Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Fiksi Mini

Romantisasi Penderitaan

×

Romantisasi Penderitaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Penderitaan sering kali tidak datang dengan teriakan. Ia hadir pelan, duduk rapi di sudut hidup, lalu diberi nama yang terdengar indah. Di negeri ini, kemiskinan jarang disebut sebagai kegagalan. Ia lebih sering dibungkus sebagai ujian, dimaknai sebagai keikhlasan, dan—tanpa disadari—dirayakan. Di situlah romantisasi penderitaan bekerja: ketika luka tidak lagi ditanya sebab dan bagaimana mengobatinya, tetapi diminta untuk disyukuri—pelan-pelan, ia dimatikan.

Pagi itu, warung kopi masih setengah mengantuk. Asap rokok menggantung rendah, aroma kopi murah bercampur suara radio tua. Bang Satrio sudah duduk lebih dulu, menatap jalan seperti sedang menghitung sesuatu yang tak kunjung lunas. Bang Kaydin menyusul, membawa wajah tenang orang yang terlalu sering mendengar kalimat, “yang penting sabar.”

Example 300x600

“Lu pernah kepikiran nggak,” kata Bang Sat pelan, “kenapa kemiskinan di negeri ini sering terdengar seperti pilihan moral?”

Bang Kay mengangkat kepala. “Maksud lu?”

“Dari sisi politik,” lanjut Bang Sat, “jelas ada kemiskinan struktural. Kebijakan, akses pendidikan, lapangan kerja, upah murah—semuanya bikin orang susah naik kelas.”

Bang Kay mengangguk. “Itu bukan rahasia.”

“Tapi masalahnya,” kata Bang Sat, “penderitaan itu bukan dilawan. Justru dirayakan.”

“Dirayakan gimana?” tanya Bang Kay.

“Dikasih narasi,” jawab Bang Sat.
“Dikasih ceramah. Dikasih ayat.”

Ia mencondongkan badan.
“Kalimat-kalimat seperti yang penting ikhlas, yang penting sabar, yang penting kaya hati—itu terdengar mulia, tapi sering dipakai di tempat yang salah.”

Bang Kay tersenyum tipis.
“Kaya itu memang soal hati.”

“Sebagian,” jawab Bang Sat. “Tapi bukan berarti harta harus ditaruh di hati.”

Bang Kay menoleh.
“Maksud lu?”

“Harta itu,” kata Bang Sat pelan, “cukup diletakkan di saku, bukan di hati. Supaya tidak tertaut dengan diri kita.”

Ia berhenti sejenak.
“Kalau harta sudah pindah ke hati, ia jadi identitas. Disentuh sedikit saja, orang merasa diserang.”

Bang Kay mengangguk pelan.

“Tapi jangan salah,” lanjut Bang Sat, “indikator tidak butuh itu bukan tidak punya.”

Bang Kay menatapnya.

“Indikator tidak butuh,” kata Bang Sat, “adalah ketika seseorang mampu memberi. Ketika hartanya keluar untuk orang lain—untuk yang lemah, untuk yang tertinggal.”

Ia menegaskan,
“Bukan tidak punya dan tak ada sumber penghasilan. Itu bukan ghaniyyun. Itu faqir.”

Bang Kay tersenyum pahit.
“Jadi miskin itu bukan soal harta.”

“Tapi soal posisi,” jawab Bang Sat.
“Kalau punya lalu ditahan, itu keterikatan. Kalau tidak punya dan diam, itu kemiskinan.”

Ia melanjutkan,
“Kalau harta di saku, ia mudah dikeluarkan. Mudah diberikan. Tidak ada drama kehilangan, karena sejak awal tidak disimpan di tempat yang salah.”

Bang Kay mengangguk.
“Berarti masalahnya bukan punya atau tidak punya.”

“Tapi di mana menaruhnya,” jawab Bang Sat. “Di hati, atau di saku.”

Ia menambahkan, lebih pelan tapi tajam:
“Yang disimpan di hati akan dipertahankan mati-matian; yang disimpan di saku akan keluar dengan ringan.”

Warung mulai ramai. Gelas berdenting.

“Padahal,” lanjut Bang Sat, “Islam tidak pernah memuliakan kemiskinan.”

“Yang dimuliakan itu kemandirian,” kata Bang Kay.

“Dan kecukupan,” sambung Bang Sat.
“Bukan kekurangan yang dibungkus kesalehan.”

Bang Kay menatap jalan.
“Banyak sahabat Nabi kaya.”

“Dan tidak diminta miskin dulu untuk jadi saleh,” kata Bang Sat. “Abu Bakar, Utsman, Abdurrahman bin Auf—mereka kaya, lalu berderma. Bukan menderita, lalu dipuji.”

Bang Kay tersenyum kecut.
“Sekarang kebalik.”

“Iya,” jawab Bang Sat. “Yang menderita disuruh bangga. Yang nyaman disuruh ceramah.”

Ia berhenti sejenak.
“Dari sisi politik, kemiskinan ini dipelihara oleh sistem.”

Bang Kay mengangguk.
“Upah murah, akses mahal.”

“Dari sisi pemuka agama,” lanjut Bang Sat,
“sebagian justru menikmati keuntungan dari kemiskinan umat.”

Bang Kay menoleh.
“Lu berani ngomong begitu.”

“Karena faktanya ada,” jawab Bang Sat.
“Umat miskin itu patuh. Mudah disuruh sabar. Mudah digerakkan. Mudah diberi harapan akhirat.”

Bang Kay berdiri lebih dulu. Ia merapikan bajunya, menatap Bang Sat sebentar—tatapan orang yang belum sepenuhnya sepakat, tapi tak lagi bisa menolak.

“Berarti,” katanya pelan, “yang harus dilawan bukan iman.”

“Tapi cara kita memahami iman,” jawab Bang Sat. “Terutama ketika iman dipakai untuk menenangkan ketidakadilan.”

Bang Kay pergi. Bang Sat masih duduk. Di luar, hidup terus berjalan—orang bekerja, bertahan, berharap. Sebagian disuruh sabar, sebagian diminta ikhlas. Dan di tengah semua itu, kata kaya terus disempitkan agar penderitaan terlihat wajar.

Mungkin, di situlah akar romantisasi penderitaan bersembunyi: pada kekeliruan kita memahami apa arti kaya itu sendiri. Dalam bahasa Arab, kaya disebut ghaniyyun—tidak butuh. Bukan karena tidak punya, melainkan karena mampu memberi. Bukan karena harta hilang, tetapi karena ia mengalir. Dan selama kekayaan masih diukur dari apa yang disimpan, bukan dari apa yang dilepaskan, penderitaan akan terus disuruh bersyukur—bukan diperjuangkan untuk berakhir.

Dari buku “Apologia Aktivis Kampret” oleh Mokhamad Abdul Aziz

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fiksi Mini

Oleh: Abyan Altaaf Ibrahim, Santri-Murid SMP Alam Nurul…