Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Cerpen

Pembalasan yang Kejam

×

Pembalasan yang Kejam

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Boyolali

Di sebuah museum tua di daerah Bermuda Ngalor Sitek, suasana siang itu terasa tegang.

Example 300x600

“Hei, kamu! Hati-hati dengan lukisan itu!!” bentak seorang bos dengan nada marah kepada karyawan baru bernama Mauke.

Mauke hanya terdiam. Ia kesal karena merasa apa pun yang ia lakukan selalu dianggap salah. Tak lama kemudian, ia kembali diperintah untuk mengangkat sebuah baju zirah dari abad pertengahan.

Di sisi lain ruangan, CEO museum bernama Ujang sedang berbincang dengan sang bos, Nazna. Percakapan mereka terdengar serius—tentang penggelapan dana museum. Sebenarnya Nazna tidak setuju dengan tindakan itu. Ia memendam dendam karena 60% penghasilan museum diambil oleh Ujang.

Saat Mauke hendak mengantar baju zirah ke bilik neraka—ruangan khusus koleksi gelap—ternyata bilik itu masih tertutup. Akhirnya, ia meletakkan baju zirah tersebut di gudang.

Tanpa disadari Mauke, hari itu ada seorang detektif dan temannya yang sedang berkunjung ke museum. Mereka tertarik untuk mengunjungi bilik neraka. Tiga puluh menit kemudian, bilik itu dibuka dan mereka masuk ke dalamnya. Aura gelap terasa sangat kuat di dalam ruangan.

Pandangan mereka tertuju pada sebuah lukisan berjudul “Pembalasan”. Lukisan itu menggambarkan seorang ksatria dan seekor iblis. Iblis tersebut terlihat tewas dengan pedang tertusuk di lehernya.

“Wah… lukisan ini sangat bermakna,” ucap teman detektif.

Namun saat ia menoleh ke samping, wajahnya langsung pucat. Di hadapannya tergeletak jasad CEO Ujang—mati terbunuh dengan cara yang persis sama seperti di dalam lukisan.

Detektif itu segera melakukan penyelidikan.

“Itu ada CCTV. Kenapa tidak dicek?” ujar teman detektif.

Tak lama kemudian, polisi datang dan ikut menyelidiki kasus tersebut. Saat rekaman CCTV diperiksa, mereka terkejut. Pembunuhnya terlihat mengenakan baju zirah. Karena di dekat jasad korban terdapat tulisan nama “Mauke”, polisi langsung menuduh Mauke sebagai pelaku, apalagi diketahui Mauke sempat kesal kepada Ujang.

Namun detektif merasa ada yang janggal.

Ia kembali meneliti rekaman CCTV dengan lebih teliti. Terlihat jelas bahwa Ujang terkejut ketika menemukan kertas bertuliskan nama “Mauke”. Ia berusaha menghapus tulisan itu, tetapi pulpennya mati. Di kertas tersebut juga terdapat bekas coretan lain yang samar dan sulit terbaca.

Dari situlah detektif menarik kesimpulan.

Pelakunya bukan Mauke.

Detektif langsung menuduh Nazna, sang bos museum—satu-satunya orang yang memahami seni dan makna lukisan tersebut.

Ruangan seketika hening. Semua orang tak percaya bahwa pelakunya adalah sang bos.

“Ya, memang saya yang membunuhnya,” ujar Nazna dengan tenang. “Saya menggunakan baju zirah itu. Saya dendam kepadanya karena dia mengambil 60% dana museum.”

“Lalu kenapa Anda menyamakan pembunuhan ini dengan lukisan itu?” tanya detektif.

Nazna tersenyum tipis.
“Karena maknanya sangat dalam. Di lukisan itu, ksatria membunuh iblis. Namun saat ksatria membunuh iblis, ia sendiri berubah menjadi iblis. Dan sekarang… akulah iblis itu.”

Ia tertawa pelan.

Kasus pun berakhir. Pembunuhnya adalah Nazna, dengan pembunuhan yang kejam dan penuh makna.

Cerpen ini terinspirasi dari Detective Conan Volume 4, File 30–32.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Adam Mahir Zain, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Cerpen

Oleh: Raihan Najibun Nuha Putra Mahen, Santri-Murid SMP…

Cerpen

Oleh: Putri Syakseiah Mahiraswara, Santri-Murid Kelas XI Pesantren-Sekolah…