Blora, PikiranBangsa.co – Dinas Pendidikan Kabupaten Blora menggelar Forum Perangkat Daerah untuk penyusunan RKPD 2027, Kamis (19/2/2026), di Aula Yudistira. Forum ini menjadi ruang sinkronisasi program dan penajaman arah kebijakan pendidikan daerah.
Tiga isu strategis mengemuka, yakni penguatan literasi dan numerasi, penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), serta pencegahan bullying dan diskriminasi. Ketiganya diposisikan sebagai fondasi peningkatan mutu pendidikan.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Nuril Huda, menegaskan pentingnya Gerakan Literasi Sekolah yang terstruktur dan berkelanjutan. “Setiap satuan pendidikan perlu membiasakan membaca 10–15 menit setiap hari sebagai budaya belajar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bahan bacaan harus diperluas. “Literasi tidak hanya buku pelajaran, tetapi juga literatur populer, pengetahuan umum, dan buku keterampilan untuk memperkaya wawasan siswa,” katanya.
Dalam aspek numerasi, pembelajaran diarahkan secara kontekstual dan aplikatif. “Matematika perlu dihadirkan melalui praktik nyata, seperti menghitung luas lahan atau menyusun anggaran kegiatan,” jelasnya.
Pendekatan tersebut diperkuat melalui peningkatan kapasitas guru dengan metode pembelajaran aktif dan media inovatif. “Guru harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna,” tegasnya.
Penanganan ATS dipahami sebagai persoalan multidimensi yang memerlukan kolaborasi lintas sektor. “Sebagian ATS berasal dari kategori belum pernah sekolah dan anak berkebutuhan khusus, sehingga perlu intervensi terarah,” ungkapnya.
Sinergi dilakukan bersama perangkat daerah, termasuk DPRD Kabupaten Blora dan dinas teknis terkait. “Kami juga merencanakan pembentukan Unit Layanan Disabilitas untuk memperkuat pendidikan inklusif,” tambahnya.
Upaya pencegahan bullying diperkuat melalui pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Sekolah (TPPKS) di setiap satuan pendidikan. “Tim ini menjadi mekanisme deteksi dini dan penanganan kasus secara cepat dan tepat,” ujarnya.
Forum turut dihadiri pimpinan perangkat daerah, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan pendidikan. Hadir pula Ketua Satupena Kabupaten Blora serta pimpinan Suara Merdeka sebagai mitra literasi publik.
Ketua Satupena Kabupaten Blora, Gunawan Trihantoro, mengapresiasi forum tersebut sebagai langkah strategis penguatan literasi. “Forum ini penting untuk membangun budaya literasi yang sistematis dan berkelanjutan di sekolah,” katanya.
Ia mengusulkan program Klinik Menulis bagi guru dan siswa. “Tahapannya meliputi pelatihan dasar menulis populer, proses editing dan coaching, hingga publikasi karya,” jelasnya.
Menurutnya, skema tersebut akan melahirkan penulis muda yang produktif dan percaya diri. “Sekolah perlu menjadi ruang lahirnya generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga terampil menulis,” pungkasnya.
Melalui forum ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Blora menegaskan komitmen menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan inklusif. Hasil pembahasan menjadi rujukan penting dalam penyusunan RKPD 2027.


















