Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Fiksi Mini

Pecundang Selalu Menang

×

Pecundang Selalu Menang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Hujan baru saja berhenti, meninggalkan bau aspal basah dan suara kendaraan yang berjalan malas. Warung kopi itu tidak ramai, tapi juga tidak benar-benar sepi—tempat yang pas untuk orang-orang yang ingin berdiskusi tanpa harus menang. Bang Kaydin dan Bang Satrio duduk berhadapan, dua cangkir kopi di antara mereka, dan satu topik yang sejak tadi berputar-putar di kepala: tentang menyerah, tentang bertahan, tentang cara manusia menjelaskan kekalahan tanpa pernah menyebut kata kalah.

Bang Satrio menyandarkan punggungnya ke kursi, membaca ulang pesan di gawainya. Ia tidak tertawa, tidak juga mengernyit. Hanya menghela napas pendek, seperti orang yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlabuh.

Example 300x600

“Bang Kotan nyerah,” katanya pelan.
“Katanya capek jadi pengusaha. Susah. Sekarang mau fokus jadi karyawan. Yang aman-aman saja.”

Bang Kaydin berhenti mengaduk kopi. Sendoknya diletakkan perlahan, seolah takut bunyinya terlalu keras.

“Ya wajar,” katanya.
“Manusia itu beda-beda.”

Bang Sat tersenyum tipis. Kalimat itu terdengar familier. Terlalu familier. Kalimat serbaguna, bisa dipakai di hampir semua situasi—terutama saat seseorang ingin terdengar dewasa tanpa harus jujur sepenuhnya.

“Setiap orang punya jalan hidup masing-masing,” lanjut Bang Kay. “Jangan dipaksakan semua harus jadi pengusaha.”

Bang Sat mengangguk pelan. Kata-kata itu benar. Sangat benar. Justru karena terlalu benar, ia sering dipakai sebagai penutup diskusi, bukan pembukanya. Khawatir diuji.

“Bukan soal jalannya, Bang Kay,” kata Bang Sat. “Tapi narasinya. Seolah-olah gagal itu cuma soal beda karakter.”

Bang Kay menyeruput kopi. Kali ini lebih lama.

“Kayak yang ditulis Kahneman itu,” katanya tiba-tiba, santai saja. “Loss aversion.”

Bang Sat mengangkat alisnya sedikit.
Thinking, Fast and Slow?

Bang Kay mengangguk.
“Kehilangan itu rasanya dua kali lebih sakit daripada untung yang setara. Jadi kalah itu bukan cuma rugi hasil, tapi juga nusuk ego.”

Bang Sat tersenyum kecil.
“Makanya orang susah nerima kalah.”

“Iya,” jawab Bang Kay.
“Kalah bikin malu. Bikin marah. Jadi kita cari narasi lain biar nggak terlalu sakit.”

Manusia memang begitu. Ketika kalah, kita jarang bilang kalah. Kita bilang, “Oh, ternyata ini bukan jalanku.” Kalimat yang terdengar bijak, padahal sering kali cuma plester untuk luka harga diri.

Seperti pendukung bola.

MU kalah, maka sejarah treble diungkit. Dibilang sedang fase transisi. Madrid keok, maka Liga Champions dihitung ulang. Dibilang regenerasi. Tidak ada yang benar-benar membahas pertandingan semalam; yang dibahas adalah masa lalu yang tidak bisa dibantah. Tak ada yang bilang: kami kalah hari ini. Yang ada: proses masih panjang.

“Lagipula,” kata Bang Kay, “hidup itu bukan lomba.”

Bang Sat hampir tertawa. Itu kalimat sok bijak lain yang sering muncul setelah lomba selesai dan hasilnya tidak memihak.

“Betul, Bang,” katanya.
“Tapi lucunya, waktu kita menang, hidup langsung terasa kompetisi paling penting sedunia.”

Bang Kay terdiam.

Di luar, langit mulai gelap. Kopi-kopi di meja mereka semakin dingin, seperti ambisi yang lama tidak disentuh.

“Bang Kotan itu dewasa,” lanjut Bang Kay.
“Dia tahu batas dirinya.”

Bang Sat menatap Bang Kay lebih lama.
“Atau dia baru sadar batasnya setelah berkali-kali mentok?”

Bang Kay menghela napas.
“Aku ini dulu aktivis.”

Kalimat itu akhirnya keluar. Bang Sat sudah menunggunya.

“Aktivisme ngajarin aku satu hal,” kata Bang Kay. “Bahwa setiap orang punya peran masing-masing.”

Kalimat itu rapi. Terlalu rapi. Bang Sat tahu, kalimat seperti itu biasanya muncul bukan saat seseorang menang, tapi saat ia sedang berusaha berdamai dengan kekalahan yang belum diakui.

Seperti suporter yang berkata, “Kami klub besar, kami punya sejarah,” tepat setelah papan skor berkata sebaliknya.

Bang Sat menatap Bang Kay lebih lama dari biasanya. Tidak menghakimi, hanya jujur.

“Bang,” katanya pelan, “kadang yang bikin kita kelihatan dewasa bukan karena kita benar… tapi karena kita pintar merapikan alasan.”

Bang Kay menatap cangkir kosong di depannya.

Manusia memang berbeda-beda.
Tapi satu hal sama: tidak ada yang mau disebut pecundang.

Maka pecundang belajar berbicara bijak.
Belajar menyebut kalah sebagai pilihan.
Belajar menyebut menyerah sebagai kesadaran diri. Belajar mengutip teori, sejarah, dan masa lalu—apa pun asal tidak perlu mengaku hari ini.

Bang Sat berdiri, merapikan jaketnya.

“Yang bikin manusia kelihatan kecil bukan kekalahannya, Bang,” katanya sambil melangkah pergi. “Tapi ketidakmampuannya bilang: iya, kali ini gue pecundang.”

Bang Kay tetap duduk.
Sendirian.
Bersama referensi, sejarah, dan kata-kata bijak yang tak lagi terasa menyelamatkan.

Karena pada akhirnya, pecundang bukan mereka yang kalah—melainkan mereka yang terus menang di cerita,
tapi kalah di kenyataan,
dan menolak menyebutnya kekalahan.

Dari buku “Apologia Aktivis Kampret” oleh Mokhamad Abdul Aziz

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fiksi Mini

Oleh: Abyan Altaaf Ibrahim, Santri-Murid SMP Alam Nurul…