Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Boyolali
Suatu hari di Prapatan Bermuda.
Angin berhembus pelan, matahari mulai terbenam. Suasana kota tak lagi damai. Konflik terjadi di mana-mana, salah satunya antara para pelajar dan pejabat setempat.
“Jeb derrr!”
Suara letusan kembang api memecah langit senja. Kembang api itu diarahkan ke kantor pejabat. Para pelajar meluapkan amarah mereka atas dugaan penggelapan dana pendidikan. Di antara mereka ada Ujang, siswa SMK Tadika Mesra Bermuda.
Ujang sangat geram. Dana PIP yang seharusnya ia terima dipotong hingga 60 persen. Bagi Ujang, itu bukan sekadar angka, tapi harapan.
Sore itu, Ujang bersama pelajar lainnya mendatangi kantor pejabat untuk menyampaikan kritik dan saran. Namun, tak satu pun dari mereka didengar. Pintu tertutup rapat, suara mereka dianggap angin lalu.
Malam harinya, Ujang dan teman-temannya merencanakan aksi besar-besaran. Ia mengajak seluruh pelajar yang merasa dirugikan untuk turun ke jalan dan mendatangi kantor pejabat.
Keesokan harinya, pelajar dari berbagai sekolah memadati Prapatan Bermuda. Mereka menuntut pejabat itu turun dari jabatannya. Mereka yakin, uang rakyat yang seharusnya untuk pendidikan telah disalahgunakan.
“Turunkan pejabat kita!” teriak Ujang dengan keras.
Tiba-tiba, polisi melemparkan gas air mata. Kerumunan pun pecah. Para pelajar mencoba meruntuhkan pagar pembatas, tetapi usaha itu sia-sia.
Amarah memuncak. Dalam keadaan kalap, Ujang datang membawa solar berliter-liter. Ia menyiramkannya ke arah kantor dan membakarnya. Tak disadarinya, sebuah mobil polisi melaju ugal-ugalan ke arah kerumunan.
“Brukk!”
Ujang terlempar dan terkapar tak berdaya. Ia dilarikan ke rumah sakit, namun nasib berkata lain. Nyawanya tak tertolong.
Tangis ibunya pecah saat mengetahui Ujang telah tiada. Kejadian itu membekas dalam ingatan para pelajar. Ujang gugur tanpa tanda jasa, tanpa penghargaan, tanpa mahkota.
Ia hanya seorang pelajar biasa yang menuntut keadilan.
Tamat.


















