Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
PuisiSastra

Kehampaan dan Harapan

×

Kehampaan dan Harapan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Muhammad Wildan Maulana, Mahasiswa S2 Manajemen Universitas Semarang

Dalam hembusan angin pantai,
Ia renungi kehampaan diri,
Di tepi pantai, ia duduk sendiri,
Sambil menatap gelombang ombak kecil yang datang menghampiri.

Example 300x600

Tanpa disadari,
Dirinya telah berada dalam imajinasi,
Bagaikan mugen tsukuyomi,
Seakan-akan ia terbungkus dalam kepompong yang ternyata itu ilusi,
Terlihat nyata, namun semuanya hanya mimpi.

Tentu itu semua tidak berarti,
Sebab ia tak bisa menjadi diri sendiri,
Dengannya, ia hanya berangan-angan kosong tanpa henti,

Ia berusaha sadar dari diri yang kebingungan,
Dan mulai berjalan di atas tali harapan,
Menjaga keseimbangan yang kian rapuh di tangan,
Langkah demi langkah yang ia tempuh mengecewakan,
Orang-orang yang mencintainya tanpa syarat, tanpa alasan.

“Hidupku, adakah maknanya?” bisiknya lirih,
Saat malam menelan cahaya yang kian letih,
Ia mencoba memperbaiki kerusakan di hatinya,
Namun selalu gagal, selalu sia-sia

Hari-hari berlalu seperti angin,
Berhembus pergi membawa sisa-sisa mimpi yang tertunda,
Ia berharap, namun harapan itu kian sirna,
Ia mencintai, tapi rasa itu kian binasa

Ada bisikan gelap di telinganya,
Seolah-olah menawarkan akhir dari segala tangis yang ada,
Hampir saja ia menyerah, hampir putus asa.

Namun, dari dalam hatinya terdengar gema,
Suara kecil yang memanggil namanya,
Mengingatkan bahwa masih ada kesempatan,
Masih ada perbaikan untuk segala kesalahan dan kekecewaan,

Ia menangis bukan karena kelemahan,
Tapi karena sadar, bahwa hidup adalah perjalanan.
Bukan soal keberhasilan yang terus dibicarakan,
Tapi soal bertahan, walau hati terkoyak di ambang kehancuran

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Cerpen

Oleh: Nada Ichda Silcha, Santri-Murid Kelas VII SMP…