Oleh: Vinsensius, S.Fil., M.M.*
Dalam dunia pendidikan, kita sudah sangat terbiasa dengan pembagian antara teori dan praktik. Ada kelas yang isinya mendengarkan dosen, membaca buku, dan menghafal konsep. Ada juga kelas praktikum yang menuntut mahasiswa turun langsung, memegang alat, dan mencoba sendiri. Keduanya sering dipisahkan seolah berasal dari dua dunia yang berbeda. Bahkan, tidak jarang teori dianggap lebih bergengsi, lebih pintar, dan lebih “intelektual” dibandingkan praktik.
Cara pandang seperti ini tidak berhenti di ruang kelas. Dalam dunia kerja pun hal yang sama terjadi. Pekerjaan yang mengandalkan analisis, perencanaan, dan rapat sering diposisikan lebih tinggi daripada pekerjaan yang mengandalkan keterampilan tangan dan tenaga. Kita terbiasa membedakan antara pekerja kantoran dan pekerja lapangan, seolah yang satu berpikir sementara yang lain hanya menjalankan. Padahal, tanpa kerja nyata, ide dan rencana tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Yang jarang disadari, cara berpikir ini bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja di zaman modern. Ia punya akar sejarah yang sangat panjang. Jauh sebelum ada sekolah modern, kampus, dan dunia industri seperti sekarang, para pemikir Yunani sudah membicarakan hubungan antara berpikir dan bekerja. Dari sanalah benih pemisahan antara teori dan praktik mulai tumbuh.Dua tokoh penting dalam sejarah ini adalah Plato dan Aristoteles. Pemikiran mereka tentang pengetahuan, pendidikan, dan kehidupan yang baik sangat berpengaruh dalam membentuk cara kita memandang belajar dan bekerja. Meski hidup ribuan tahun lalu, gagasan mereka masih terasa dampaknya hingga hari ini. Tanpa disadari, sistem pendidikan modern banyak mewarisi cara berpikir yang mereka letakkan.
Plato hidup di Athena pada masa penuh kekacauan politik. Kekalahan Athena dalam perang dan runtuhnya kepercayaan terhadap demokrasi membuat Plato resah. Ia melihat bahwa kekacauan terjadi karena manusia terlalu mengikuti kepentingan praktis dan hawa nafsu. Karena itu, Plato menekankan pentingnya akal dan pengetahuan. Menurutnya, masyarakat seharusnya dipimpin oleh orang-orang yang terlatih berpikir mendalam, bukan oleh mereka yang sekadar pandai bertindak.
Bagi Plato, pengetahuan sejati tidak lahir dari pengalaman sehari-hari. Ia percaya bahwa kebenaran sejati berada pada dunia ide, yaitu dunia yang bersifat rasional, tetap, dan tidak berubah. Belajar berarti melatih jiwa agar tidak terjebak pada hal-hal yang tampak oleh indera. Dari sinilah muncul anggapan bahwa berpikir dan merenung lebih luhur daripada kerja fisik. Pandangan ini kemudian ikut membentuk cara pendidikan disusun, dengan teori ditempatkan lebih tinggi daripada praktik.
Gagasan Plato tentang pendidikan juga tercermin dalam Akademia yang ia dirikan. Pendidikan dianggap bertujuan membentuk manusia yang mampu berpikir jernih dan mengendalikan diri. Keterampilan praktis memang diperlukan agar masyarakat berjalan, tetapi tidak dianggap sebagai inti dari pendidikan tinggi. Secara perlahan, pembagian peran antara mereka yang berpikir dan mereka yang bekerja dianggap wajar.
Aristoteles, murid Plato, mencoba membawa pemikiran gurunya lebih dekat ke dunia nyata. Ia berpendapat bahwa manusia belajar melalui pengalaman, pengamatan, dan kebiasaan. Dunia konkret justru menjadi pintu masuk untuk memahami kebenaran. Namun, koreksi ini tidak serta-merta menghapus pemisahan antara teori dan praktik.
Aristoteles tetap membedakan berbagai jenis aktivitas manusia. Ada aktivitas berpikir untuk mencari kebenaran, ada tindakan etis dalam kehidupan bersama, dan ada pula kegiatan menghasilkan sesuatu. Semuanya penting, tetapi tidak memiliki nilai yang sama. Aktivitas berpikir tetap ditempatkan pada posisi paling tinggi karena dianggap berkaitan langsung dengan pencarian makna hidup. Dengan demikian, meskipun lebih realistis daripada Plato, Aristoteles tetap mempertahankan hierarki antara berpikir dan bekerja.
Dari pemikiran kedua tokoh inilah lahir fondasi cara kita memahami pendidikan. Teori ditempatkan sebagai dasar, sementara praktik dipandang sebagai penerapan. Pola ini diwariskan dari zaman ke zaman, mulai dari Yunani Kuno, Romawi, abad pertengahan, hingga universitas modern. Pemisahan antara belajar berpikir dan belajar bekerja pun lama-kelamaan dianggap normal.
Warisan ini masih sangat terasa hingga sekarang. Di sekolah dan perguruan tinggi, mahasiswa sering dianggap belum siap terjun ke dunia nyata sebelum menguasai teori. Pendidikan akademik kerap dipersepsikan lebih bergengsi dibandingkan pendidikan vokasi. Padahal, keduanya sama-sama dibutuhkan oleh masyarakat. Cara kita menilai pendidikan ternyata tidak lepas dari sejarah panjang cara berpikir tentang pengetahuan dan kerja.
Hal yang sama juga terlihat dalam dunia kerja. Pekerjaan yang melibatkan perencanaan dan pengambilan keputusan sering mendapat pengakuan sosial dan ekonomi lebih besar. Sementara itu, pekerjaan yang mengandalkan keterampilan tangan kerap dipandang sebagai pekerjaan kelas dua. Dunia modern, dalam banyak hal, hanya mengganti bentuk luar dari pembagian lama ini.
Masalah muncul ketika pemisahan antara teori dan praktik dijalankan terlalu kaku. Banyak lulusan pendidikan tinggi unggul dalam konsep, tetapi kebingungan ketika menghadapi persoalan nyata. Sebaliknya, banyak pekerja yang sangat terampil secara praktis tidak diberi ruang untuk berpikir dan berinovasi. Ketegangan antara teori dan praktik pun terus berulang sebagai keluhan lama yang belum selesai.
Dengan membaca ulang pemikiran Plato dan Aristoteles secara historis, kita diajak untuk lebih kritis. Gagasan mereka lahir dari konteks sosial yang sangat berbeda dengan dunia hari ini. Karena itu, warisan tersebut tidak harus diterima begitu saja. Pendidikan masa kini justru ditantang untuk mempertemukan teori dan praktik, bukan lagi memisahkannya. Berpikir dan bekerja seharusnya berjalan bersama, saling menguatkan, agar pendidikan benar-benar relevan dengan kehidupan nyata.
*Vinsensius, S.Fil., M.M. berdomisili di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ia merupakan dosen di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. Selain mengajar, ia aktif menulis esai dan opini tentang pendidikan, sosial-budaya, serta refleksi pemikiran filsafat dalam kehidupan sehari-hari di berbagai media daring.


















