Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Esai

Free Palestine dan Sunyinya Suara Rakyat

×

Free Palestine dan Sunyinya Suara Rakyat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Firly Najwa Salsabela, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Salatiga

Palestina memang sangat membutuhkan suara pembelaan dari seluruh dunia. Apa yang terjadi di sana bukan lagi sekadar persoalan agama, melainkan persoalan rasa dan asa yang seharusnya tertanam jauh di lubuk hati setiap manusia. Genosida yang tak kunjung berhenti, ditambah dengan keterlibatan sejumlah perusahaan yang tanpa belas kasih ikut menyalurkan kepentingannya demi keuntungan semata, menjadi bukti bahwa rasa kemanusiaan perlahan terkikis. Di manakah rasa dan asa itu kini? Apakah telah tenggelam, atau justru sengaja dibutakan? Kita—kami—tidak pernah benar-benar tahu.

Example 300x600

Namun tulisan ini bukan semata tentang Palestina, dan bukan pula hanya tentang genosida. Ini adalah tentang ketamakan yang merenggut rasa dan asa manusia. Bumi pertiwi ini telah rusak, rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan enggan melihat rakyatnya sendiri menahan lapar demi memenuhi kewajiban pajak. Betapa sering suara kami, rakyat kecil, dibungkam dengan dalih narasi #FreePalestine. Betapa sering pula kekuasaan menggelontorkan harta hanya untuk membayar buzzer media, agar ketamakan itu semakin tersamarkan.

Di mana fungsi media yang sejatinya menjadi penyampai kebenaran, ketika justru digunakan untuk membungkam? Apakah label #FreePalestine masih murni sebuah solidaritas, atau telah menjadi alat untuk mengalihkan perhatian dan membungkam suara lain? Jangan biasakan diri untuk buta terhadap kenyataan. Kita tahu, dan kita akan merasakan dampaknya kelak.

Prinsip dasar demokrasi di bumi pertiwi menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Namun rakyat yang mana? Suara pembelaan rakyat terus diredam. Media seolah menyebut ini sebagai kebebasan berekspresi, padahal kenyataannya mereka tidak benar-benar menyangkal apa yang terjadi di negeri ini. Pembelaan kami dibungkam, kami dibiarkan buta, disuapi janji-janji yang berulang kali diingkari. Ironisnya, kami terus dipaksa percaya. Lalu, di mana wujud kedaulatan rakyat itu? Masihkah berlaku, atau hanya sekadar jargon kosong? Kita—kami—juga belum tahu jawabannya.

Negeri ini telah lama terluka. Tidak ada yang benar-benar berani membenarkannya. Sosok-sosok tikus berdasi terus berkuasa, sementara rakyat kecil terus mengemis untuk sekadar sepiring nasi. Lihatlah kami—para tikus berdasi—jangan membutakan diri. Negeri ini kehilangan figur pemimpin yang layak dianut. Yang tersisa hanyalah penantian: menunggu satu per satu dari kami pergi, mencari asa yang lebih menjanjikan di tempat lain.

Jangan bungkam kami. Jangan berpura-pura buta. Kami lebih dari tahu kebenaran itu. Namun suara kami sebagai rakyat kecil tak pernah benar-benar didengar, meski kami memahami hakikat kedaulatan.

Lantas, janji mana lagi yang harus kami paksa diri untuk percayai? Pemimpin seperti apa yang seharusnya kami anut? Dan bagaimana jika masih begitu banyak cela yang belum kami ketahui? Kita—kami—tidak pernah benar-benar tahu.

Tulisan ini ditutup dengan harapan. Harapan atas keberlanjutan negeri ini. Harapan pada janji yang akhirnya ditepati. Harapan pada kepemimpinan yang jelas dan berpihak. Rasa cinta kami terhadap negeri ini begitu besar—bahkan lebih besar dari seberapa sering suara kami dibungkam.

Mari terus bersuara. Bukan hanya untuk Palestina, tetapi juga untuk negeri kita sendiri, Indonesia. Jangan buta. Jangan acuh. Negeri ini membutuhkan sosok-sosok pemberani yang peduli dan terus menyuarakan kebenaran. Hidupkan kembali suara yang dahulu melahirkan kemerdekaan, agar mereka yang telah gugur dapat damai dalam anumertanya. Wujudkan cita dan asa yang ada—dan jangan pernah berhenti bersuara.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *