Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Cerpen

Barakah dalam Setetes Kebaikan

×

Barakah dalam Setetes Kebaikan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Bisma Lingga Wijayanto, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang

Ilham melipat sajadahnya dengan lesu. Matahari belum sepenuhnya terbit, namun gurat kekhawatiran sudah jelas tampak di wajahnya. Setelah menunaikan salat Subuh di masjid kecil di pinggiran kota, hatinya tetap terasa kosong, seolah doanya hanya berlalu begitu saja. Pikirannya dipenuhi tumpukan tagihan sewa kios yang telah jatuh tempo serta modal usaha warung kopi kecilnya yang semakin menipis.

Example 300x600

“Ya Allah, kenapa rezekiku terasa seret sekali? Aku sudah berusaha sekuat tenaga,” bisiknya lirih sambil memandangi deretan mobil mewah yang melintas di jalan raya. Ia membandingkan dirinya dengan tetangga-tetangganya yang tampak sukses. Mereka beribadah, namun seolah rezeki datang tanpa perjuangan seberat yang ia rasakan. Keraguan perlahan menyusup ke dalam hatinya, merusak ketenangan dan kekhusyukan ibadahnya.

Di ambang pintu masjid, ia berpapasan dengan Pak Idris, seorang kakek tua yang bertugas membersihkan masjid. Pak Idris hanya memiliki satu mata dan berjalan agak pincang, tetapi senyumnya tak pernah luntur.

“Selamat pagi, Ilham. Wajahmu tampak muram hari ini. Ada hal berat yang kau pikirkan, Nak?” sapa Pak Idris dengan suara lembut yang menenangkan.

Ilham menghela napas panjang. “Pak Idris, saya iri dengan ketenangan Bapak. Saya beribadah dan bekerja keras, tapi hidup terasa makin sulit. Sementara Bapak, dengan segala keterbatasan, selalu terlihat damai dan bersyukur. Apa rahasianya?”

Pak Idris tertawa pelan, tawanya sejuk seperti embun pagi. Ia meletakkan sapunya dan menatap Ilham.
“Nak, rezeki itu bukan hanya soal uang. Uang mudah habis, tapi barakah itu abadi. Kau sibuk mencari banjir rezeki, padahal yang seharusnya dicari adalah sumbernya. Sumber itu ada di hati, yang terhubung dengan Allah melalui istiqamah dan ikhlas.”

“Istiqamah dalam apa, Pak? Saya sudah salat lima waktu,” tanya Ilham.

“Istiqamah dalam hal-hal kecil—yang sering dianggap remeh, luput dari pandangan manusia, tapi dicatat oleh-Nya,” jawab Pak Idris. “Cari satu amal kecil, yang tak diketahui siapa pun, lalu lakukan setiap hari hanya karena Allah. Itu akan menjadi bekal terkuatmu.”

Mencari Sumber Barakah

Nasihat Pak Idris terus terngiang di benak Ilham. Selama ini ia selalu berfokus pada hal-hal besar: ingin segera memiliki toko besar, bersedekah dalam jumlah besar, dan hidup berkecukupan. Ia lupa bahwa bangunan yang kokoh selalu dimulai dari pondasi yang kuat.

Malam itu, setelah selesai berjualan, Ilham kembali ke masjid. Pandangannya tertuju pada tandon air tempat wudu. Tandon itu sering kotor dan berlumut karena hanya dibersihkan seminggu sekali.

“Ini dia,” gumamnya.

Ia memutuskan untuk menjadikan membersihkan tandon dan keran air wudu sebagai amal rahasia dan istiqamah-nya. Pekerjaan itu kotor, melelahkan, dan nyaris tak terlihat hasilnya. Tak ada yang akan tahu ia melakukannya.

Setiap pukul 03.30 pagi, sebelum azan Subuh berkumandang, Ilham menyelinap ke masjid. Dengan sikat, cairan pembersih, dan niat yang tulus, ia membersihkan lumut, kotoran, serta sisa sabun yang menempel di lantai dan tandon air. Ketika jemaah pertama datang, tempat wudu telah bersih, harum, dan airnya mengalir lancar.

Amal itu tidak serta-merta mengubah kondisi keuangannya. Ia tetap harus berjuang keras menghidupi warung kopinya. Namun ada satu hal yang berubah drastis: hatinya.

Saat salat Subuh, ia tak lagi memikirkan tagihan. Ia lebih fokus pada dzikir dan doa. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali kekhawatiran datang, ia teringat tandon air yang dibersihkannya.
“Aku sudah berbuat baik karena-Mu, ya Allah. Maka aku serahkan urusanku kepada-Mu,” batinnya.
Ketenangan itu menjadi benteng yang membuat beban hidup terasa lebih ringan.

Kekayaan yang Sesungguhnya

Beberapa bulan berlalu. Ilham tetap istiqamah dengan amal rahasianya. Tak seorang pun mengetahuinya, bahkan Pak Idris sekalipun.

Suatu hari, seorang pengusaha properti yang sering salat Subuh di masjid itu mendatangi warung kopi Ilham. Namanya Pak Heru.

“Ilham, saya sudah lama memperhatikan kamu,” ujar Pak Heru sambil menyesap kopi. “Kamu terlihat sangat tenang. Saat menghadapi pelanggan yang sulit pun, kamu tetap sabar. Saya sedang mencari mitra pengelola kantin di proyek pembangunan besar. Saya butuh orang yang jujur, telaten, dan hatinya bersih—bukan sekadar pintar mencari untung. Saya melihat ketenangan itu ada padamu. Apakah kamu tertarik?”

Ilham terdiam. Tawaran itu sungguh di luar dugaan.

“Tapi Pak, saya hanya penjual kopi kecil. Kemampuan saya terbatas,” ujarnya ragu.

Pak Heru tersenyum. “Kemampuan bisa dipelajari, Ilham. Tapi karakter tidak. Entah mengapa, saya yakin ada barakah besar dalam dirimu. Saya percaya kamu orang yang konsisten dan bertanggung jawab, bahkan dalam hal-hal yang tak terlihat.”

Ilham paham betul apa yang dimaksud “hal-hal yang tak terlihat” itu. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima tawaran tersebut. Ia menyadari bahwa rezeki tidak hanya datang dari kepandaian, melainkan dari rahmat dan petunjuk Allah. Barakah dalam amal kecil telah membuka pintu rezeki yang besar.

Sejak saat itu, hidup Ilham berubah—namun sikapnya tidak. Ia tetap bangun sebelum Subuh. Bukan lagi untuk membersihkan tandon air, karena masjid kini memiliki petugas kebersihan tetap, melainkan untuk menunaikan salat malam dan bersedekah secara rutin. Ia juga mempekerjakan Pak Idris sebagai pengawas kebersihan di kantin barunya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Adam Mahir Zain, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Putri Syakseiah Mahiraswara, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah…