Oleh: Said Kosim, seorang penulis, penyair, dan aktivis sosial kelahiran Pekalongan, 22 Desember 2003. Karya-karyanya telah menghiasi berbagai platform media digital.
Dalam serial Naruto Shippuden, pertarungan antara Naruto dan Pain bukan hanya tentang keunggulan fisik, tetapi tentang perbedaan perspektif mengenai keadilan. Keduanya berasal dari latar belakang penderitaan yang serupa sama-sama kehilangan orang yang dicintai. Namun mereka memilih jalan yang berlawanan. Ini menunjukkan bahwa rasa sakit dapat mendorong seseorang menuju keadilan, tetapi bentuk keadilan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita menafsirkan penderitaan tersebut.
Pain percaya bahwa dunia tidak akan pernah memahami perdamaian sejati tanpa mengalami penderitaan yang mendalam. Ia memandang manusia sebagai makhluk yang pelupa dan egois, yang akan terus mengulangi perang dan kekerasan jika mereka tidak mengalami penderitaan yang sama. Oleh karena itu, ia menggunakan penderitaan sebagai instrumen, berusaha membuat semua orang menderita secara sama untuk menciptakan efek jera dan “menenangkan” dunia.
Pandangan Pain mungkin tampak brutal, tetapi jika kita mempertimbangkan konteks hidupnya, pandangan itu masuk akal. Ia tumbuh di tengah perang, kehilangan teman, dan menyaksikan negara-negara kuat terus lolos dari perang, sementara yang lemah terus menderita. Dari pengalaman pahit ini, ia menyimpulkan bahwa keadilan tidak dapat muncul hanya dari diskusi, dialog, atau niat baik. Keadilan membutuhkan paksaan dan rasa takut. Bagi Pain, keadilan adalah sesuatu yang dipaksakan dari atas, bukan hasil dari konsensus kolektif.
Sayangnya, versi keadilan Pain justru melanggengkan siklus kekerasan. Ia ingin mengakhiri kebencian, tetapi caranya adalah dengan menciptakan penderitaan baru. Rasa sakit yang seharusnya menjadi pelajaran malah menjadi alasan untuk menghancurkan orang lain. Dunia mungkin tampak tenang karena rasa takut, tetapi tatanan seperti itu rapuh dan menyimpan kebencian yang dapat meledak kapan saja.
Jika kita mengaitkannya dengan iklim sosial-politik saat ini, pola pikir Pain bukanlah hal yang asing. Kita sering melihat kebijakan atau pendekatan terhadap kekuasaan yang mengandalkan hukuman berat, penindasan, atau pembungkaman, dengan dalih menjaga stabilitas. Ketertiban diprioritaskan, sementara suara para korban dan luka sosial sering dianggap sebagai ancaman. Dalam situasi seperti itu, keadilan tampak lebih seperti alat kontrol daripada ruang untuk penyembuhan.
Sebaliknya, Naruto menawarkan pendekatan yang tampaknya lebih sederhana. Dia tidak menyangkal rasa sakit; sebaliknya, dia sepenuhnya mengakuinya. Dia memahami perasaan kehilangan, penolakan, dan kesepian. Namun, tidak seperti Pain, Naruto menolak menggunakan penderitaan sebagai pembenaran untuk menyakiti orang lain. Dia percaya bahwa rasa sakit seharusnya membuat seseorang lebih berempati dan memahami orang lain, bukan merasa berhak untuk menentukan nasib mereka.
Naruto memilih jalan yang lebih berisiko menuju keadilan. Ia percaya bahwa manusia dapat berubah, meskipun kenyataan seringkali mengecewakan. Ia menyadari bahwa pengampunan dan dialog tidak selalu berhasil atau tampak “menentukan.” Tetapi bagi Naruto, keadilan yang manusiawi bukanlah sesuatu yang instan. Keadilan berkembang perlahan, penuh dengan ketidakpastian, dan seringkali menyakitkan bagi mereka yang memilihnya.
Pendekatan ini juga relevan dengan diskusi sosial saat ini, seperti dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia, konflik sosial, atau polarisasi politik. Jalan dialog, rekonsiliasi, dan pengakuan luka sering dianggap terlalu idealis atau kurang menentukan. Namun, tanpa upaya untuk memahami akar masalah dan penderitaan para korban, keadilan tetap dangkal dan mudah berubah menjadi ketidakadilan baru.
Secara lebih luas, Pain dan Naruto mewakili dua jalan keadilan yang terus berulang dalam kehidupan nyata. Pain mewujudkan keadilan yang keras, cepat, dan memaksa. Naruto mewakili keadilan yang didasarkan pada empati, dialog, dan keberanian untuk menahan diri dari pembalasan. Keduanya berakar dari rasa sakit, tetapi mengarah ke jalan yang sangat berbeda.
Menariknya, Naruto tidak sepenuhnya menyangkal Pain. Ia mengakui bahwa dunia shinobi memang korup dan penuh kemunafikan. Hal ini membuat posisinya terasa lebih realistis. Naruto tidak menjanjikan dunia yang sempurna, tetapi menawarkan pilihan moral: berhenti mewariskan luka kepada generasi berikutnya, meskipun itu berarti menanggung rasa sakit sendirian.
Dari sini, jelas bahwa keadilan bukanlah tentang siapa yang benar, melainkan tentang keputusan etis. Haruskah keadilan dibangun di atas penderitaan dan ketakutan kolektif, atau di atas keberanian untuk memutus siklus balas dendam? Naruto tidak memberikan jawaban pasti, tetapi ia menunjukkan bahwa keadilan tanpa empati dapat dengan mudah berubah menjadi penindasan dengan wajah baru.
Pada akhirnya, pertarungan antara Pain dan Naruto bukan sekadar fiksi, melainkan mencerminkan dilema yang terus kita hadapi sebagai masyarakat. Setiap generasi tampaknya terjebak di persimpangan yang sama: haruskah kita menggunakan rasa sakit sebagai senjata untuk menindas dan mendominasi orang lain, atau haruskah kita menggunakannya sebagai pelajaran untuk memperbaiki perlakuan kita terhadap orang lain. Pendekatan Pain mungkin tampak cepat dan tegas, tetapi membawa risiko signifikan untuk meninggalkan luka yang sama bagi generasi mendatang. Pendekatan Naruto, di sisi lain, terasa lebih lambat, penuh keraguan, dan sering dianggap tidak realistis, tetapi memungkinkan keadilan yang lebih manusiawi dan empatik.
Bagi saya pribadi, pesan terpenting dari konflik ini adalah keberanian untuk memilih. Keadilan tidak pernah muncul begitu saja; keadilan selalu dibentuk oleh pengalaman hidup kita, kepentingan pribadi kita, dan bagaimana kita menafsirkan penderitaan. Pain dan Naruto sama-sama lahir dari rasa sakit yang sama, tetapi keputusan yang mereka buatlah yang pada akhirnya menentukan arah dunia yang ingin mereka bangun. Dalam iklim sosial dan politik saat ini, pertanyaan yang paling relevan bukanlah lagi siapa yang terkuat atau paling benar, melainkan: keadilan macam apa yang bersedia kita perjuangkan, dan luka mana yang berani kita hentikan agar tidak diwariskan ke masa depan.


















