Oleh: Najwa Salsabilla, Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Planet Nufo Rembang asal Pati, Siswa Kelas XI MA Darul Huda Mlagen Rembang.
Suasana alam yang kurang bersahabat mengiringi persiapanku mengikuti Batra (Basic Training) dalam kegiatan LKP PII di Semarang yang dilaksanakan pada 26 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Meski cuaca tidak mendukung, semangatku untuk berangkat sama sekali tidak surut. Dengan perlengkapan yang telah kupersiapkan sebelumnya, aku memulai perjalanan dengan penuh harap dan antusiasme.
Hujan turun deras saat aku menunggu jemputan di luar rumah. Siang yang biasanya panas berubah dingin karena air hujan yang mengguyur tanpa henti. Tak lama kemudian, sebuah elf merah terlihat melaju mendekat. Mau tak mau, aku harus menerjang hujan demi mencapai kendaraan tersebut.
Wussss…
Elf melaju perlahan, ditemani suara hujan yang menghantam kaca. Sepanjang perjalanan, rintik hujan setia menemani kami. Jalanan yang basah membuat sopir lebih berhati-hati agar perjalanan berjalan aman hingga tujuan. Di sela-sela perjalanan, obrolan ringan dan tawa sederhana terdengar, cukup menghangatkan suasana di tengah dinginnya udara.
Perjalanan menuju lokasi LKP bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi menjadi pembelajaran awal bagiku. Dari hujan dan perjalanan panjang ini, aku belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, dan komitmen untuk tetap melangkah meski keadaan tidak selalu ideal. Semua lika-liku sebelum sampai di lokasi menjadi pembuka dari rangkaian panjang kegiatan LKP PII.
Di tengah perjalanan, aku dan teman-teman sempat berhenti untuk melaksanakan salat magrib. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Semarang. Kurang lebih dua jam kemudian, kami akhirnya tiba di kota tujuan. Hiruk pikuk kota, gedung-gedung tinggi, dan jalanan yang ramai menyambut kedatangan kami, seolah mengingatkanku bahwa kehidupan terus berjalan dalam kondisi apa pun.
Aku terbangun dari tidur ketika elf berhenti di depan gerbang SD Ma’had Semarang. Dengan membawa ransel dan satu tote bag kecil berisi perlengkapan, aku menuju kamar peserta. Setelah beristirahat sejenak, aku melaksanakan makan malam dan salat isya. Rasa lelah tak tertahankan membuatku terlelap hingga dini hari.
Pagi hari, aku bangun untuk bersiap melaksanakan salat subuh. Kegiatan resmi akan dimulai pada 27 Desember 2025. Sekitar pukul delapan pagi, panitia menginformasikan bahwa acara pembukaan segera dimulai. Pembukaan berlangsung tepat waktu, dilanjutkan dengan seminar pelajar yang diikuti seluruh peserta LKP.
Setelah salat dzuhur dan makan siang, panitia mengumumkan pembagian lokal serta pelaksanaan screening. Namaku tertera di lokal satu. Di sana, aku duduk menunggu bersama peserta lain yang sebagian besar belum kukenal. Namun tak lama kemudian, dua panitia memanggil namaku dan mengabarkan bahwa aku dipindahkan ke lokal empat. Aku pun berpindah tanpa banyak tanya.
Di lokal empat, suasana terlihat lebih fokus dan tertib. Forum dimulai dengan salam dan perkenalan diri setiap peserta. Instruktur kemudian mulai membahas struktur dan pokok bahasan materi. Kami duduk melingkar membentuk huruf U, berdiskusi dengan tertib dan penuh semangat.
Forum berlangsung aktif. Setiap peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, kritik, maupun solusi. Diskusi berjalan hidup dengan arahan instruktur agar tetap terarah. Dari forum ini, aku belajar keberanian berbicara di depan umum, kepemimpinan, serta pentingnya musyawarah dalam mengambil keputusan. Kami juga mendalami nilai-nilai keislaman dan ke-PII-an yang menjadi dasar gerakan pelajar Islam Indonesia.
Tak terasa, waktu forum pun berakhir dan ditutup dengan doa bersama. Harapannya, seluruh ilmu dan pengalaman yang didapat dapat diterapkan dalam kegiatan PII ke depannya.
Selama kurang lebih tujuh hari mengikuti LKP, banyak momen kebersamaan yang tak terlupakan. Panitia juga mengadakan berbagai permainan seru seperti perang air dan permainan mencari teman dengan suara hewan. Selain itu, kami belajar bersosialisasi dengan Keluarga Besar PII melalui kegiatan wawancara yang kemudian disusun menjadi makalah dan dipresentasikan pada hari terakhir.
Kegiatan LKP PII berakhir bertepatan dengan pergantian tahun. Sebuah penutup yang bermakna, karena tahun baru bukan hanya tentang berganti angka, tetapi tentang memperbarui semangat melalui kegiatan organisasi.














