Oleh: Ahmad Yusron Chasani, Mahasiswa UIN Salatiga
Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga kembali menyedot perhatian. Ia mengisi kuliah umum, berdialog dengan mahasiswa, dan tampil dengan gaya komunikasi yang cair serta minim jarak. Namun yang membuat kunjungan ini layak dicermati lebih dalam bukan semata isi acaranya, melainkan konteksnya adalah kunjungan ketiga Gibran ke Salatiga dalam waktu kurang dari empat bulan.
Frekuensi tersebut mengubah makna kehadiran. Salatiga tidak lagi tampil sebagai kota kampus yang kebetulan dikunjungi, melainkan sebagai ruang sosial yang secara sadar dirawat, memang ada niat tertentu. Dalam politik, kehadiran yang berulang adalah sinyal. Ia membangun familiaritas, membentuk persepsi, dan perlahan menanamkan rasa kedekatan terutama di kalangan mahasiswa dan kelas menengah terdidik.
Pilihan UKSW sebagai panggung utama juga bukan tanpa makna. Kampus ini dikenal plural, kritis, dan memiliki populasi mahasiswa dari berbagai wilayah, termasuk sekitar seribu mahasiswa asal Papua. Ketika Gibran berbicara tentang pembangunan Papua, kecerdasan artifisial (AI), dan masa depan sumber daya manusia, pesan yang dibawa tidak sekadar normatif. Ia menyasar audiens yang selama ini sering menjadi penonton, bukan subjek, dalam wacana kekuasaan nasional.
Dampaknya terasa di tingkat lokal. Di ruang-ruang diskusi mahasiswa, kehadiran Gibran memicu percakapan yang lebih intens tentang isu nasional. Sosok wakil presiden tidak lagi dipersepsikan sebagai figur yang nampak jauh dan tak tersentuh, melainkan sebagai aktor politik yang nyata dan berulang hadir. Bagi kota seperti Salatiga, yang identitasnya dibangun lewat dialog dan pendidikan, pola kehadiran semacam ini memiliki daya resonansi yang kuat dan memicu pola berpikir yang kuat.
Namun, di balik topeng komunikatif dan dialogis ini, agaknya tersimpan lapisan agenda politik yang lebih strategis. Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai wilayah dengan loyalitas politik yang mapan, kuat, dan mengakar. Upaya untuk menggeser peta kekuasaan di provinsi ini yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai upaya mengubah “kandang banteng” menjadi “kandang gajah” yang mana bukanlah proyek jangka pendek. Ia membutuhkan kerja simbolik, psikologis, dan sosial yang panjang.
Dalam konteks inilah kunjungan berulang Gibran ke kota-kota seperti Salatiga menemukan relevansinya. Pendekatan kepada kampus, mahasiswa, dan komunitas urban terdidik dapat dibaca sebagai investasi politik jangka panjang. Bukan dalam bentuk kampanye terbuka, melainkan pembentukan persepsi masyarakat tentang kepemimpinan muda, gaya baru berpolitik, dan jarak negara yang dipersempit.
Kunjungan ketiga ini sekaligus menaikkan ekspektasi publik. Di lingkungan kampus yang kritis, dialog yang hangat harus diikuti konsistensi kebijakan. Mahasiswa dan warga Salatiga bukan hanya pendengar, tetapi penilai yang menyimpan ingatan panjang. Mereka akan mengukur apakah intensitas kehadiran ini berbanding lurus dengan manfaat nyata.
Dengan demikian, kunjungan Gibran ke Salatiga tidak bisa dibaca secara tunggal dan mentah. Ia adalah peristiwa sosial, komunikasi politik, sekaligus bagian dari manuver jangka panjang di Jawa Tengah. Kota kecil ini kini menjadi salah satu arena awal pertarungan persepsi apakah gaya politik baru mampu menembus wilayah dengan tradisi lama. Jawabannya tidak akan ditentukan hari ini, tetapi prosesnya jelas telah dimulai. Kita saksikan bersama


















