Oleh: Ashila Nayla Alifa Agnis, Siswa Kelas X MA Darul Huda Pamotan, Santri-Murid Planet Nufo Rembang
Aku telah melewati perjalanan yang melelahkan itu. Aku telah melalui masa adaptasi yang penuh penyesuaian. Aku juga telah menapaki jenjang pelatihan yang sarat tantangan. Dan inilah kilas balik singkatku, di tengah orang-orang hebat.
Leadership Intermediate Training—pelatihan kepemimpinan yang bisa dianggap sebagai level dua setelah Leadership Basic Training yang wajib diselesaikan terlebih dahulu. Pelatihan ini jelas tidak semudah ketika menempuh level dasar. Level naik, maka tingkat kerumitan pun ikut meningkat.
Dimulai dari persyaratan yang jauh lebih rumit, keseriusanku benar-benar diuji di sini. Seberapa besar tekadku untuk mengikuti pelatihan ini? Seberapa sanggup aku meluangkan waktu untuk menyelesaikan tiga persyaratan yang, jujur saja, sangat bukan tipiku? Terlebih lagi, aku baru mulai mempersiapkannya beberapa hari sebelum keberangkatan, di tengah kesibukan organisasi pondok, serta wirausaha yang sulit untuk ditinggalkan.
Pikiranku kacau. Membagi waktu antara persiapan persyaratan, kepengurusan pondok, bahkan untuk diri sendiri saja terasa sulit. Ya, itulah lika-liku yang kuhadapi sebelum berangkat ke lokasi.
Pada 26 Desember 2025, aku akhirnya meyakinkan diri dengan segala persyaratan yang membingungkan itu. Entah bagaimana hasil screening nantinya, yang terpenting saat itu mentalku aman terlebih dahulu. Pukul 13.45, kendaraan yang menjemput kami tiba. Kala itu, Nufo tengah diguyur hujan yang cukup deras.
Pukul 19.00, kami tiba di Kota Semarang. Tepatnya di SD Ma’had Islam, yang lokasinya tidak jauh dari Pasar Johar dan Kota Lama—sebuah lokasi yang strategis. Setibanya di sana, kami—rombongan dari Rembang—melepas penat sejenak sebelum makan malam. There’s nice facility, give applause to PD Semarang. Ruangannya nyaman dan aman, konsumsi pun nice.
Malam itu, teman-teman Latihan Brigade Tingkat Dasar (LBTD) dipanggil untuk mengikuti screening. Aku berharap yang terbaik untuk mereka, karena aku telah banyak mendengar cerita tentang kegiatan LBTD. Tak lama kemudian, peserta Intra (Intermediate Training) diinformasikan untuk melakukan screening malam itu juga. Saat itu, jam menunjukkan pukul 20.30. Demi menyingkat waktu keesokan harinya, aku memutuskan untuk mencicil screening-ku.
Malam pertamaku di sana berakhir pada pukul 00.30. Ternyata, screening tersebut tidak semudah yang kubayangkan. Pikiranku pun semakin kalut.Singkat cerita, forum resmi dimulai pada malam 27 Desember 2025. Ternyata, lokasi forum Intra tidak berada di gedung yang sama dengan kegiatan lainnya. Tempat kami berjarak beberapa rumah dari SD Ma’had Islam, dan untuk menuju ke sana membutuhkan waktu tersendiri.
Selama forum, khususnya pada jam-jam malam, rasa kantuk terus menyelimutiku. Tak jarang aku tertidur di dalam lokal (sebutan untuk kelas). Aku hampir selalu mengantuk saat materi disampaikan, tetapi langsung terjaga penuh ketika permainan dimulai.
Walaupun materi Intra terasa lebih sulit dibandingkan Batra, permainan yang diberikan justru lebih asyik dan membekas. Selama kegiatan, kami mendapatkan dua permainan sebagai selingan dari forum yang terkadang terasa sedikit boring. Salah satunya dilakukan bersama pada malam hari oleh dua lokal, dan satunya lagi dilakukan di lokal masing-masing. Kedua permainan tersebut tentu berkaitan erat dengan materi yang baru saja disampaikan oleh instruktur (mentor).
Bahkan, di akhir permainan yang dilakukan di lokal masing-masing, pemenangnya mendapatkan sebuah misi yang cukup menantang. Ingin tahu permainan dan misi apa yang kami dapatkan? Silakan mengikuti kegiatan Intermediate Training.
Di Intra, kami diajarkan untuk “makan sendiri atau makan dari tangan teman”. Artinya, bukan lagi instruktur yang terus-menerus menjawab pertanyaan peserta. Kami dituntut untuk mencari jawaban sendiri—baik melalui teman maupun senior dalam organisasi.
Aku termasuk tipe orang yang sulit bergaul dan tidak mudah mendapatkan teman. Ternyata, di lokalku, tidak hanya aku yang seperti itu. Kami yang memiliki tipe kepribadian serupa justru banyak dirangkul oleh mereka yang kepribadiannya berbanding terbalik dengan kami. Hingga akhirnya, setelah evaluasi terbuka pertama dilaksanakan, aku mulai mampu membuka diri dan bergabung lebih aktif dengan teman-teman lainnya.
Lokalku terdiri atas 17 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak semua dari kami sebaya. Aku banyak belajar dari mereka yang telah menjalani hidup lebih lama dariku—mereka yang telah menghadapi dunia perkuliahan. Menurutku, pembawaan dan penampilan mahasiswa memang terasa berbeda dibandingkan pelajar sekolah menengah.
Aku menikmati setiap proses selama kegiatan Intra. Susah, senang, kecewa, hingga bahagia—semuanya kulalui. Tentu tidak mudah menyerap materi yang terasa cukup asing bagiku.Pada hari-hari terakhir, sebuah tugas besar diberikan. Kali ini, yang kuhadapi bukan hanya teman satu lokal, tetapi juga masyarakat sekitar. Tantanganku bukan lagi sekadar menyampaikan pendapat di forum, melainkan bagaimana caranya agar aku bisa berguna di kelompok penugasan terakhir, sementara anggota kelompokku adalah mahasiswa dan orang-orang yang sangat ambisius.
Tugas terakhir itu—entahlah bagaimana caraku menyimpulkannya. Lokal dua, lokalku, menutup sekaligus mengawali tahun dengan forum yang hangat. Obrolan ringan bersama instruktur dan observer mengalir hingga forum bubar pada pukul 03.00 dini hari.
Melelahkan, tetapi kenangan itu akan selalu membekas dalam diriku. Tidak semua anggota lokal langsung kembali pada pukul tersebut. Saat itu, aku dan salah satu teman lokalku—yang sama-sama introvert—menjadi orang pertama yang meninggalkan lokasi.
Tepat pada 1 Januari 2026, lokal dua Leadership Intermediate Training meninggalkan ruang lokal. Kami telah menyelesaikan berbagai penugasan, menikmati forum bersama, saling melempar candaan selama enam hari. Dan akhirnya, kami menuntaskan jenjang Intermediate kami.
Jika ingin mengetahui kisah selengkapnya selama kegiatan Intermediate Training, silakan mengikuti Leadership Basic Training terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan Leadership Intermediate Training, untuk merasakan ceritanya secara utuh.














