Pikiranbangsa.co, Sumenep — Empat pemuda asal Sawah Sumur, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, menggagas sebuah inovasi teknologi untuk membantu mengatasi persoalan lahan pertanian yang jarang difungsikan pada musim kemarau. Mereka adalah Syafriel Haris Nur Halim, Iqbal Wahyudin, Moh. Tamil, dan Dicky Candra.
Berangkat dari kondisi pertanian di Sawah Sumur yang menghadapi keterbatasan pemanfaatan lahan ketika musim kemarau, keempat pemuda tersebut mencoba menghadirkan solusi melalui teknologi penyiraman tanaman otomatis berbasis energi surya. Gagasan tersebut dirancang dengan memanfaatkan panel surya, baterai, pompa air, sensor kelembapan tanah, sensor pH tanah, serta jaringan pipa penyiraman.
Alat yang mereka gagas diberi nama “SolarGrow”, yaitu sistem penyiraman tanaman otomatis yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber daya. Sistem ini dirancang agar mampu membaca tingkat kelembapan tanah dan mengaktifkan pompa ketika tanah membutuhkan air. Selain itu, sensor pH digunakan untuk membantu memantau kondisi tanah sehingga pengelolaan lahan dapat dilakukan berdasarkan data.
Gagasan tersebut muncul dari keinginan untuk melihat lahan pertanian di Sawah Sumur tetap memiliki fungsi produktif meskipun memasuki musim kemarau. Bagi keempat pemuda tersebut, keterbatasan air dan kondisi musim tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mencari cara agar lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
“Kami ingin mencoba menghadirkan solusi yang sederhana tetapi bisa dikembangkan. Teknologi ini kami rancang agar nantinya dapat membantu penyiraman tanaman secara otomatis dengan memanfaatkan energi matahari,” menjadi semangat yang mendasari gagasan keempat pemuda tersebut.
Saat ini, SolarGrow masih berada pada tahap perancangan dan simulasi alat. Sejumlah komponen seperti panel surya, baterai, ESP32, sensor kelembapan tanah, sensor pH, pompa air, pipa, dan perlengkapan pendukung lainnya masih perlu dipersiapkan. Karena itu, mereka masih mengumpulkan biaya untuk membuat simulasi awal sekaligus menguji apakah sistem tersebut dapat bekerja sesuai dengan rancangan.
Keempat pemuda tersebut menargetkan Januari 2027 sebagai waktu penyelesaian prototype awal SolarGrow. Target tersebut mencakup penyelesaian rangkaian elektronik, pemrograman sistem, pemasangan pompa dan pipa, hingga pengujian penyiraman secara langsung.
Setelah prototype berhasil dibuat dan diuji, mereka berharap teknologi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan pada lahan pertanian di Sawah Sumur, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep. Penerapan nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam memanfaatkan lahan pertanian pada musim kemarau dengan pendekatan teknologi dan energi terbarukan.
Gagasan tersebut juga menjadi bentuk keterlibatan anak muda dalam melihat persoalan di lingkungan sekitar dan mencoba mencari solusi melalui kemampuan serta kreativitas yang mereka miliki. Mereka tidak ingin hanya melihat lahan pertanian kurang dimanfaatkan ketika musim kemarau, tetapi mencoba mengambil peran dengan menghadirkan inovasi yang dapat diuji dan dikembangkan bersama.
Dengan semangat tersebut, Syafriel Haris Nur Halim, Iqbal Wahyudin, Moh. Tamil, dan Dicky Candra berharap SolarGrow tidak berhenti sebagai sebuah prototype. Mereka menargetkan alat tersebut dapat menjadi langkah awal menuju pemanfaatan teknologi sederhana dan energi surya untuk mendukung pertanian di Sawah Sumur.
Januari 2027 menjadi target awal mereka untuk mewujudkan alat tersebut secara nyata. Sementara proses pengumpulan biaya, simulasi, perakitan, dan pengujian masih terus dilakukan, keempat pemuda ini berharap gagasan yang mereka mulai dapat berkembang menjadi solusi yang benar-benar bermanfaat bagi pertanian dan masyarakat Sawah Sumur.


















