Oleh: Yuliana, Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Planet Nufo Rembang
Bulan Desember sering disebut sebagai bulan yang paling padat dan dinamis dalam kehidupan organisasi. Di penghujung tahun ini, banyak sekali kegiatan yang membersamaiku, salah satunya adalah agenda Pelajar Islam Indonesia (PII) berupa Latihan Kepemimpinan Pelajar (LKP). Kegiatan ini dilaksanakan pada 26 Desember 2025 dan berpusat di Semarang. Namun, sebelum sampai pada hari pelaksanaan, aku terlebih dahulu terjerat berbagai lika-liku proses yang menyertainya. Hari demi hari berlalu, semakin mendekati waktu LKP, dan tantangan pun terasa semakin besar. LKP kali ini benar-benar terasa lebih menarik dan berbeda dari sebelumnya.
Perjalanan menuju Semarang begitu mengasyikkan, ramai, dan nyaman. Pemandangan sepanjang jalan terasa permai dan menakjubkan, membuatku menikmati setiap detiknya. Tak lama kemudian, aku pun terlelap dalam tidur singkat sambil bersandar di jendela elf. Ketika waktu salat tiba, kami berhenti di suatu tempat untuk berteduh dan menunaikan salat terlebih dahulu. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan dengan menerobos hujan deras yang mengguyur sepanjang jalan.
Tak terasa, kami akhirnya tiba di lokasi yang telah lama dinanti. Beberapa menit kemudian, proses screening pun dilaksanakan secara bergantian. Suasana saat itu terasa mencekam dan penuh kesiapsiagaan. Di sela-sela kegiatan, kami mulai mendapatkan teman-teman baru, saling mengenal, dan bertukar cerita. Dini hari menyambut kedatangan kami yang baru saja menginjakkan kaki di tanah Semarang dan menghirup udara khasnya.
Dalam lingkup Pelajar Islam Indonesia (PII), kegiatan LKP tidak hanya mencakup Batra saja. Pada kesempatan ini, aku mengikuti kursus Latihan Brigade Tingkat Dasar (LBTD), atau yang biasa disebut Brigade. Mengikuti kursus Brigade sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Namun, keadaan mendorongku untuk mengambil kesempatan tersebut. Ternyata, keputusan itu sama sekali tidak sia-sia. Justru aku mendapatkan banyak pengalaman baru yang berharga dan menantang.
Selama mengikuti LBTD, kami belajar banyak hal, mulai dari menghargai sesama, kedisiplinan, tanggung jawab, kepekaan terhadap orang lain, hingga membentuk jiwa inisiatif yang tinggi. Setiap sesi tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik yang menguji mental, emosi, serta kekompakan tim.
“Gimana rasanya mengikuti LBTD?” tanya salah satu temanku kepada kami semua.
“Seru sih, tapi agak lumayan capek,” jawab kami serempak dengan wajah datar.
“Iya juga, sih,” sahut yang lain.
“Tapi menantang banget, gila,” tambah teman lainnya.
Dari percakapan sederhana itu, kami semua merasakan hal yang sama. Lelah bersama, bercerita bersama, makan bersama, dan saling menyemangati. Dari situlah tumbuh rasa kekeluargaan yang sangat berarti. Sensasi kota Semarang pun terasa istimewa. Pagi hari selalu dimulai dengan cahaya matahari yang menyinari jendela-jendela besar, dinding-dinding putih, serta jalanan yang menyambut hari. Waktu berjalan begitu cepat, membawa kami dari satu hari ke hari berikutnya yang terus kami nantikan.
Di tengah pelaksanaan, kursus Brigade semakin terasa mencekam sekaligus menantang. Sensasinya seolah membangkitkan jiwa-jiwa kepemimpinan yang kokoh. Lokal Brigade hanya berjumlah satu, karena peserta LBTD terbilang sedikit. Awalnya aku sempat bertanya-tanya dalam hati. Namun dugaanku keliru. Meski jumlah peserta terbatas, semangat yang kami miliki justru menghadirkan kejutan luar biasa. Di lapangan, kami menyanyikan mars Brigade bersama-sama sambil berlari kecil dan menepuk tangan, penuh antusias.
Sebagai peserta yang berasal dari Pesantren & Sekolah Alam Planet Nufo, aku merasa tidak terlalu kesulitan dalam beradaptasi dengan berbagai tantangan yang ada, termasuk aktivitas di alam terbuka. Interaksi dengan alam, latihan fisik, serta dinamika kegiatan lapangan bukanlah hal yang asing bagiku. Justru, semua proses itu kunikmati sebagai pengalaman baru yang memperkaya diriku. Setiap lelah, tantangan, dan keterbatasan yang dihadapi terasa menjadi bagian dari pembelajaran yang utuh—mengajarkanku untuk lebih tangguh, peka, dan bersyukur atas setiap proses yang dijalani.
“Kukira yang ikut LBTD bakal sebanyak yang aku bayangkan, ternyata tidak ya?” ujarku dengan wajah lesu.
“Iya, aku juga ngiranya bakal sebanyak cerita-cerita mereka,” sahut temanku cepat.
“Berarti kita keren, sedikit orang tapi tetap semangat,” jawabku santai.
Prittt… prittt… prittt… suara peluit itu menjadi saksi bahwa seluruh agenda berjalan dengan lancar. Suara tersebut sudah menjadi kode dan panggilan yang diterapkan sejak awal kegiatan. Dari sanalah kami bergelut dengan waktu dan keadaan, membentuk kader-kader yang militan dan siap untuk terus melangkah maju.
Hingga tiba di puncak penutupan, kami para peserta dilantik dan kembali menyanyikan mars Brigade di tengah lapangan dengan penuh semangat. Penutupan ini tidak kami jalani sendiri, melainkan dibersamai oleh peserta lain, terutama mereka yang juga mengikuti LBTD. Kota Semarang menjadi saksi sejarah dan kenangan bagiku, menyimpan berbagai rasa—baik kesedihan maupun kebahagiaan—yang perlahan menyatu dengan sekitar.
Dari seluruh pengalaman di PII, menurutku LBTD adalah yang paling menantang. Kegiatan ini memberi bekal kepada kader-kadernya untuk bertanggung jawab, menumbuhkan rasa percaya diri, serta menikmati kehidupan di alam. LKP bukan sekadar kegiatan kepemimpinan, melainkan sebuah proses pembentukan karakter yang akan kami bawa dalam perjalanan berorganisasi ke depan.
















