, namun tetap tidak membuahkan hasil. Hingga pukul 17.20, menjelang Magrib, instruktur memutuskan untuk tidak memulai kegiatan. Kami pun kembali ke ruang istirahat dengan perasaan frustrasi karena waktu terasa terbuang sia-sia.

Di perjalanan, aku kembali berkenalan dengan teman-teman lokal lainnya: Alfian, Raphael, dan Fauzi. Alfian terpaut dua tahun dariku, Raphael tiga tahun, sementara Fauzi adalah mahasiswa semester dua dan menjadi peserta tertua di lokasi LKP.

Aku bersiap untuk salat Magrib dan berkenalan dengan beberapa peserta lain yang juga mengantre kamar mandi. Setelah Magrib, kami diarahkan ke lokal untuk mengikuti ta’lim. Bersama Alfian dan Fauzi, aku menuju lokal dan berkenalan dengan mu’allim. Kami kemudian dibagi ke dalam halaqah dan diminta menyusun jadwal kultum serta MC. Penentuan dilakukan menggunakan aplikasi Spin Wheel, dan aku mendapat giliran ketiga. Aku menyiapkan materi kultum sejak malam hari.

Usai Isya, kami kembali bertemu instruktur dan akhirnya seluruh anggota lokal telah lengkap. Kami mengisi kertas identitas, saling berkenalan, lalu menyusun tujuan lokal, struktur kepengurusan, dan kontrak belajar. Setelah melalui proses diskusi dan voting, Jaya terpilih sebagai Ketua Lokal. Seluruh rangkaian itu selesai pada pukul 23.12, dan kami diizinkan beristirahat dengan catatan harus siap untuk Subuh dan ta’lim pagi.

Subuh hari, kami dibangunkan panitia. Setelah salat, ta’lim pagi, halaqah, dan kultum dilaksanakan. Pukul 08.00, kami kembali masuk lokal dan menerima materi hingga Dzuhur. Kegiatan berlanjut hampir sepanjang hari dengan jeda makan dan salat. Meski padat, setiap sore kami tetap sempat bermain bersama seluruh peserta LKP BATRA. Permainan sederhana seperti lempar air dan find your friend justru menumbuhkan rasa kekeluargaan yang hangat.

Pada H+6 malam, kami dibagi ke dalam kelompok untuk tugas akhir: mewawancarai Keluarga Besar PII di Kecamatan Laweyan, Surakarta. Kami juga sempat mengunjungi bunker rahasia peninggalan saudagar batik Laweyan tempo dulu. Malam harinya, kami mempresentasikan hasil wawancara dan mendapat penghargaan sebagai lokal terasik.

Malam terakhir diisi dengan kebersamaan bersama instruktur dan mu’allim. Di momen itulah instruktur kami akhirnya memperkenalkan dirinya—yang selama ini membuat penasaran—bernama Angga. Aku tidur pukul 01.30 dan dibangunkan kembali pukul 02.30 untuk renungan malam. Pada 29 Juni 2025, kami resmi dilantik menjadi kader PII. Pagi harinya dilaksanakan penutupan LKP BATRA Surakarta 2025, lalu sebelum Dzuhur kami dijemput oleh sopir yang sama seperti saat keberangkatan, Bang Elmi Putra.

Satu minggu yang terasa begitu singkat itu menjadi pondasi awal kecintaan kami pada PII. Kami menemukan keharmonisan, kebersamaan, dan rasa memiliki yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Satu minggu itu mungkin singkat, tetapi dari sanalah lahir pertemanan yang, Insya Allah, tidak hanya bertahan seminggu—melainkan seumur hidup.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *