Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
News

Ngopi Bermisi TIDAR Ciputat Timur, Mengajak Pemuda Melek Politik dari Warung Kopi

×

Ngopi Bermisi TIDAR Ciputat Timur, Mengajak Pemuda Melek Politik dari Warung Kopi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ciputat Timur, PikiranBangsa.co – Diskusi kepemudaan bertajuk “Politik di Sekitar Kita Membaca Realitas Pemuda Hari Ini” digelar di Warkop Jambu 3, Ciputat Timur, Sabtu. Kegiatan yang dikemas dalam tajuk Ngopi Bermisi ini diinisiasi oleh Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Ciputat Timur bersama komunitas Muda Bersabda sebagai ruang literasi politik alternatif bagi generasi muda.

Mengusung konsep diskusi santai di warung kopi, forum ini menghadirkan suasana cair namun tetap substantif. Diskusi diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pemuda komunitas, kalangan akademisi, hingga pelajar.

Example 300x600

Kehadiran lintas kelompokdan generasi ini membuat dialog yang terbangun menjadi lebih dinamis karena mempertemukan perspektif pengalaman lapangan dengan sudut pandang akademik generasi muda.

Hadir sebagai narasumber yakni Muhammad Ali Ridho, S.E selaku Tenaga Ahli Anggota DPR RI, Agus Supadmo, S.E., M.Si selaku Direktur Umum Perseroda PITS Tangerang Selatan, serta Muhammad Hilmi Zuhdi, S.Pd., M.Ag Founder Muda Bersabda. Sementara jalannya diskusi dipandu oleh Nirwan Dwi Putra, S.Pd., M.Ag selaku Ketua PAC TIDAR Ciputat Timur yang bertindak sebagai moderator.

Dalam pemaparannya, Agus Supadmo menekankan bahwa politik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk dalam lingkup keseharian pemuda. Ia menyinggung dinamika politik lokal, mulai dari pengalaman Pilkada awal di Tangerang Selatan hingga pentingnya produktivitas pemuda di lingkungan sosialnya.

Menurutnya, politik merupakan seni meraih kekuasaan yang diperoleh melalui proses demokrasi. Jabatan publik seperti presiden, legislatif, maupun kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat sehingga memiliki kewajiban moral untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat sebagai konstituen.

“Kontribusi pemuda dalam politik bisa dimulai dari banyak pintu. Masuk partai politik, menjadi pemilih aktif dan kritis, hingga menjadi pegiat yang responsif terhadap kebijakan publik,” ujarnya.

Sementara itu, Muhammad Ali Ridho memandang politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan alat atau washilah untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Ia mengutip pemikiran filsuf Yunani, Plato, yang menyebut politik sebagai instrumen untuk mendistribusikan keadilan di tengah masyarakat.

Ridho juga menyoroti fenomena skeptisisme pemuda terhadap partai politik. Namun menurutnya, sikap kritis tersebut tidak boleh berujung pada apatisme.

“Kalau skeptis dengan partai, jangan berhenti. Masih ada ruang seperti sayap kepemudaan partai yang bisa jadi pintu masuk belajar politik dan memahami sistem dari dalam,” jelasnya.

Founder Muda Bersabda, Muhammad Hilmi Zuhdi, menambahkan perspektif mengenai relasi strategis antara pemerintah, partai politik, dan pemuda. Ia menilai politik berperan besar dalam menentukan realitas hidup generasi muda, termasuk dalam isu ketenagakerjaan yang menyangkut jutaan lapangan kerja.

Hilmi memaparkan hasil survei terhadap 49 ribu anak muda yang menunjukkan bahwa banyak keresahan generasi muda belum tersalurkan secara semestinya. Ia juga menyoroti adanya jarak komunikasi antargenerasi, di mana orang tua kerap dianggap “kolot”, sementara anak muda dicap “nyolot”.
Menurutnya, agar mampu berdaya dalam politik, pemuda perlu memiliki tiga modal utama, yakni modal sosial, intelektual, dan finansial. Ketiga modal tersebut menjadi fondasi dalam membangun pengaruh sekaligus keberlanjutan gerakan kepemudaan.

Ia juga mendorong penerapan sistem meritokrasi dalam organisasi maupun partai politik, serta peningkatan partisipasi politik aktif pemuda. Data Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mencatat sekitar 53 persen suara pemuda berkontribusi dalam Pemilu 2019, menunjukkan besarnya kekuatan elektoral generasi muda.

Sebagai moderator, Nirwan Dwi Putra menegaskan pentingnya kehadiran pemuda dalam ruang-ruang politik. Ia menyampaikan bahwa forum seperti Ngopi Bermisi dihadirkan untuk membuka dialog yang lebih inklusif dan membumi.

“Kami mengharapkan kehadiran pemuda dari hiruk pikuknya politik untuk ikut serta berdampak, karena semua kebijakan politik berpengaruh pada sejengkal kehidupan,” ujarnya.
Dari hal tersebut menilai keputusan politik baik di tingkat lokal maupun nasional akan selalu bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari generasi muda, mulai dari pendidikan, lapangan kerja, hingga kesejahteraan sosial.
Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini berjalan dinamis dengan sesi tanya jawab interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan serta pandangan kritis yang disampaikan sepanjang forum.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap ruang-ruang diskusi informal seperti warung kopi dapat menjadi medium efektif dalam menumbuhkan kesadaran politik pemuda. Dari tempat sederhana, percakapan besar tentang masa depan daerah dan bangsa diharapkan terus tumbuh seiring meningkatnya keterlibatan generasi muda dalam demokrasi.

Pewarta: Adipatra Kenaro Wicaksana

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *