Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
News

Mandiri Berdikari, Ramadhan dan Penguatan Ekonomi Desa

×

Mandiri Berdikari, Ramadhan dan Penguatan Ekonomi Desa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Blora, PikiranBangsa.co – Dialog Interaktif Ramadhani yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Kabupaten Blora, Sabtu (28/2/2026), berlangsung di Kesekretariatan Bersama Matra dan Satupena Kabupaten Blora. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh penting di Kabupaten Blora.

BLORA — Ramadhan dimaknai sebagai momentum transformasi mental menuju kemandirian ekonomi. Hal itu mengemuka dalam Dialog Interaktif Ramadhani yang digelar Sabtu malam.

Example 300x600

Forum menghadirkan Ir. Siswanto sebagai narasumber utama dan Kusharyadi sebagai narasumber pembanding. Turut hadir Sugirusyono, Gunawan Trihantoro, Sugiyono, serta Sucipto dan tokoh masyarakat lainnya.

Sebagai narasumber utama, Ir. Siswanto menegaskan bahwa kemandirian ekonomi merupakan fondasi dalam membangun mata rantai sosial budaya bangsa. Kemandirian dimaknai sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan tanpa bergantung pada pihak luar.

Menurutnya, pendidikan formal dan non-formal menjadi pilar utama pembentuk pola pikir mandiri. Dari pendidikan lahir kreativitas, inovasi, serta produk barang dan jasa unggulan yang bernilai jual tinggi.

Ia juga menekankan pentingnya kebijakan pemerintah yang menyasar desa sebagai basis penguatan ekonomi. Program kemandirian pedesaan dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi dari level terbawah.

Ir. Siswanto merumuskan empat kunci keberhasilan ekonomi inklusif. Pertama, komunikasi efektif antara pembuat kebijakan dan masyarakat.

Kedua, sosialisasi serta pelatihan berkelanjutan bagi pelaku usaha mikro. Ketiga, komitmen menjalankan aturan secara konsekuen, dan keempat konsistensi pelaksanaan agar program tidak terhenti di tengah jalan.

Sementara itu, sebagai narasumber pembanding, Kusharyadi menyoroti dimensi nilai dan budaya dalam pembangunan ekonomi. Ia menegaskan bahwa penggerak utama kemandirian bukan semata modal materi, melainkan tata nilai hidup masyarakat.

Nilai-nilai seperti guyub rukun, saling percaya, dan etos kerja kolektif disebut sebagai modal sosial fundamental. Masyarakat yang menjunjung kebersamaan diyakini memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat.

“Jika tata nilai hidup tertanam dengan baik, maka sistem ekonomi akan mengikuti. Integritas dan mentalitas pelaku menjadi penentu keberhasilan,” ujarnya dalam forum.

Diskusi juga menyinggung peran generasi Z sebagai motor penggerak masa depan. Generasi yang lahir 1997–2012 dinilai memiliki potensi besar, namun memerlukan teladan serta stimulasi nilai juang melalui pendidikan dan keluarga.

Forum menyimpulkan bahwa Ramadhan mengajarkan disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut diyakini mampu memperkuat rantai budaya dan ekonomi bangsa bila diterapkan secara konsisten.

Dialog ditutup dengan ajakan membangun kemandirian dari diri sendiri. Sinergi nilai, kebijakan, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci menuju kesejahteraan berkelanjutan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *