Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Puisi

Ayah Ibu, Kapal Kita Jangan Sampai Karam

×

Ayah Ibu, Kapal Kita Jangan Sampai Karam

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga—penggalan lirik lagu ‘Harta Berharga’ oleh Bunga Citra
Lestari yang merepresentasikan apa itu keluarga. Puisi yang bertema keluarga ini sebagai
bentuk kasih sayang yang diutarakan secara tidak langsung.

Aku, ayah, dan ibu membentuk kapal yang sederhana
yang dibentuk atas dasar cinta dan kayu sebagai badannya
kecil memang, tapi kami dapat berpelukan di dalamnya.

Kami bermula dari aliran air yang mengiring gelombang
dan harapan bermuara di air yang menari-nari kecil oleh angin
serta disambut nyanyian merdu dari burung-burung.

Di dalamnya, pelukan hangat ayah melindungiku
dari benturan angin kencang yang saling beradu kekuatan
lembutnya suara ibu berhasil mengalihkanku
dari bunyi ombak yang berulang.

Aku tak pernah lapar
tangan kasar ayah dan ibu selalu berhasil menangkap ikan-ikan
ternyata saat malam tiba, ayah dan ibu tidak benar-benar tidur
mereka menjagaku dari malam yang penuh kecaman dari alam.

Kami kejar-kejaran dengan pohon-pohon
kami mendayung mereka berpegangan tangan berjajar
ayah, ibu kapal kita akan bermuara.

Oleh: Cindy May Siagian, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jambi, Instagram @la_bel2e

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Enam-lima, bukan hanya angka Bukan pula cerita belaka…

Puisi

Diskresi Tersibak gelora badai hingga menabrak wajah dengan penuh canggung. Kau pun langsung terdiam dibawa bisu oleh sumpah tempat kau bertanya sepenggal kisah Rentetan perjalanan mengelabui makna. Kisah yang semestinya berbahagia di waktu-waktu silam, tapi kau masih saja meronta-ronta seperti kesetanan “Maka, ilhamilah saat kau bersanding,rebahlah jika lelah bersandar, renungkan walau hidup bersendu, tangiskan jika hendak berduka” Di situ kau akan temukan istibdad; berkuasa dalam egosentris, untuk menilai diri sendiri dan menitikkan pikiran atas segala perbuatan-perbuatan dulu yang telah tawar Jika masih begitu dan selamanya engkau tidak berkebyaran dalam gelap. Sinar-sinar hati perlahan redup—gelap menguasai tindakan itu di atas kesalahan Ibarat relung dan jeluk ke bawah tanah; yang kian bertambah silap, yang kian menjadi jati diri namun kewalahan  2025 …

Puisi

Oleh: Atena Hekmata Mellatena, Santri-Murid SMP Alam Nurul…

Puisi

Oleh: Abdul Jazid Al Ghifari, Santri-Murid Kelas XII…

Puisi

​ Oleh: Seleno Juno ​Jangan biarkan pijarnya redup,…