Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Mimbar Pelajar

Satu Pelatihan, Seribu Kenangan

×

Satu Pelatihan, Seribu Kenangan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Bintang Adly Ardana Luthfi, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Kebumen, Jawa Tengah

Di Pondok Pesantren Alam Nurul Furqon, ketika aku sedang duduk sendirian di depan rumah Abah, aku dihampiri oleh Ketua Umum PK PII Planet NUFO, Alhamana Dafa Akbar. Ia duduk di sampingku dan mulai berbicara.

Example 300x600

“Dly, kamu ikut Batra ya?” tanya Dafa.

“Batra di mana?” jawabku dengan nada lembut.

“Di Semarang, dekat Kota Lama,” ujar Dafa.

“Kapan?” tanyaku lagi.

“Tanggal 27 Desember 2025 sampai 1 Januari 2026.”

“Oke, aku ikut,” jawabku singkat.

Setelah percakapan itu, aku segera menyalakan laptop, membuka Instagram PII Jateng, lalu mengisi angket pendaftaran yang telah disediakan.

Keberangkatan Menuju Semarang

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Jumat, 26 Desember 2025, siang itu setelah salat Jumat, hujan deras mengguyur kawasan pondok. Aku kembali ke kamar untuk mengambil tas yang telah kusiapkan. Aku membawa satu tas besar berisi pakaian bersih dan satu tas kecil berisi sepatu serta perlengkapan mandi.

Aku memeriksa barang bawaanku satu per satu agar tidak ada yang tertinggal.

Minibus datang menjemput peserta LKP Semarang dari NUFO dan parkir di depan Rumah Baru, salah satu bangunan NUFO yang terlihat keren. Karena hujan masih turun deras, sopir bus berteriak lantang kepada para peserta.

“Apakah semua barang sudah dimasukkan ke dalam bagasi?” tanya sopir sambil memegang pintu bus.
“Sudah!” jawab seluruh peserta LKP NUFO serempak.

Saat masuk ke dalam bus, aku berdiri kebingungan, tidak tahu harus duduk di kursi mana. Seketika Hokma memanggilku untuk duduk bersamanya. Tak lama kemudian, bus pun berangkat.

Perjalanan

Di dalam minibus, aku memandangi suasana di luar jendela. Hujan begitu deras hingga jalanan terlihat sepi tanpa kendaraan. Setibanya di Alun-alun Rembang, bus berhenti sejenak. Temanku dari NUFO—Ian, Khanzu, dan Fillah—turun untuk berganti menggunakan bus ekonomi.

Setelah pergantian bus, minibus yang kunaiki kembali melanjutkan perjalanan.

Saat tiba di Kota Pati, aku mulai merasa kedinginan. Aku pun berbicara kepada Hokma.

“Hok, pinjam jaketmu. Aku kedinginan,” pintaku.
“Iya, bentar,” jawab Hokma sambil memberikan jaketnya.

Setelah mengenakan jaket itu, aku merasa lebih nyaman dan aman. Namun di tengah perjalanan, aku mulai merasa mual dan pusing. Aku ingin berbicara kepada sopir, tetapi rasa malu menghantuiku. Akhirnya, aku tertidur di bahu Hokma.

Sesampainya di Kota Kudus, bus berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar. Aku terbangun dengan perasaan bingung. Pandu yang menghampiriku langsung mengajakku salat Asar, dan aku pun ikut bersamanya.

Setelah salat, Pandu mengajakku membeli makanan. Karena aku tidak membawa uang, aku meminjam sedikit dari Hokma untuk membeli air dan roti. Setelah itu, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan menuju SD Ma’had Islam Semarang.

Setibanya di lokasi LKP, aku turun dari bus dan mengambil barang bawaanku dari bagasi. Aku bersama teman-teman berjalan masuk untuk menaruh barang di aula, lalu melaksanakan salat berjamaah.

Sekitar satu jam kemudian, teman-teman yang berangkat menggunakan bus ekonomi pun tiba.

Malam itu, sekitar pukul 20.00 WIB, peserta LKP dari NUFO berkumpul untuk berjalan-jalan ke Kota Lama Semarang. Suasana Kota Lama cukup ramai, dipenuhi remaja Gen Z. Kami menikmati keindahan malam yang terasa begitu hangat dan menyenangkan.

Keesokan harinya, Sabtu, 27 Desember 2025, setelah melaksanakan salat Subuh berjamaah, aku membersihkan diri untuk persiapan acara pembukaan. Acara pembukaan LKP dimulai pukul 08.00 WIB, diisi dengan berbagai sambutan meriah dari PD, PW, dan KB.

Setelah sambutan selesai, acara dilanjutkan dengan seminar bertema “Bijak Literasi di Era 5.0”. Siang harinya, aku menjalani screening DRH dan BTQ. Peserta dibagi ke dalam empat lokal, dan aku tergabung di Lokal Satu bersama teman pondokku, Hokma dan Rantisi.

Malam hari menjadi waktu yang paling berkesan. Instruktur kami mengajukan pertanyaan yang membuat kami berpikir keras.

“Apa tujuan kalian mengikuti LKP ini?” tanya instruktur.
“Mencari rida Allah,” jawab Rantisi.
“Apakah itu tujuan kalian?” tanya instruktur untuk kedua kalinya.
“Mencari ilmu dengan mengharapkan rida Allah,” jawab Dila yang duduk di sampingku.

Setelah perdebatan panjang, kami akhirnya menyusun struktur lokal dengan perumpamaan pesawat dan awaknya. Suasana yang awalnya tegang berubah menjadi penuh canda dan tawa.

Hari-hari berikutnya dipenuhi materi berharga seperti Organisasi, Kenabian, Akidah, Akhlak, dan lainnya. Lokal Satu sudah seperti rumah kedua bagiku—tempat berbagi emosi, canda, dan tawa bersama.

Perpisahan yang Menyedihkan

Hari terakhir pun tiba, Kamis, 1 Januari 2026. Acara penutupan berlangsung begitu cepat, ditutup dengan sesi foto bersama dan penyelesaian RTL.

Perpisahan terasa sangat menyedihkan. Aku tidak pulang bersama rombongan bus Rembang karena harus melihat sekolah SMA yang akan kutempati nanti. Aku berpisah dengan teman-teman Lokal Satu dalam tangis dan pelukan hangat, seolah waktu tak ingin berlalu.

“Sampai berjumpa lagi, teman-teman,” ucapku sebelum melangkah pergi.

Kegiatan Batra ini memberiku pengalaman yang sangat berharga: pelajaran hidup, kasih sayang, serta rasa kekeluargaan yang hangat dan tak akan pernah kulupakan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *