Oleh: Rabbani Mrwa Aqsho Majida, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah Alam Planet Nufo Rembang asal Tuban
Pagi yang cerah di suatu desa yang bernama Desa Sumberjati yang masih dengan suasana paginya yang diselimuti kabut tipis, dan banyaknya embun yang menempel di pucuk-pucuk padi yang menguning. Desa itu terlihat sangat indah karena diterpa cahaya mata hari pagi yang perlahan menaik dari atas perbukitan, sungai sungai kecil mengalir jernih di samping Desa Sumberjati, dan dipadukan dengan kicauan burung yang sedang terbangt di atas langit-langit biru.
Di Desa Sumberjati itu, tinggal lah seorang remaja yang bernama Rama, ia dikenal sebagai anak yang pendiam tetapi memiliki sifat yang pemberani. Tetapi sejak kecil, Rama sering sekali mendengar cerita tentang Bukit Watu Awan. Sebuah bukit di ujung desa yang konon kata nya menyimpan banyak mata air rahasia, mata air itu dipercaya bisa menyelamatkan desa dari kekeringan panjang. Beberapa minggu ini, Desa Sumberjati mengalami kekeringan, sawah mulai retak, tanah yang mengeras, dan sungai yang biasanya deras kini airnya menyusut, warga mulai cemas, dan kepala desa bahkan mengadakan musyawarah, yang membahas tentang bagaimana cara menyelamatkan hasil panen yang hampir gagal.
Malam hari di Desa Sumberjati, anak yang bernama Rama itu duduk di beranda rumah kayunya, dia memandangi langit yang gelap tanpa tanda-tanda akan turunnya hujan. “Kalo mata air itu benar benar ada, aku harus menemukannya dan menyelamatkan warga desa dari kekeringan ini,” gumamnya dalam hati.
Keesokan pagi nya, tanpa bilang ke siapapun, rama langsung membawa tas kecil berisi bekal dan sebotol air minum, rama berjalan menyusuri pematang sawah, melewati kebun kopi dan ladang jagung, saat mau menuju bukit watu awan.
Perjalanan yang dilalui rama itu tidak mudah, jalur yang ia lewati itu menggunakan jalan setapak, licin, dan semakin menanjak, banyak sekali akar akar pohon yang menjulur keluar seperti jebakan yang sudah disiapkan oleh seseorang. rama juga sesekali mendengar suara ranting patah yang ada di balik semak semak, dan itu membuat jantung nya berdebar tapi rama tetap berpegang teguh kalau dia harus sampai ke bukit watu awan itu, tnpa menghiraukan rasa takutnya.
Di pertengahan perjalanan, rama berdiam cukup lama karena dia mendengar ada yang menyebut nama nya dari belakang, saat dia menengok ke belakang, seketika rama di kagetkan oleh kehadiran teman desa nya, yang bernama putri. Putri ini adalah teman dekat nya rama yang ada di desa, dan ternyata rama saat memulai perjalanan menuju bukit dia tidak sendirian, dia di buntuti oleh putri teman nya itu.
“Kau pikir aku bakal biarin kamu pergi sendirian ke bukit watu awan itu?” kata Putri sambil mengatur nafasnya yang sedari tadi lari untuk mengejar Rama agar tidak tertinggal.
Rama merasa lega, karena yang membuntutinya adalah teman dekat nya “tapi ini bahaya, putri!”
“Lebih berbahaya kalo desa kita kehabisan air,” jawab Putri tegas.
Di tengah obrolan mereka, rama pun mengajak putri, untuk mengobrol sambil jalan. Semakin tinggi jalan yang mereka lewati, kabut semakin tebal, dan udara terasa semakin dingin. Tiba tiba langkah mereka terhenti oleh pandangan yang ada di depan mereka, mereka melihat di depan mereka ada jurang kecil, dengan jembatan tua yang sangat rapuh.
“Kalo jembatan ini patah saat kita lewati, kita bisa jatuh,” bisik Putri dengan wajah cemas.
Rama mencoba menginjak perlahan jembatan yang terbuat dari bambu itu, jembatan itu berdecit keras. Dengan hati hati, dan saling bergandeng tangan agar tidak jatuh, mereka berdua berhasil melewati jembatan itu dengan nafas mereka yang tidak beraturan, tetapi semangat mereka tidak ikut surut juga.
Setelah melewati jembatan itu, mereka menemukan sebuah gua kecil yang tertutup yang tertutup oleh semak semak, saat mereka mendekati gua itu mereka mendengar dari luar ada suara tetesan air.
“Dengar!” kata Putri dengan semangat.
Mereka menyingkirkan semaka semak yang ada di pintu masuk gua, di sana di balik batu besar yang retak, mereka berdua melihat ada aliran air jernih yang tidak pernah mereka lihat sebelum nya. Mata air itu tersembunyi, mengalir tenang namun deras.
Rama tersenyum lebar. “ini dia…”
Namun kekaguman mereka tidak berlangsung lama. Batu besar di atas itu memiliki retakan yang tidak stabil, jika tidak disingkirkan satu persatu gua itu akan runtuh.
“Kita harus membuat aliran kecil agar airnya bisa mengalir keluar,” kata putri.
Dengan alat seadanya yang mereka bawa, mereka menggali jalur kecil dari dalam gua menuju lereng bukit. tangan mereka lecet, pakaian kotor oleh tanah tetapi mereka terus bekerja hingga menjelang sore, perlahan lahan air mulai mengalir ke luar gua, membentuk aliran kecil yang mengarah turun ke desa. Saat mereka memandangi air yang sedang mengalir ke bawah, mereka mendengar gemuruh kecil dari arah gua, dan mereka juga melihat batu yang ada di dalam gua itu bergeser. Rama dan putri pun segera keluar dari gua itu, sebelum bebatuan kecil berjatuhan, dan beruntung nya mereka sudah cukup membuka jalur air yang menuju ke desa.
Air itu terus mengalir, mengikuti lereng, melewati akar akar pohon, hingga akhirnya menyatu dengan sungai kecil di desa.
Beberapa hari kemudian, warga sumberjati dikejutkan oleh pemandangan sungai yang terisi oleh air, dan sawah sawah yang hampir mati kembali basah, tanah retak pun mulai hilang. Kepala desa mencari tahu asal air yang muncul itu, jejak jejak kecil di lereng bukit akhirnya membawa warga pada rama dan putri, awal nya mereka dimarahi karena nekat, namun setelah mengetahui niat dan perjuangan mereka, seluruh warga dibuat haru oleh perjuangan mereka.
“Kalian berdua telah menyelamatkan desa,” kata Pak Kepala Desa dengan mata berkaca kaca.
Sejak saat itu, mata air yang ada di bukit watu awan di beri nama “Tirta Harapan”. Warga bersama-sama membuat saluran air yang lebih kuat dan aman. Kabut pagi di desa sumberjati kini terasa berbeda bukan kabut kekhawatiran melainkan kabut yang menyimpan kisah keberanian dua remaja yang tak tinggal diam saat desanya terancam. Diantara hamparan sawah yang kembali menghijau dan aliran air yang jernih, rama dan putri belajar satu hal penting, yaitu. “Keberanian bukan tentang tidak merasa takut, melainkan tentang bagaimana kita tetap melangkah meski rasa takut yang kita hadapi itu sangat tinggi, dan demi sesuatu yang lebih berharga dari diri sendiri”.


















